Cinta Yang Tertinggal (Part 2)

7 0 0
                                        

Akhirnya dokter pun sampai di ruangan Dimas.
"maaf bu, biar saya cek dulu keadaan Dimas".
"iya dok".

"keadaan Dimas sudah membaik, tolong jaga pola makan dan istirahat Dimas"
"iya dok terima kasih" ucap Papa Dimas ketika dokter selesai memeriksa Dimas.

"Dimas kamu sudah bangun kamu nak" ucap mama Dimas.
"Mama Papa.. maafin Dimas sebelumnya Dimas tidak bilang sama kalian." Ujar Dimas ketika dia sudah sepenuhnya tersadar.
"kenapa nak, seandainya kita tahu tentang penyakit kamu kita pasti bisa melakukan kemoterapi agar kamu bisa sembuh nak" jelas papa Dimas.
"Dimas tidak mau merepotkan Mama sama Papa, mungkin ini sudah takdir Tuhan bahwa Dimas akan secepatnya kembali ke hadapan-Nya"

"jangan begitu Dimas, kita bersama-sama berdo'a kita berusaha mencari rumah sakit terbaik agar kamu bisa sembuh sayang" jelas mama Dimas.
"iya besok Papa akan urus surat pindah rumah sakit kamu. Kita akan berobat ke Singapura"
"tapi Pa, aku tidak mau ke Singapura aku mau tetap di sini saja di Indonesia" jawab Dimas.
"tidak sayang, kamu harus berobat kamu harus sembuh demi Mama sama Papa ya" jelas mama Dimas menasihati.

"oke Dimas mau, tapi Dimas mau bertemu sama seseorang dulu sebelum aku berangkat ke Singapura" sahut Dimas.
"iya sayang"

Keesokan harinya, Dimas bersiap-siap masuk sekolah untuk yang terakhir kalinya karena besok dia harus berangkat berobat ke Singapura.
Hari ini, dia berniat akan berbicara dan berpamitan kepada Irene. Dimas juga merasa rindu karena sudah beberapa hari ini mereka tidak berkomunikasi.

"hai Keke, Irene mana?" tanya Dimas kepada Keke.
"Dimas, kamu ke mana saja kok kamu baru kelihatan? Irene ada di perpustakaan. Dari kemarin dia menyendiri di berubah jadi pendiam" jelas Keke.
"memangnya kenapa? Ya sudah aku ke perpustakaan dulu, terimakasih Ke informasinya"

Di Perpustakaan
"hai cewek sendirian saja" sapa Dimas dengan nada yang beda.
"hmm"
"hanya begitu jawabannya, kamu kenapa Ren? Kamu marah sama aku?" tanya Dimas.

"jangan ganggu aku, mending kamu keluar saja sekarang" usir Irene.
"aku tidak akan keluar kalau kamu belum mau jelasin kenapa kamu marah sama aku" kekeuh Dimas.
"kamu tidak sadar? Kamu kemana saja akhir-akhir ini jarang komunikasi sama aku. Kamu mau menjauh dari aku apa kamu lupa sama janji kamu dulu? Hah ?!" Bentak Irene.
"tidak begitu sayang, aku ada alasan aku tidak menghubungimu selama ini. Maafkan aku aku memang salah." jelas Dimas dengan rasa bersalahnya.

"syukurlah kalau kamu sadar. Sudah kamu keluar aku mau sendiri jangan ganggu aku" usir Irene untuk yang kedua kalinya.
"aku ke sini mau bilang sama kamu, kalau aku mau pergi aku bakalan pindah ke Singapura, nanti sore jam 14.00 WIB aku berangkat dan sementara waktu kita bakalan LDR" jelas Dimas.
"kamu mau pergin kamu tega banget ya sumpah kamu keterlaluan banget! Maaf Dimas aku tidak bisa menjalankan hubungan jarak jauh. Aku harap kamu bisa mengerti mungkin hubungan kita cukup sampai disini saja" jawab Irene dengan mata sembabnya.

"tapi Ren, aku punya alasan tersendiri aku tidak mau pisah sama kamu. Aku..."
"sudahlah Dim, cukup ya cukup" ucap Irene lalu pergi meninggalkan Dimas.
Irene pun meninggalkan Dimas sendirian di perpustakaan. Hatinya hancur ketika menerima kenyataan bahwa hubungan dia dan Dimas berakhir dengan sia-sia.
Mungkin dia terbawa emosi karene dengan mudahnya dia memutus hubungannya dengan Dimas.

Lain halnya dengan Dimas, dia merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa berkata yang sejujurnya kepada Irene. Dia tidak ingin melihat Irene sedih jika dia tahu akan penyakitnya.

Sesampainya di rumah, Dimas disambut oleh kedua orangtuanya. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke bandara hari ini. Akan tetapi perasaan Dimas masih belum bisa terkontrol dia terus menerus memikirkan keadaan wanita yang sangat disayanginya yang baru saja mengeluarkan air mata karena ulahnya.

CERPEN (AND)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang