Taburan bunga yang penuh warna di atas karpet merah, mengisi setiap lorong dan jalan menuju altar. Tempat duduk dan meja yang cantik dengan hiasan sepasang burung merpati bercat emas menanti untuk diduduki. Dan altar yang menanti untuk menjadi saksi diucapnya janji suci telah dihiasi dengan rangkaian bunga yang akan menakjubkan mata yang memandang. Setiap orang yang memandang akan takjub dengan kemegahan dan kemewahan tempat itu. Hari ini adalah hari pernikahan Will dan Rena. Hari ini adalah awal baru bagi mereka. Hari yang akan membawa mereka di kehidupan yang baru. Mengarungi hal yang belum pernah mereka lalui. Kehidupan yang mereka janjikan hanya akan ada satu kali seumur hidup mereka. Hari ini mereka mengucap janji untuk setia sehidup semati di depan para saksi. Janji itu menjadi pengikat dan pintu gerbang untuk mereka. Pengikat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan pintu gerbang yanag akan mengawali langkah mereka, sekali mereka melangkah melalui pintu gerbang itu, maka kehidupan barulah yang akan menanti.
Disaksikan oleh kedua belah keluarga. Acara yang sakral itu berlangsung dengan penuh suka cita. Semua tersenyum, tertawa dan bahagia. Tiada satupun dapat dilihat raut muka sedih di antara para undangan. Hanya kebahagiaan yang Nampak pada hari itu. Di sela salam pemberian selamat di akhir acara pernikahan, Will membisikan sesuatu untuk Rena "hari ini sadar atau tidak kau sadari, aku telah menepati satu janjiku padamu. Dulu aku pernah berjanji untuk membawamu ke tempat yang paling indah, tak terlupa, ramai orang tapi hanya kita yang akan diperhatikan. hari ini lihat lah sekelilingmu, ini adalah tempat itu, tempat yang dulu aku janjikan padamu. Di atas altar ini, hari ini kupenuhi janjiku." Mendengar Will mengucap itu, Rena yang semula tersenyum sembari menjabat tangan para undangan yang memberi selamat, mulai berkaca kaca. Dia melihat ke arah Will, dipandanginya wajah suaminya itu dengan penuh rasa haru dan sayang. Saat Will memalingkan mukannya ke arah Rena. Rena yang sudah sejak tadi melihat ke arah Will, langsung memeluk Will. Dia meneteskan air mata dan berkata "aku sayang kamu, sayang." Tamu undangan yang tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka, hanya tersenyum dan kemudian tertawa. Hari itu berakhir dengan bahagia untuk keluarga dan juga mempelai.
Will dan Rena memilih pulau dewata, sebagai tempat bulan madu. Mereka memilih Bali sebagai tempat bulan madu bukan karena tempat itu indah atau berkesan dalam hubungan mereka, tetapi karena Will bekerja di sana. Dia tidak mendapatkan cuti tidak lebih dari dua hari. Will adalah seorang kepala chef di sebuah hotel bintang lima di bali dia mendapatkan pengetahuan memasak dari ayahnya yang juga pandai memasak sebelum dia mengambil jurusan memasak di perguruan tinggi. Setelah kematian Ibunya, ayah Will hidup seorang diri dan hanya ditemani oleh tukang kebun. Oleh karena itu ayahnyalah yang mengurus kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu kinerjanya sangat dibutuhkan di hotel itu. Semua yang berhubungan dengan tamu restoran hotel, Will lah yang bertanggung jawab. Tetapi untuk bulan madunya menejer memberikan jam kerja yang lebih sedikit selama satu minggu. Oleh karena itu, Will dan Rena menghabiskan waktu mereka berbulan madu di hotel itu.
Selama seminggu Will dan Rena di Hotel itu, Rena benar-benar dijamu bagaikan seorang ratu oleh Will. Candle light Dinner selalu disiapkan Will disela-sela pekerjaannya. Bukan Tenderloin steak atau makanan mewah lain yang dibuat oleh Will untuk Rena. Tetapi sepiring nasi goreng ayam dengan ayam panggang dan sambal trasi yang dibuat oleh Will. Itu semua adalah makan kesukaan dari rena. Mereka adalah pasangan yang berasal dari desa, bukan pasangan mewah yang menghabiskan banyak uang untuk berkencan.
Di malam terakhir mereka menginap di hotel itu, setelah makan malam yang romantis dilewati dengan menatap pemandangan pantai kuta di malam hari yang dipenuhi lampu warna warni dan lampu dari kendaraan yang lewat. Will memberikan sebuah makanan appetizer, satu mangkuk avocado panacoda untuk Rena. Rena sangat menyukai alpukat oleh karena itu Will khusus membuatkan itu untuk Rena. Suap demi suap Rena memakan hidanhgan itu. Sesekali Rena menawari untuk memberikan satu sendok suapan untuk Will tetapi dia menolak "aku membuatkan ini penuh cinta untukmu, jika kamu memberikan walau hanya satu suap padaku, aku akan berpikir bahwa kamu tidak menerima cintaku dan ingin mengembalikan rasa cintaku itu." Itulah kata-kata yang muncul saat Rena mencoba memberikan satu suap hidangan itu pada Will. Sempat rena berpikir kenapa Will berpikiran seperti itu, tapi Rena tak mengindahkan hal itu dan melanjutkan memakan. Setelah hampir setengah mangkuk habis, saat rena mencoba memakan lagi; dia menemukan sesuatu yang aneh di dalam mulutnya. Dia menelan panacoda itu dan mengeluarkan benda aneh dan keras itu dari mulutnya. Dia mengambil benda itu dari mulutnya dan melihat sebuah benda keras berbentuk lingkaran dan bertahtakan berlian di atasnya. Rena kaget melihat benda itu ternyata adalah sebuah cincin berlian.
Dengan wajah bingung untuk bahagia atau heran Rena bertanya pada Will "apa ini sayang? Apa maksud dari semua ini?" dengan nada suara yang bergetar karena masih takjub rena mengajukan pertanyaan itu pada Will. "Ingatkah dulu waktu saat kita berpacaran? Aku dulu memberikanmua sebuah cincin perak, sebagai penanda cerita kita mulai diukir. Saat kita menikah kuberikan kau sebuah cincin emas. Itu sebagai penanda dimulainya sequel kedua hubungan kita yang akan kita arungi bersama. Dan cincin ini, cincin berlian ini adalah babak baru dalam hubungan kita. dari sebuah kesepakatan antara dua orang yang berbeda yang disatukan oleh cinta, kemudian kesepakatan antara dua buah keluarga yang disatukan oleh anak mereka, dan hari ini adalah babak baru yang akan kita mulai sebagai sepasang suami istri yang akan mengarungi hidup yang baru yang kelak akan disatukan oleh sebuah kehidupan baru yaitu anak kita nanti." Jawaban dari Will sudah lebih dari cukup untuk membuat hati Rena menjadi luluh, pikiran yang semula bingung menjadi yakin dan mata yang semula menatap Will dengan sayu menjadi berkaca-kaca. Rena bangkit dari duduknya dan menghampiri Will. Dia duduk di pangkuan Will dan mencium bibir Will. Malam itu mereka habiskan dengan penuh keromantisan ditemani dengan cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela dan angin pantai yang membelai lembut gorden jendela hotel.
