Keesokan harinya segala kegalauan meliputi diri, mulai dari keinginan berpisah, rasa rindu, dan lain lainnya yang begitu mengganggu, hingga akhirnya aku ingat bahwa esok adalah anniversary kami yang kedua tahun, tepat di malam grand final Kak Danang. Perasaanku bergejolak hebat saat itu antara aku pergi ke jakarta untuk kami, atau aku tenangkan dulu diriku di sini. Dan kegundahan ini memuncak di tengah malam ketika aku gagal memejamkan mata dan justru aku melepaskan tangisku di sana sembari berkata. "Happy anniversary kak, maaf Nia belum bisa jadi pilihan terbaik buat kakak, 2 tahun mungkin cukup untuk mengambil keputusan. Apa pun itu," Hingga akhirnya aku terlelap dalam tangisku, dan tersadar fajar telah menyingsing. Ku sematkan doa untuk Kak Danang usai salat subuh, dan entah apa yang terjadi tiba-tiba ada 4 orang yang tak ku kenal.
"Assalamualaikum, selamat pagi,"
"Waalaikumsalam, iya selamat pagi ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin bertemu dengan Nia Fikri?"
"Iya, saya sendiri. Ada apa ya?"
"Oh, iya Alhamdulillah, sebelumnya perkenalkan kami dari tim kreatif voice asia bermaksud menjemput saudari untuk datang ke panggung grand final nanti malam, kira-kira bagaimana?"
"Aduh gimana ya, saya ada kuliah hari ini lagian saya juga bukan bagian dari acara itu." kataku kepada mereka.
"Tolonglah mbak, ini demi kelancaran acara kami." Jawab mereka. Sempat terbesit di benakku bahwa hal ini pasti ada hubungannya dengan Kak Danang, ah.. Semakin malas lagi aku ketika mereka berucap. "Baiklah, saya akan bersiap-siap." Ada kepuasan dalam hatiku saat melihat air muka mereka berubah menjadi lebih baik.
"Hei, sepagi ini mau ke mana kamu? Dan siapa mereka?" Tanya Nadine kebingungan.
Dengan senyum simpul, ku jelaskan apa yang terjadi dan Nadine pun terlihat bahagia mendengarkan penjelasanku.
"Aku pergi dulu ya, doain." kataku saat ke luar dari kamar kost-ku bersama dengan tim kreatif voice asia.
"All the best buat kalian berdua." doa Nadine, yang mungkin ia maksudkan untukku dan Kak Danang.
Akhirnya kami tiba di jakarta menjelang siang dan segera menuju penginapan tempat aku akan breefing mengenai apa yang akan ku lakukan untuk malam nanti, namun betapa terkejut aku kala aku diberitahu bahwa aku harus membuat sebuah moment 2nd anniversary untuk Kak Danang. "Nanti gini ya, pertama smsnya Danang dulu dibikin kaget lah istilahnya baru nanti kejutkan dengan permainan piano klasik dari Nia, oke ya. Begitu."
Aku berpikir bahwa betapa konyolnya aku meninggalkan matakuliah untuk skenario ini, bagai seonggok upil dalam diri manusia. Oh ya Allah, padahal jauh di lubuk hatiku masih ada sedikit luka terpendam pada Kak Danang namun terpaksa harus ditepis untuk sesaat.. Demi Kak Danang, atau demi kami ya? Entahlah. Banyak hal yang ku pelajari di sana.
"Kak ilham.. Kak ilham, tandatangan bentar dong. Foto kak fotoo.." aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dalam keadaan seperti itu sangat-sangat tidak mungkin berkilah dari kerumunan orang dan aku menyimpulkan sendiri bahwa tindakan ku pada Kak Danang terlalu berlebihan bahkan terkesan bodoh. Kembali kegundahanku melanda hingga jelang acara tiba, namun anehnya tak sedikit pun ku lihat atau ku dengar Kak Danang di sini, ku rasa aku mulai merindukannya.
Meja wardrobe, kostum, make up, dan hal-hal yang asing bagiku menjadi temanku malam ini. Dari backstage aku dengarkan berbagai suara yang ada di panggung hingga aku dengar suara yang tak asing bagiku dan ku yakini itu Kak Danang. Tak lama kemudian aku mendengar percakapan di sana.
"Danang! Wow, yang selalu tampil istimewa." sambut salah seorang mc.
"Terima kasih." Jawab Kak Danang dengan tenangnya.
"Oke, hari ini kita punya sesuatu yang spesial untuk Danang."
"Tahukah kamu bahwa bagiku tak cukup menjawab pertanyaan apa kabar darimu dengan pernyataan baik-baik." Sahut seorang mc membacakan penggalan sms Kak Danang padaku. "Ciyeee.." ku dengar sorak penonton begitu meriah di sana.
"Ada apa dengan ini Danang? Kok kayaknya spesial ya." sahut seorang mc.
"Pake telor sama keju, spesial. Iya Danang?"
"Iya, sangat spesial." ku dengar jawab Kak Danang.
"Kalau boleh tahu, ini untuk siapa?"
"Ini pesan yang saya kirim tempo hari pada... Ya, pacar saya."
"Waw, akhirnya terjawab sudah ya tanda tanya besarnya." sahut seorang mc.
"Wah, Danang lovers envy nih."
"Kalau nggak salah dokter ya pacarnya?"
"Iya, dan alhamdulillah sedang menempuh S2 juga."
"Danang nggak pengen ketemu gitu?"
"Ya pengen lah, tapi belum memungkinkan."
"Serius sama ini? Siapa namanya?"
"Nia, ya sangat serius. Bahkan saya sudah bilang ke orangtua bahwa sepulang dari sini, insya Allah gitu kalau jodoh saya mau minta tolong lamarkan Nia. Dan nggak nyangka gitu bahwa bakalan selama ini ada di sini."
"Wah, Danang lovers makin pupus harapan nih. Berarti udah lama ya nggak ketemu Nia?"
"Lama, udah sekitar 6 bulan."
Sorak sorai di sana semakin ramai, entah apa yang mereka ekspresikan, bahagia atau kecewa atau yang lainnya. Di tengah gemuruh itu, aku muncul dengan permainan piano yang pernah diajarkan Kak Danang kepadaku. Aku lihat bahwa air muka Kak Danang berubah kaget dan memerah dan sorak sorai semakin ramai kala itu. Perasaanku bercampur aduk saat itu antara haru, bahagia, dan lain-lainnya menjadi satu, namun satu yang pasti. Ini adalah anniversary yang begitu indah.
"Nia, ke sini sebentar. Lama nggak ketemu Danang kan?" Tanya seorang mc kepadaku.
"Kamu sibuk apa sekarang?"
"Saya sedang menempuh S2 kedokteran,"
"Wah berarti udah bisa dipanggil dokter,"
"Alhamdulillah,"
"Dia ini mahasiswi termuda di angkatannya dan lulus S1 hanya dalam waktu 3 tahun," Sahut Kak Danang.
"Wah, luar biasa ya,"
"Kalian udah berapa tahun pacaran?"
"Alhamdulillah, udah 2 tahun dan hari ini anniversary yang kedua," Kataku.
"Wah, pas banget ya. Happy anniversary, didoain sama seluruh Indonesia,"
"Berarti haters harus tahu ini, Nia udah kenal Danang lama sebelum sekarang ini bukan seperti yang mereka tuduhkan selama ini,"
"Iya, tapi nggak apa-apa lah. Orang bebas berpendapat," Kataku.
"Ada yang mau disampaikan nggak nih Danang, mumpung ada di sini orangnya,"
"Apa ya, makasih udah datang dan bikin surprise. Sukses buat S2-nya dan I love you," Kata Kak Danang menghadap kepadaku. "Iya, sama-sama. Love you too," Kataku.
"Terima kasih untuk kedatangannya Nia," Kata salah seorang mc.
"Iya, sama-sama," Pembicaraan kami berlanjut di backstage, tidak hanya kami berdua tapi juga teman-teman Kak Danang.
"Jadi kamu yang sering dicertain Danang," Kata Kak Novi.
"Iya, Danang kalau disuruh cerita, kamu mulu yang dicertain," Sahut Kak Irwan.
"Apaa sih kalian," Kata Kak Danang.
"Ya kita maklum deh, orangnya cantik gini," Kata Kak Novi.
Di sana ucapan anniversary datang dari mana-mana, ramai sekali bahkan juga dari social media. Seiring waktu berlalu, aku kembali ke hotel untuk bersiap-siap pulang besok pagi. Keesokan paginya, Kak Danang sudah siap di lobi hotel, dia bilang mau mengantarku sampai ke stasiun, sesampainya di stasiun kami sempat berbincang.
"Hati-hati ya," Kata Kak Danang.
"Iya, kakak juga. Oh iya, hampir lupa, happy anniversary ya,"
"Oh, Iya. Happy anniversary juga sayang,"
"Boleh minta kado?"
"Ha?"
"Kenapa? Nggak boleh ya, nggak apa-apa kok,"
"Bukannya nggak boleh, biasanya alergi sama kado. Iya, mau minta apa?"
"Aku pengen kakak juara 1, oke,"
"Sekalinya minta kado, berat ya,"
"Hehe, nggak apa-apa lah,"
"Insya Allah ya, doain,"
Lambaian tangan Kak Danang mengiringi keberangkatan keretaku menuju Jogjakarta. Sesampainya di sana, aku menuju tempat kost dan disambut oleh Nadine.
"Kamu, cantik banget semaleem.. iihh, happy anniversary ya. Long last,"
"Entar ih, orang belum salam, Assalamualaikum,"
"Eh, iya. Waalaikumsalaam. Hehe, abisnya aku seneng banget lihat kamu semalem,"
"Hihihi, makasih,"
"Eh kamu mau ke mana lagi, siang bolong gini?"
"Mau ke kampus lah, ngejar mata kuliah kemarin,"
"Ya Allah anak ini.. Dasar dokter,"
"Hehe, udah jalan dulu ya. Assalamualaikum,"
Hari-hariku kini ku lalui dengan sks yang kian hari kian padat, hingga aku tak tahu bahwa Kak Danang sudah kembali dari jakarta dan membawakan kado yang aku minta. "Adek maaf ya, kakak nggak bisa ke Jogja. Harus langsung pulang ke karena besok ada acara. Tapi tenang, hadiahnya dibawain kok."
"Oh iya kak nggak apa-apa kok. Alhamdulillah, aku seneng banget, selamat ya kak."
Keesokan paginya aku dikejutkan dengan telepon dari orangtuaku yang ada di malang.
"Assalamualaikum, nduk kamu ada kuliah hari ini?"
"waalaikumsalam, mboten Pak. Ada apa?"
"Pulang sekarang nduk, naik pesawat."
Tak sempat menjawab ada apa, hanya kepanikan yang ada di benakku. Ku lajukan motorku secepat mungkin menuju bandara hanya dengan membawa ponsel dan uang, sesampainya di bandara aku segera berburu tiket tercepat yang bisa ku beli, dan alhamdulillah ku dapatkan pesawat yang akan lepas landas kurang dari lima belas menit lagi. Campur aduk perasaanku, hanya doa yang terpanjat semoga tiada sesuatu yang berbahaya di sana, hingga akhirnya aku tiba di tanah kelahiranku. "Pak jalan blitar ya." ucapku terbata pada seorang tukang becak. Sesampainya di depan rumahku ada 2 buah mobil berjajar, perasaanku semakin tak karuan. Ku langkahkan kakiku yang gemetar dengan penuh harap semoga semua baik-baik saja.
Bersambung
