My Silly Boyfriend (Part 2)

3 1 0
                                        

Gessan dan Yoan baru saja pulang dari sekolah. Dugaan Gessan benar, Yoan adalah penolak balanya sebab sejak pagi tadi ia dijemput Yoan dan dia baik-baik saja. Tidak ada luka, atau darah yang mengalir dari tubuh Gessan. Keputusaannya menjadikan Yoan pacarnya ternyata tepat.
"Hei, Gessan" Yoan memanggil gesan pelan.
"Ya?" Gessan menoleh kaget, karena sedang sibuk memikirkan hal yang tidak masuk akal ini.
"Kayaknya ada yang aneh deh, tadi pagi aku tanya Brian dan katanya pacaran itu bukan cuma lebih dari teman," Yoan menjelaskan.
"Oh? memangnya Brian bilang apa sama kamu?" Gessan penasaran.
"Katanya kalau pacaran itu.. pegangan, ciuman, ngedate terus..." Yoan memasang tampang polos.

Gessan terbatuk keras, karena napasnya tertahan sesaat tidak percaya bahwa temannya telah meracuni Yoan yang amat polos.
"Jangan dengerin dia, lagian kita pacaran soalnya kamu penolak bala aku," Gessan berkata datar.
"Eh tapi aku penasaran deh, kok kamu gak mau aku bilang ke teman-teman kalau kita pacaran?" Yoan menampakkan wajah kecewa.
"Jangan gila, asal kamu tahu aja aku juga belum pernah pacaran, terus nanti aku bisa dibully cewek-cewek" Gessan buang muka.
"Oh? jadi aku pacar pertama kamu?" mata Yoan menerawang.
"Iya," Gessan menjawab lirih.

"Gesssan,"
"Apa lagi?" Gessan berdecak karena pacar penolak balanya itu benar-benar cerewet.
"Kalau dilihat-lihat, kamu cantik juga ya," Yoan menatap Gessan.
"Memangnya kenapa?" ketusnya.
"enggak, kata temen-temen sekelas kamu itu cantik, pintar terus keren,"
"Benarkah? aku enggak tahu kalau mereka mikir gitu tentang aku,"
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"sayangnya kamu pendiem, dan aku juga penasaran kenapa kamu gak percaya sama Tuhan" Yoan mengerutkan kening.
"Orangtua aku meninggal kecelakaan di depan mata aku sendiri," Nada Gessan setengah bergetar.

Yoan menatap Gessan tak percaya dan terdiam sambil berasumsi.
"Sekarang kamu puas?" Gessan tersenyum getir.
"Itu pasti takdir, aku.. minta maaf udah nanya-nanya hal kayak gini,"
"Udah biasa,"
"Tapi pelan-pelan pasti kamu akan percaya Tuhan," Yoan tersenyum.
"Enggak mau!" Gessan berlari meninggalkan Yoan.
"kalau kamu gak mau, aku juga gak akan jadi penolak bala kamu!" Yoan berteriak.
"Eh? kamu ngejebak aku ya sekarang?" Gessan menoleh, langkahnya terhenti.
"Aku serius" Yoan berkata teguh, sementara Gessan menimbang-nimbang.
"Baiklah," katanya akhirnya.

Ini hari minggu dan Yoan mengajak Gessan kencan. Gessan tak habis pikir pasti Yoan sudah dijejali berbagai macam hal oleh teman-teman lelakinya. Sampai-sampai dia mengajak Gessan kencan. Toh tapi diturutinya juga permintaan Yoan. Yoan minta ketemuan di Mall dan Gessan menyanggupi. Gessan sudah berada di seberang mall, ia berusaha untuk menyeberang. Ketika Gessan sedang menyeberang, motor yang melaju sangat cepat melaju dari arah kiri membuat Gessan sontak berteriak.
"Yoan. Yoan!!!" Gessan tahu teriakannya itu pasti sia-sia karena mana mungkin lelaki itu menyelamatkannya di saat seperti ini.
Gessan menutup matanya, pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya. Lelaki itu muncul kemudian membawanya menghilang di udara membuat pengendara motor terkaget-kaget.
Gessan melihat Yoan menyelamatkannya, waktu seakan berhenti, dan wajah Yoan terlihat marah, kemudian mereka berdua menghilang dimakan udara. Gessan tahu ini tidak normal.

Mereka tiba-tiba ada di dalam Mall, di sesi yang tersembunyi dan tidak terlihat pengunjung.
"Yoan. Kamu. tadi itu apa?" Gessan melotot tidak percaya, dingin menjalari tubuhnya.
Yoan memeluk Gessan erat, Gessan bingung setengah mati mencoba melepaskan pelukan esnya.
"Yoan? kamu kenapa?" Gessan yakin benar kalau tangan Yoan bergetar.
"Kamu harusnya lebih hati-hati," Yoan berbisik pelan.

"Kamu tahu, seharusnya kamu jemput aku, soalnya kamu penolak bala aku," lirih Gessan.
"Maafin aku, aku tiba-tiba ada keperluan," Yoan menghembuskan napas berat.
"Sekarang kamu tahu kan kenapa aku butuh kamu?" Gessan berbicara dengan nada berat.
"Ya, aku gak akan lepasin kamu lagi,"
"Lepas.. kamu.. kamu dingin banget," Gessan memberontak.
Yoan melepaskan pelukannya dan menatap Gessan yang sudah pucat.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang