Guru Matematikaku (Part 1)

14 1 1
                                        

Namaku Avrantsa, temanku biasa memanggilku Avra.. meskipun aku lebih suka dipanggil Avrantsa saja sebab terdengar lebih feminim. Kali ini aku akan menceritakan sedikit saja kisah hidupku yang menurutku lumayan berkesan! semoga kalian suka. Waktu itu aku masih berusia 13 tahun, aku masih manis dengan seragam putih biruku. Dulu aku sekolah di sekitar jalan Buah Batu, Bandung. Jika kau berjalan sekitar 50 langkah dari supermarket di buah batu kemudian belok ke arah kanan dan berjalan sedikit lagi, kau akan temukan sekolahku! Letaknya tak jauh dari SMA yang menempati posisi ketiga di Bandung, berhadapan dengan SMK juga.

Saat SMP ku habiskan waktuku untuk belajar, apa boleh dikata nilai pelajaran eksakku di bawah standar. Tidak usah kalian bayangkan berapa nilainya, cukup kalian ketahui saja. Nah, dari situlah penderitaanku dimulai. Hari-hari sekolahku yang gemilang dan penuh gairah anak muda aku gunakan untuk belajar Matematika, Fisika, dan Kimia. Aku tidak pernah menyukai les, tentu.. siapa di dunia ini yang senang menghabiskan waktu mereka untuk belajar? tidak ada! Aku tidak pernah sedikit pun melewatkan lesku karena kasihan orangtuaku, bayar les itu mahal, meski saat itu aku masih menginjak bangku SMP aku sudah mengerti kalau uang tidak bisa tumbuh dari pohon.

Jadi ku gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, dan aku tahu bahwa takdir tidak akan memisahkan aku dari orang-orang yang harusnya aku temui. Aku sungguh kurang berilmu saat itu, dan entah takdir apa yang mengikat aku bertemu dengan seorang guru yang sampai saat ini namanya tercetak di hatiku. Nama beliau adalah Senen Suparjo, ia adalah seorang guru matematika dan wakil kepala sekolahku. Tidak banyak yang bisa ku ceritakan padamu tentang beliau. Beliau adalah orang yang sederhana, bijak, memiliki senyuman yang hangat, dan mata yang memantulkan senja. Ia selalu mengingatkan murid-muridnya untuk sembahyang kepada sang pencipta. Beliau adalah orang yang bersahaja.

Entah bagaimana, aku yang sangat benci matematika mendadak cinta mati pada matematika semenjak diajar beliau. Beliau memberikan trik cepat belajar matematika, mengajarkan aku dengan sabar, sampai aku benar-benar mendapat nilai 9 ke atas di rapor matematikaku. Sungguh menyenangkan, meski tetap saja nilai fisika dan kimiaku hanya 80, tapi aku senang melihat nilai 90 selalu berderet dalam pelajaran matematika. Betapa aku berterima kasih kepada beliau telah mendidikku tanpa pamrih. Kemudian terbitlah di hatiku, bahwa beliaulah panutanku. Bapak Senen Suparjo adalah idolaku!

Kemudian di bulan yang berbahagia untuk umat islam, bulan Ramadhan tak ku sangka beliau meninggalkan aku. Dengan janji yang tak sempat terlaksana, yaitu mengantarkanku sampai ke gerbang ujian nasional. Tangisanku tak dapat terbendung. Beliau sempat mengucapkan kata pisah di alam mimpi. Justru itu semakin membuat aku merasa bersalah. Kepergian beliau seperti angin yang berhembus kemudian tak terasa lagi. Yang Maha Kuasa tiba-tiba saja mencabut nyawa seorang guru yang amat dicintai muridnya. Hal itu membuat hatiku tiba-tiba kelam. Pasalnya beliau meninggalkanku yang masih dalam pengajarannya. Bisa apa aku tanpa beliau? sadarlah aku saat itu bahwa selama ini kepintaranku hanya milik Allah SWT dan pemberian Almarhum semata.

Semua murid yang diajarkan oleh almarhum datang pada saat pemakamannya. Aku terdiam lesu mengenakan baju hitam dengan rok renda hitam yang dipadu dengan jeans biru pendek. Aku tidak menangis ketika semua pelayat menangis, namun saat aku melihat Almarhum terbaring dibaluti kain kafan barulah aku menangis. Aku baru sadar bahwa beliau benar-benar meninggalkanku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku ingat terakhir kali beliau mengusap tanganku. Aku ingat beliau selalu membalas candaanku. Semua memori bersama beliau tiba-tiba ke luar seperti deretan alur film yang maju. Aku ingin melihat beliau dikubur, tapi aku tidak kuasa. Aku juga sedih melihat anak-anak yang ditinggalkan beliau. Warisan beliau kepadaku hanyalah berupa ilmu yang sampai saat ini masih ku pakai. Ilmu yang terus mengalir. Setelah itu samar-samar cita-citaku masuk SMA terbaik di Bandung, mungkin itu hanya angan-angan saja.

Begitu lama aku menangis meratapi kepergian almarhum, aku masih belum juga bisa bangkit. Buatku almarhum adalah harapanku untuk bisa mengerjakan soal matematika. Selama sebulan ku pikirkan apa yang seharusnya dilakukan, mulai belajar dari mana, dan.. apa rencana Tuhan merenggut almarhum dari kami semua? Ku pikirkan siang dan malam, makan tak bernafsu, minum pun tak ingat. Aku langsung kurus sepeninggalan almarhum. Seperti biasa upacara dilaksanakan hari senin. Tak begitu ku hiraukan maksud Pembina, bengong saja aku. Pikiranku kosong. Dan tak lama air mata menetes lagi.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang