Beberapa hari ini Gandi menunjukkan sikap yang berbeda kepadaku. Ia nampak lebih perhatian dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mirip orang lagi berupaya untuk melakukan pendekatan. Entah hanya perasaanku saja, atau memang benar adanya, Gandi seolah tengah mencoba mendekatiku.
Dia jadi lebih sering mengirimiku pesan lewat handphone. Mengucapkan hal-hal yang menurutku tidak begitu penting. Bahkan ia juga kerap melemparkan senyum kepadaku, ketika berpapasan di kampus. Lantaran sikapnya yang aneh itulah, aku jadi heran dan bingung. Sebab tidak biasanya ia bersikap manis kepadaku.
Tapi tak bisa kupungkiri, perhatian-perhatian kecil darinya sempat menyita pikiranku. Aku jadi lebih sering memikirkannya. Awalnya karena penasaran, namun lama-kelamaan rasa itu berubah. Aku jadi ingin bertemu dengannya, melihat senyumannya, menatap wajahnya, dan mendengarnya mengucapkan sesuatu padaku.
Ternyata aku tak perlu menunggu lama untuk memperoleh jawaban dari rasa penasaran, atas sikapnya yang aneh. Sore ini mendadak Gandi mengajakku keluar. Ia membawaku ke sebuah cafe roti bakar yang terkenal lezat.
Di sanalah aku mendapatkan jawabannya. "Lin, aku mau bilang sesuatu padamu," ucapnya tiba-tiba.
Aku masih tidak mengerti apa yang ingin ia bicarakan. Kenapa seolah ada yang menahannya. Sedangkan di dalam benakku cuma ada satu keinginan, yaitu supaya hari ini cepat selesai. "Iya katakan saja!" sahutku cepat.
"Aku mau bilang... kalau aku..." Gandi mulai terbata-bata.
"Kamu kenapa sih Gan? Kok jadi gagap gitu?!" aku sedikit kesal padanya. "Cepat katakan! Kau mau bilang apa?" sentakku sudah tak sabar.
"Lin, aku ingin kamu jadi pacarku," tukasnya.
"Duar... duar... duar...!" bak mendapati kembang api. Letusannya mengenai jantung hatiku. Kaget bukan kepalang, mendengar ucapan Gandi barusan. Aku jadi tak bisa berkata apa-apa. Bibirku seolah terbungkam, meski jantungku berlarian.
"Jadi gimana? Apa kamu mau jadi pacarku?" tanyanya menatap mataku tajam.
Terang saja, perasaanku makin tidak karuan. Butuh waktu beberapa menit untukku berpikir, dan menemukan jawaban yang tepat. Hatiku rasanya berkecamuk tidak jelas. Beberapa hari belakangan, aku memang merasakan sesuatu yang berbeda padanya. Lantaran sikapnya yang menyentuh hatiku. Namun di sisi lain, bagiku semua ini terasa mendadak. Aku benar-bemar dilema.
"Lina, kok kamu malah diam saja? Jadi gimana?" terlihat sorot mata Gandi nampak cemas.
Aku tetap diam, belum memberikan jawaban apapun. Benakku masih dipenuhi dengan keraguan. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Sebab ini terlalu tiba-tiba. Beragam pertanyaan muncul dalam otakku, benarkah dia menginginkan aku sebagai pacarnya. Benarkah dia mencintaiku, atau justru ini hanya permainannya.
"Lin, jangan diam saja. Jawab aku!" seru Gandi kemudian menggoyangkan tubuhku.
"Bentar, berikan aku waktu untuk berpikir," sahutku menepis tangannya.
"Apa lagi yang kamu pikirkan?" Gandi seakan tak sabar mendengar jawabanku.
"Tentu saja aku perlu memikirkannya. Ini terlalu cepat buatku. Kau datang padaku dalam hitungan hari, lalu bilang ingin aku jadi pacarmu. Bukankah itu hal yang secara tiba-tiba?!" sentakku.
"Iya aku tau. Ini pasti mengagetkanmu. Tapi aku benar-benar mau menjadikanmu sebagai pacarku!"
"Berikan aku waktu lima menit lagi," sanggahku dan kembali berpikir. Setelah dipikir ulang, ternyata aku tetap belum menemukan jawabannya.
Aku masih dilema, haruskah menerima cintanya atau menolak saja. Jika aku terima cintanya, rasa keraguan tak bisa kupungkiri. Namun kalau menolak, aku takut akan kehilangan semua perhatian darinya.
"Lin..." panggilnya lirih meraih jari-jariku.
"Ehmmt... maaf Gan..." sergahku menarik tanganku ke belakang. "Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Beri aku waktu," pintaku kemudian.
"Ohh... begitu ya? Baiklah kalau itu maumu..." sahutnya terlihat sedikit kecewa.
Usai kejadian itu, hubunganku dengan Gandi sedikit merenggang. Dia tak lagi mengirimiku pesan singkat, seperti biasa yang sering dilakukannya. Sikapnya juga mulai berubah. Bukannya menegur, Gandi justru berpura-pura tidak melihatku, ketika kami berpapasan. Kemudian waktu aku coba menegur, dia malah melengos lalu pergi melewatiku.
Entah mengapa rasanya, dia seakan menghindariku. Sebab sudah beberapa hari sikapnya selalu begitu, semenjak waktu itu. Dimana ia mengungkapkan perasaannya padaku. Namun kini, ia justru menunjukkan sikap yang lain. Aku benar-benar bingung. Karena hal yang aku takutin telah terjadi.
