Cinta... apa itu cinta...?. Di usiaku yang sekarang ini, aku tidak mengerti dengan apa arti sesungguhnya cinta. Aku tidak tau apa itu cinta dan aku pun tidak tau apakah aku pernah merasakannya sebelumnya. Mungkin, karena aku tidak pernah berkenalan dengannya, jadi aku tidak pernah mengenalnya. Cinta, bukanlah kata-kata yang aneh dan asing untuk didengar. Tapi, aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cinta. Apa arti cinta sesungguhnya?.
Hanya saja, ada perasaan aneh yang telah hinggap di hatiku. Aku tidak tau perasaan apa itu. Apa itu cinta? entahlah akupun tidak tau apakah perasaan itu cinta atau bukan. Aku pun tidak tau dari mana asalnya perasaan itu. Perasaan itu hadir secara tiba-tiba tanpa aku sadari. Perasaan itu hadir tanpa aku undang, bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana caranya untuk mengundang perasaan. Perasaan itu hadir tanpa aku minta dan aku sadari. Tapi yang jelas, perasaan itu yang selalu membuatku merindu akan kehadirannya. Dalam setiap detiknya, bayangan wajahnya terlintas di benakku. Mungkin perasaan itu yang telah mengikat bayangannya agar tetap ada di otakku.
Perasaan itu hadir sejak beberapa bulan yang lalu.
FLASHBACK...
"Mia...", panggil Ela, salah satu teman satu kelasku seraya berlari mendekatiku.
"Ada apa La...?", tanyaku padanya.
"Haduh...", ucapnya nampak kelelahan.
"Nafasnya diatur dulu La...! baru bicara...!", saranku padanya.
"Hm... aku cuma mau bilang sama kamu kalau hari selasa minggu depan, kelas kita akan ada penilaian membaca puisi", ucapnya dengan sedikit ngos-ngosan karena tadi mengejarku.
"Puisi...?", ucapku kaget.
"Iya... kemarin, Ibu Sari meminta kepada semua siswa untuk membuat puisi sendiri. Kemudian disuruh membacakannya di depan kelas dan diiringi dengan musik...", jelas Ela.
"Musik...?", ucapku kembali kaget.
"Iya... musik", ucap Ela lagi.
"Tapi aku tidak bisa main musik El...", keluhku.
"Ah itu gampang. Tinggal putar lagu saja menggunakan handphone atau laptop. Gampang kan...?", ucap Ela.
"Oooo... begitu...", ucapku seraya mengangguk.
"Kau harus tanggung jawab Mia...!", ucap Ela yang membuatku bingung.
"Tanggung jawab apa?", tanyaku.
"Aku mau minta denda...!", ucapa Ela lagi.
"Denda apa sih La...?", tanyaku semakin bingung.
"Denda nafas...", jawab Ela.
"Denda nafas...?", ucapku semakin bingung.
"Iya... gara-gara aku harus nggasih tau kamu tentang tugas Bahasa Indonesia, jadi aku sampai ngos-ngosan kayak tadi. Jadi, kamu harus ganti rugi...!", jelas Ela.
"Hah...?", ucapku kaget.
"Ah kamu terlalu polos Mia... masa gitu aja nggak faham. Maksud aku itu aku minta traktir es. Soalnya aku lagi kagak ada uang nih... aku haus...", jelas Ela.
"Ooooo... bilang dong kalau mau minta traktir. Tapi by the way... gue lagi kagak bawa duit nih La dan gue juga mau pergi ke perpus buat baca buku bukan mau ke kantin. Sorry aja ya La... makasih infonya dan ma'af atas kebatalan traktirnya... hehehe", ucapku seraya berlalu dan meninggalkan senyuman pada Ela.
"Yah Mia...", keluh Ela.
Di dalam kelas.
"Hey...", ucap Fera sahabatku seraya mengagetkanku.
"Feraaa...", ucapku dengan sedikit kesal.
"Kenapa? kok cemas gitu?", tanya Fera seraya duduk di sebelahku.
"Tau ah bingung", jawabku tanpa menoleh sedikitpun padanya.
"Jutek banget sih...?", ucap Fera dengan sedikit kesal dengan sikapku padanya.
"Ya ampun Fera... kok pemarah banget sih...?", ucapku saat melihat dirinya yang sedang cemberut karena kesal.
"Abis kamu juga sih... orang ditanya baik-baik malah jutek gitu. Kamu kenapa sih Mi?", tanya Fera penasaran.
"Hari selasa minggu depan ada penilaian membaca puisi ya Fer?", tanyaku.
"Oh my god...", teriak Fera seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa Fer? kepala kamu sakit?", tanyaku padanya saat melihatnya memegang kepalanya.
"Bukan begitu ", jawab Fera.
"Lantas...", tanyaku yang sedikit heran dengan perilakunya.
"Aku lupa buat ngasih tau kamu soal tugas bahasa Indonesia yang disuruh membacakan puisi hari selasa depan", jawabnya seraya unjuk gigi alias meringis.
"Ternyata cuma itu... aku kira kepalamu kemasukan bom...", ucapku bergurau.
"Ya... kepalaku akan benar-benar kemasukan bom saat aku mendengar dan melihat kemarahanmu ketika hari selasa minggu depan kau masih tidak tau tentang tugas bahasa Indonesia itu. Kau bakalan ngomel-ngomel seperti nenek-nenek...", jelas Fera.
"Apa...?", ucapku seraya melotot kepadanya.
"Ma'af Mia cuma bercanda kok...", ucap Fera sedikit ketakutan.
"Bercandanya kamu keterlaluan tau...", ucapku yang sekarang ini cemberut.
"Ya ma'af... hm kok malah gantian ngambek sih? Kok kita ngambek-ngambekan kayak gin sih..?", tanya Fera yang mulai tidak tahan dengan kemarahanku.
"Oh ya by the way kamu tau dari mana soal tugas itu?", tanya Fera lagi.
"Dari hembusan angin dan terik matahari", jawabku dengan ketus.
"Yah... jangan gitu dong Mi! aku serius nih...", ucap Fera dengan memasang wajah memelasnya itu.
"Iya deh... dari Ela..", ucapku.
"Senyum dong...! jangan cemberut gitu...", pinta Fera.
"Iya.. iya... nih...", ucapku seraya menunjukkan senyumanku padanya.
"Ngomong-ngomong kamu udah buat belum?", tanya Fera.
"Belum lah Fer... aku juga baru tau tugas itu hari ini...", jawabku.
"Hm... udah nentuin lagu buat mengiringi puisinya?", tanya Fera lagi.
"Belum lah... aku juga belum tau aku mau bikin puisi tentang apa...", jawabku lagi.
"Masa sih nona puitis bingung bikin puisi?", ucap Fera.
"Jangan gitu lah Fer...! aku kan nggak bisa bikin puisi yang bagus dan aku nggak pandai bikin puisi. Lagi pula puisi itu bagiku bukan sesuatu yang bisa dipesan. Puisi adalah ungkapan segala perasaan dan imajinasi seorang penulis...", jelasku.
"Well... well... well... gimana kalau lagu yang buat mengiringi puisinya, lagu milik Krispatih yang judulnya lagu rindu. Nanti kamu bikin puisi tentang lagu itu... bagaimana menurut kamu?", ucap Fera memberikan pendapatnya.
"Lagu rindu? aku aja nggak tau lagunya seperti apa. Emang kamu punya lagunya? emang kamu tau lagunya seperti apa?", tanyaku.
"Sebenarnya aku sendiri juga nggak tau sih dan aku juga nggak punya lagunya...", jawab Fera seraya meringis dan menggaruk kepalanya yang berbalut kerudung itu.
"Lah kalau nggak tau kenapa usul lagu itu? jangan-jangan nggak ada tuh lagunya...", ucapku.
"Ada kok. Aku juga dikasih tau sama Kak Aeni...", jawab Fera.
"Terus Kakak kamu punya lagunya?", tanyaku lagi.
"Enggak...", jawab Fera singkat.
"Percuma dong...", keluhku.
"Hehehe... ma'af", ucap Fera.
"Kalau kamu pake lagu apa Fer?", tanyaku.
"Kan penilaiannya kelompok dan setiap kelompok anggotanya 2 anak, jaadi aku milih kamu buat jadi satu kelompok denganku... hehehe..", ucap Fera.
"Bilang aja biara aku yang bikin puisinya...", jawabku.
"Ya iya dong Mi... kamu kan tau kalau sahabatmu ini nggak bisa bikin puisi...", ucap Fera.
"Iya deh... terus gimana sama nasib puisinya...?", tanyaku.
"Maksudnya?", tanya Fera bingung.
"Mau pake lagu yang tadi apa nggak sih? ",tanyaku.
"Ya iya lah... kata Kak Aeni lagu itu bagus buat mengiringi puisi", jawab Fera.
"Terus harus nyari lagunya dulu gitu?", tanyaku seraya menggeryitkan dahiku.
"Iya lah...", jawab Fera singkat
"Kapan nyarinya?", tanyaku lagi.
"Bagaiman kalau hari sabtu?", usul Fera.
"Sabtu? kita kan ada kegiatan ekstrakulikuler Fer...?", tanyaku.
"Ya setelah pulang Ekstra lah...!", ucap Fera.
"Tapi kan cape...", keluhku.
"Ah kamu banyak mengeluh deh... ya udah kita pergi sore saja bagaimana?", tanya Fera meminta pendapatku.
"Ok deh kalau begitu...", jawabku menyetujui usulannya itu.
