My Silly Boyfriend (Part 1)

7 1 0
                                        

Seorang gadis muda, terbangun di antara embun pagi yang bersahaja. Semburat oranye dan kuning Nampak di langit, matahari naik ke atas, menunjukkan pagi telah datang. Nama gadis itu Gessan. Dia hidup bersama Bibinya, tanpa orangtua kandung. Gessan menggerakkan persendian-persendiannya yang kaku setelah bangun tidur. Kemudian ia berderap mengambil handuk dan lekas membersihkan dirinya. Gessan terlambat, dan dia bahkan tidak sempat menyentuh roti panggang buatan Bibinya. Gessan berlari dengan cepat, sementara Bibinya meneriakinya memperdengarkan suara-suara yang Gessan tidak mengerti. Gessan mencapai ambang pintu, dan membukanya, mendapati seorang lelaki yang tersenyum padanya. Sedetik, selintas, Gessan merasa ada aura hitam yang menyingkupi lelaki itu. Tapi Gessan tidak peduli.

"Oh? tamu Bibi? maaf aku buru-buru," Gessan berlalu meninggalkan lelaki yang seumuran dengannya.
Gessan berusia 16 tahun, jadi mungkin lelaki itu juga sama. Saat Gessan sedang berlari dengan sepatu ketsnya lelaki itu tiba-tiba muncul di depannya, membuat Gessan hampir berteriak hebat, tapi teriakannya itu ia simpan jauh di tenggorokannya.
"Apa yang baru saja terjadi. Bagaimana kau bisa..." Gessan menatap lelaki itu tidak percaya.

"Halo, aku.. "
"Aku?" Gessan menatap lelaki itu.
"Namaku Yoan"
"Oh? begitu? Aku tidak peduli Yoan, aku harus berangkat sekolah sekarang jadi pergi dari hadapanku, oke?" Gessan berkata sarkas.
"Tunggu!"
"Apa lagi?" Gessan menoleh.
"Apa kau percaya pada Tuhan?" Lelaki itu bertanya lagi.
"Tidak," Gessan berlalu meninggalkan lelaki itu, dan Yoan berdiri mematung.

Gessan tidak percaya pada Tuhan. Gessan terlalu takut untuk percaya lagi kepada Tuhan, Tuhan telah mengambil nyawa Ibu dan Bapaknya dan Gessan pasti tidak akan memaafkan-Nya. Terlalu sulit untuk Gessan untuk kembali di jalan yang benar, ketika hidupnya sudah hancur berantakan. Gessan menghembuskan napas, mengingat bunyi sirens yang keras, darah yang bercucuran kemudian kepalanya terasa sangat sakit.
"Gessan! Gessan! kamu gak apa-apa?" Teman Gessan, santi menatap Gessan dengan khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja," Gessan tersenyum simpul.
"Dengar-dengar, ada murid baru loh di sekolah ini," Kata temannya yang hobi ngegosip itu.
"Benarkah? siapa namanya?" Gessan mencoba terdengar antusias karena tidak ingin mengecewakan temannya.
"Namanya..."

Sebelum mereka sempat ngobrol, seorang guru dengan perawakan besar, berkumis tebal, dan mata yang memicing masuk ke kelas mereka. Santi meneguk ludahnya sendiri.
"Gess, udah ya, ada Pak Harno nih, dia kan killer banget, aku duduk di belakang ya,"
"Ya deh," Gessan tertawa kecil. Temannya yang satu itu emang gak suka sama Pak Harno, jadi dia udah mengerti. Pak Harno, menatap anak-anak tak berdosa itu dan kemudian menyeringai lebar.
"Hari ini kita ulangan! ambil kertas kalian!" Pak Harno menepuk-nepuk tangannya.

Semua anak sekelas hanya bisa bengong dan buru-buru mencabut kertas dari buku mereka. Gessan meringis karena dia sama sekali tidak belajar semalam, nasib sial sedang menghampirinya. Kemudian datang seorang anak lelaki, kulitnya putih, matanya menerawang, dia adalah lelaki yang rupawan tetapi ada awan hitam yang berkelebat di belakangnya. Semua cewek di kelas Gessan terkesima dan cowok-cowok melontarkan tatapan iri.
"siapa anda? silakan masuk ke kelas," Pak Harno mempersilakan.
"Maaf pak saya anak baru di sini," Yoan tersenyum.
"Ya sudah perkenalkan diri kamu,"
"Baik, halo semua nama saya Yoan, mohon kerjasamanya ya,"

Cewek-cewek di kelas Gessan berteriak hebat. Ada juga yang berbisik, mereka semua menatap Yoan seakan dia cowok terganteng sejagad raya. Gessan melotot tidak percaya.
"Ada pertanyaan untuk Yoan?" Pak Harno bertanya pada murid-muridnya.
Tentu saja, sorak sorai tetap berlanjut dan semua cewek mengacungkan tangan kecuali Gessan.
"Aku hanya menerima satu pertanyaan, dari gadis itu saja," Yoan menunjuk Gessan yang masih melotot padanya. Semua gadis di kelas memicingkan mata pada Gessan. Bertanya-tanya mereka berdua punya hubungan apa.
"Oh? Tidak terima kasih, aku tidak tertarik," Gessan membuang muka.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang