Asap kelabu yang begitu putih membuat mataku begitu perih untuk memandang ke segala penjuru. Begitulah keadaan yang terjadi, desaku dilanda asap tebal yang menyelimuti ruang bumiku. Tiada lagi terlihat senyum mentari pagi dan sorenya. Aku hanya bisa termenung di kursi depan halaman rumahku sembari berpikiran yang tak menentu. Kulihat raut wajah para penjaja kaki lima tak lagi kelihatan kegirangan melainkan kesedihan yang mendalam, melihat dagangannya tiada satu orangpun yang membelinya. Kulirik pula burung-burung yang berterbangan tak lagi terbang dengan indahnya, mereka ditutupi asap tebal yang begitu menutupi mata mereka. Sempat air mata ini berlinang namun terhentikan oleh suara yang mengejutkanku saat itu.
"hei, Vanyo! kok kamu duduk termenung saja, entar kesambet loh!" terdengar suara Jodin yang menghentikan pikiranku yang terlarut cukup jauh dari ambang kesadaran.
"ehh, kamu Jod. Ngagetin aku saja kamu!, aku sengaja duduk sendiri sembari berhayal" lanjutku merespon jodin yang mulai duduk di sampingku.
"ahh, kamu Van hobinya berhayal yang gak jelas, mending kamu ikut aku ke rumah Joki" sela Jodin degan bermaksud mengajakku untuk pergi ke rumah Joki si Bandel Kampung, itu lah gelar yang tepat untuk Joki.
"emang kita mau ngapain ke rumah si Joki, kalau hanya untuk merencanakan hal yang buruk mendingan aku gak ikut deh" jawabku bermaksud menolak ajakan si Jodin.
"Siapa bilang mau merencanakan hal yang buruk, jangan suuzon kenapa sih kamu!. ayolah ikut aku, Cuma sebentar kok." Lanjut Jodin yang mulai memaksa aku untuk tetap pergi bersamanya ke rumah Joki.
Tanpa penundaan apapun aku bersama Jodin pun melangkahkan kaki untuk pergi ke rumah Joki, dengan udara yang begitu kurang bagus, aku dan Jodin seperti tak menghiraukan semua itu. Selama perjalanan ke rumah Joki aku hanya diam membisu begitupun si Jodin. Entah apa yang Jodin pikirkan kulihat raut wajahnya begitu khawatir, namun aku tidak terlalu menghiraukan hal itu. "Mungkin Jodin ada masalah, tapi apa ya..?" Tanyaku dalam hati sembari meneruskan langkah kaki.
Beberapa menit kemudian kami pun sampai tepat di depan rumah Joki, kulihat pintu rumah Joki yang sudah tua dengan warna coklat tua yang dihiasi robekan triplek pada bagian atasnya, tertutup dengan rapi dengan ventilasi udara yang tertutup oleh jaring kawat yang berdiameter kecil. Aku mulai risih akan tutupnya pintu rumah Joki, karena aku pikir Joki tiak berada di rumahnya, hal yang membuat waktuku sia-sia jika datang ke rumah orang yang tidak ada di runahnya, hanya dapat lelahnya saja.
"apa-apaan ini jod..!, kok sepertinya rumah Joki kosong, huff membuang waktu ku saja berjalan ke sini..!" sewotku dengan melampiaskan penyesalan kepada Jodin.
"Mana aku tahu, kalau si joki gak ada di rumah" jawab Jodin yang merespon perkataanku.
Tidak menunggu waktu lama lagi, aku pun pergi dari tempat berdirinya Jodin di depan pintu rumah Joki. Dengan raut wajah yang kusam aku melangkah dengan cepat menuju arah pulang. Jodin pun mengikutiku dari belakang, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, begitupun aku. Waktu yang cukup lama menyita perjalanan pulang walau hanya 10 menit tetapi bagiku itu sudah sangat lama.
Sesampainya di depan halaman rumahku. Jodin pun berhenti sembari berkata "Vann, kamu kenapa sih..? aku perhatikan dari tadi kamu seperti banyak masalah saja.?" Jodin yang mulai bertanya dan membuat aku menjadi malas untuk menjawab pertanyaannya. "eleeh, sok nanyain orang. Padahalkan dia yang punya masalah" kataku dalam hati sambil duduk di kursi halaman depan rumahku. Pertanyaan Jodin tak aku hiraukan, jodin pun kembali duduk disampingku. Hening, hampa begitu lah yang terjadi disaat kami duduk berdua diatas kursi tua itu.
Kejauhan terdengar suara sepeda motor yang berlalu, kulihat pengendaranya memakai Masker berwarna coklat muda. Fikiranku pun terbawa akan beberapa pertanyaan yang membuat aku penasaran akan siapakah orang yang baru saja lewat dan menggunakan masker tersebut. Ketika aku larut dalam suasana di pikiranku terdengar suara jodin yang bermaksud pamit untuk pulang ke rumahnya. Mungkin dia merasa kurang nyaman di dekatku karena aku hanya diam membisu tanpa berbicara sedikitpun dengannya.
