Tak lama, karena Ray tak juga membuka mulut, Kayla menambahkan.
"Tapi Ray. Perlu loe ketahui satu hal. Arka udah punya Catrine. gua mau loe jangan jatuh terlalu dalam. gua gak mau kalau loe harus bersedih kalau pada akhirnya loe gak bisa memiliki Arka. gua gak nyalahin loe karena mencintai pacar orang ataupun adik kelas. gua tau cinta datang tiba-tiba. Tak mengenal siapa yang mencintai dan dicintai. gua cuma mau cinta loe gak membutakan hati loe dengan merusak hubungan mereka suatu hari. Dan gua percaya loe gak kan lakuin itu."
Ray tetap diam. Sebelah tangannya memegang kening kepalanya. Kepalanya terasa berdeyut. Ia menyandarkan kepalanya ke meja. Hati nya terasa ngilu. Setengah tidak percaya, ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia telah menaruh hati pada orang yang salah. Memang tak seharusnya ia menyukai pacar orang. Tapi dia bisa berkata apa kalau ia memang ditakdirkan untuk mencintai Arka. Sekali lagi ia mengerti, memang benar matahari dan hujan tidak akan pernah bersatu. Bagaimana bisa matahari yang selalu bersinar cerah dan menghangatkan, bersatu dengan hujan yang membawa langit mendung dan hawa dingin.
Sejak Ray mengetahui bahwa Arka punya pacar, Ray menjauhinya. Dua bulan berlalu tanpa ada komunikasi di antara keduanya. Ray selalu bersembunyi setiap kali Arka lewat depan kelasnya. Namun, cinta mana yang tidak memberikan rasa rindu kepada lawan jenisnya. Ray masih sering diam-diam mengamati Arka yang sedang latihan paskibra. Terkadang, Ray iri dengan mereka yang ditakdirkan bisa berada didekat Arka. Ia juga ingin bisa melihat senyum Arka dari dekat. Namun, ia juga sudah sangat bersyukur menyadari bahwa ia dan Arka berada dibawah langit yang sama. Bahwa dia masih bisa menikmati indah ciptaan Tuhannya, meskipun dari jauh.
Sementara, Arka masih sibuk mencari-cari Ray yang tak pernah terlihat. Dia memang bukan tidak bertemu sama sekali dengan Ray. Dia masih sering melihatnya ke kantin bersama Kayla. Tapi Arka ingin berbicara dengannya. Melihat senyumnya. Menatapnya langsung. Sedikit banyak, Arka merasa bahwa Ray telah menjauhinya. Tapi ia tidak ingin mengambil pusing mendengar kata hatinya yang tidak penting itu. Dia hanya percaya jika mendengarnya langsung dari Ray.
Di kantin, Ray, Kayla dan Abigail duduk dimeja yang sama untuk makan bersama.
"Eh guys. Tau gak sih?"
"enggak." Jawab Kayla datar.
Sementara Ray hanya tersenyum sambil mengaduk-aduk es tehnya.
"gua tuh kasian tau gak sih sama Arka."
Gerakan Ray mengaduk-aduk teh terhenti.
"Dia tuh sering cerita, kalau pacarnya itu gak peduli sama dia. Masa, kalau Arka nge-chat dia, dia cuma baca. Emangnya Arka tukang Koran apa. Terus, masa pacarnya gak pernah cemburu sama Arka kalau Arka deket cewek lain. Terus lucunya, kalau punya mau tuh gak bisa di tunda. Masa lagi jalan sama Arka, mentang-mentang Arka gak bisa nurutin maunya dia ketempat lain, dia ngeluyur pergi sendiri tanpa ngasi tau Arka. Terus Arka harus nyari sampe setengah jam. Menurut loe semua gimana?" Abigail menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya di ujung ceritanya. Kemudian meminum es tehnya. Lalu Kayla dengan semangat menanggapi,
"Kalau menurut gua ya.. Bayangin deh, cewek mana yang gak pernah cemburu kalau udah sayang sama cowok. Ya kan? cewek kan paling sensitif kalau cowoknya deket cewek lain. Terus kalau egois begitu ya kasian Arka. Intinya cewek kalau sayang itu pasti cemburuan dan gak mau nyusahin pacarnya. Di luar itu di pertanyakan."
Abigail kemudian mengangguk setuju. "gua juga ngerasa begitu sebenarnya Kay. Entahlah. gua cuma berharap Arka bisa selesaikan ni semua. By the way guys, gua ke kelas duluan ya. gua masi belum kelarin catatan bahasa nih. Duluan ya.. bye."
Sesaat setelah Abigail pergi, Kayla mencondongkan badannya sambil berbisik pada Ray,
"Ray, loe denger kan yang Abigail bilang? Pacar Arka gak sayang sama Arka. Sekarang adalah kesempatan loe buat jadi yang lebih baik untuk Arka."
Ray mengerutkan keningnya tidak mengerti dan menjawab,
"Maksud loe apa Kay? Kita kan gak tau hati Catrine gimana. Ini kan Cuma pandangan kita. Lagipun, usaha gua juga tetap bakal sia-sia kalau Arka memang serius cinta sama Catrine, tak peduli apa yang Catrine lakuin. Tapi Kay.." Tenggorokan Ray tercekat. Ia mulai mengatur nafasnya karena suaranya mulai bergetar. "gua jujur, gak terima dengan perlakuan Catrine. Disini gua cuma bisa cintai Arka dalam diam. gua Cuma bisa merhatiin dia dari jauh tanpa bisa menyentuhnya atau merasakan perhatiannya secara langsung. gua gak terima kalau Arka pacaran dengan cewek yang gak serius sayang sama dia. gua takut Arka tersakiti. gua gak mau dia terluka. gua sayang sama dia." Air mata Ray bergulir turun.
Kayla terkejut. Tak biasanya Ray berani menangis di tengah tempat ramai. Setau Kayla, Ray selalu berusaha nyembunyiin rasa sedihnya. Apa kali ini berbeda? Apa mungkin cinta Ray terlalu besar untuk Arka? Mungkin temannya memang sudah tak sanggup menyimpan perasaannya yang terpendam selama dua bulan terakhir ini.
"Loe yang sabar ya Ray. gua tau loe bisa hadapin ini semua. Saran gua, loe jangan jauhin Arka. gua yakin Arka juga butuh loe untuk nemanin dia. Loe tau sendiri, Arka tak mungkin bahagia dengan sikap pacarnya yang seperti itu. Loe harus bisa buat Arka bahagia dengan cara loe Ray." Ucap Kayla setelah membiarkan Ray membenamkan diri dalam tangisnya.
Ray hanyak menunduk dan mengangguk setelah Kayla menghentikan kata-katanya. Tubuh Ray menegang. Ia masih menangis dengan tersedu-sedu. Kayla membiarkannya seperti itu. Karena memang tak ada gunanya menyimpan rasa sedih. Setelah beberapa menit, Ray merasa lebih tenang. Ia mulai mengangkat wajahnya.
"Ray, besok Jumat kan? Berenang yok. Ilangin stress."
"Boleh." Jawab Ray sambil tersenyum.
