Pagi Tanpa Mentari (Part 2)

6 1 0
                                        

Selama rapat berlangsung semua mata tertuju pada slide yang sudah Lista siapkan, tetapi hanya Awan yang melihat ke arah yang berbeda. Setelah rapat selesai, Awan dan rekan-rakannya pun ke luar dari ruang rapat. Sampai di depan pintu keluar Awan yang ke luar paling belakang menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia memandang ke arah Lista yang sedang sibuk membereskan kertas di atas meja presentasinnya dan berkata "Lista, seperti biasa kamu terlihat sangat cantik dengan rambut diikat." Tanpa menunggu jawaban dari Lista, Awan melanjutkan langkahnya. Lista yang semula sibuk dengan kertasnya terdiam sejenak dan baru menyadari bahwa ternyata Awan juga ada dalam ruang rapat itu bersamannya selama rapat berlangsung. Lista berpikir, kenapa Awan tidak menanyakan kabar terlebih dulu kenapa harus memuji. Tetapi pikiran itu hilang dan dia melanjutkan menata kertas presentasinya.

Satu minggu kemudian, setelah rapat yang diadakan oleh dewan direktur dan jajarannya. Perusahaan tempat Awan bekerja akhirnya mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan perusahaan tempat Lista bekerja. Mendengar itu Awan pun berdiri dan dengan suara yang yakin dia mengajukan diri sebagai orang yang akan bertanggung jawab dengan proyek ini. dengan kinerja Awan yang sudah terbukti, semua jajaran mnyetujui hal itu. Awan pun tersenyum mendengar keputusan itu. Tetapi bukan itu yang membuat Awan tersenyum. Tetapi karena dia akan sering bertemu dengan Lista. Setelah rapat itu, Awan menuju ke kantor Lista untuk mengadakan penandatanganan kontrak. Dia meminta sekretarisnya memberikan kabar bahwa dia akan segera menyetujui perjanjian. Saat dia sampai di kantor Lista dia disambut oleh sekretaris Lista yang mengantarkan Awan langsung ke ruangan Lista. Awan bertemu dengan Lista bersalaman kemudian duduk berhadap-hadapan. Awan senang karena ini adalah jarak terdekat dia bisa berbicara langsung dengan Lista, setelah selama dua tahun terakhir ini dia hanya bisa melihat Lista dari balik jendela.

Lista yang sejak awal memang tidak menaruh hati kepada Awan langsung membuka kertas perjanjian dan persetujuan kontrak. Lista kemudian membacakan syarat dan perjanjian kontrak di depan Awan agar Awan paham tentang isi perjanjian itu. Di tengah tengah Lista membacakan perjanjian kontrak, Awan yang sejak awal hanya memperhatikan Lista berkata "apa kabar?" Lista terhenti sejenak, melihat ke arah Awan dengan pandangan aneh dan melanjutkan membacakan lagi. Tak lama kemudian Awan berkata lagi "bagaimana keadaanmu? Pekerjaanmu? Dan kehidupanmu?" mendengar itu mungkin membuat Lista menjadi sedikit geram. "maaf bapak, bisakah kita bekerja secara professional?" Lista menanggapi perkataan yang dari tadi diucap oleh Awan dan mengganggu Lista. Mendengar itu tidak membuat Awan marah, karena ini bukan kali pertama Lista mengatakan hal yang menyakitkan hatinya. Awan hanya tersenyum dan berkata "kurasa cukup untuk hari ini kau tidak perlu membacanya lagi." Awan mengambil pena dari sakunnya dan menandatangani surat perjanjian itu. "aku menjadwalkan pertemuan ini untuk dua jam kedepan, gunakan waktu itu untuk istirahat. Kamu terlihat pucat dan kelelahan. Selamat siang." Sambil menandatangani surat perjanjian itu Awan mengucapkan kalimat itu dan langsung beranjak pergi. Setelah Awan meninggalkan ruangan, Lista menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Dia berpikir bahwa akan sangat melelahkan untuk bekerja bersama orang yang dulu dia tolak dan mungkin sudah dia benci.

Setelah itu, Awan sering meminta sekretarisnya untuk menjadwalkan pertemuan dengan Lista. Mereka sering melakukan pertemuan di restaurant untuk membicarakan masalah bisnis. Tetapi melihat keadaan Lista dan bertemu secara langsung menjadi alasan utama Awan. Pada suatu siang saat pertemuan berlangsung, setelah mereka membicarakan pekerjaan pekerjaan Lista menyela waktu dan berkata "maaf, tapi aku tidak bisa terus menerus bertemu kamu dan membicarakan pekerjaan yang sebenarnya bisa dilaporkan dengan menggunakan surat atau email. Jika kamu tidak puas kamu bisa langsung pergi ke kawasan konstruksi dan mengamati langsung." Lagi-lagi dengan senyum di wajahnya Awan menjawab Lista "aku tidak ingin mengganggumu aku hanya menjalankan pekerjaanku. Maaf kalau itu mengganggumu." Jawaban itu yang terucap dari mulut Awan. Meski maksud Awan yang sebenarnya adalah ingin melihat Lista istirahat sejenak meski hanya beberapa saat karena dia melihat Lista setiap hari semakin pucat dan pucat. Seletah menjawab Lista, Awan berpamitan dan beranjak pergi. Saat Awan beranjak dari duduknya dan mulai melangkah pergi, Awan mendengar sebuah kalimat dari mulut Lista. "aku mempunyai tunangan dan sebentar lagi akan menikah." Mendengar itu Awan berhenti sejenak dan melanjutkan langkahnya. Awan mencari tahu akan hal itu dan menemukan bahwa benar Lista sudah mempunyai tunangan. Dan alasan Awan tidak pernah melihat tunangan Lista adalah karena tunangan Lista bekerja di luar negeri dan akan kembali untuk mempersiapkan pernikahan mereka.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang