"Ni bekal untukmu." Bian meletakan bekal yang tempatnya berwarna kuning gading, berkarakter buah buahan. Itu mah tempat bekalnya, hadiah ulangtahun yang diberikan ibunya, waktu dia kelas 3 SMP, harganya lumayan mahal kata ibunya waktu itu. Emang sih modelnya lucu, bahannya juga bagus. Jadi Yaya yakin itu emang bekal mahal. Makanya ibunya ngasih kado bekal sama dia. Yakali, bekal biasa, dijadiin kado, bosan yang ada mah
"Ga usa." Yaya mendorong tempat bekal itu menjauh darinya, Yaya uda lupa kapan terakhir dia bawa bekal kesekolah, mungkin sekitar tujuh bulan yang lalu, terakhir kalinya waktu dia kelas 2 disekolah lamanya. Sekarang karna ga ada waktu memasak, Yaya ga pernah lagi bawa bekal, sarapan aja makanan semalam nya. Dipanasi ala kadarnya, kalau dibawa kesekolah, yang ada mah basi.
"Aku uda capek masaknya pagi pagi buta, makan." Bian mendorongnya lagi kearah Yaya.
Ngotot ni ceritanya? ga ada yang nyuruh masak masak pagi buta. Ga usa maksa diri Bian.
"Ga usa, aku ga laper."
"Makan aja. Ga harus laper."
"Aku diet." Jawab Yaya cepat, asal ngomong aja ni mulut, badan cungkring juga, apa yang mau di dietin. Mau mati yang ada.
"Diet? hobby banget bohong ya!" Decih Bian dingin. Yaya mengangkat wajahnya, agar dapat menatap wajah Bian. Cowok itu baru saja membuang wajahnya kearah lain. Yaya jadi merasa bersalah. Ia menatap hampa bekal yang didepannya.
"Ga usa repot repot buatin bekal, aku ga akan terharu, bawa aja lagi. Aku ga butuh-"
"Kau masih marah?!! kok gitu banget ngomong!!! marah yang jelas kenapa, semalam uda baik baik aja, sekarang marah lagi, lagi dapet?" tanya Bian menarik kedua alisnya keatas. Yaya tergagap mendengar pertanyaan vulgar Bian.
"Apaan sihh, dapet apa coba!!!" dengus Yaya membuang wajahnya kearah lain. Bian menarik sudut bibirnya keatas, Bian tersenyum geli, melihat kedua pipi Yaya yang sudah merah seperti tomat.
"Ga usa malu malu, makan aja. Aku buatin dengan hati tulus."
Ck, apaa sihh!!
"Ga usa." Yaya mendorong bekalnya lagi menjauh hampir ke sudut bibir meja.
"Makan Yaya."
"Ga usa."
"Susah banget dibilangin ya?!!"
"Aku ga butuh makanan ini. Aku ga laper-"
"Sekarang emang enggak, nanti waktu keluar main, jam jam ke 7 juga-"
"Ga usa. Aku uda biasa-"
"Ga usa dibiasakan, ga bagus, makan aja, uda didepan mata juga, sayang kalau dibuang-"
"Makanya ga usa repot repot buatin bekal, kalau ga dimakan. Lagian ga usa urusin apapun kehidupanku. Kita jadi saudara tiri secara mendadak aja uda bikin pusing."
Oke dia jujur ni ke Bian.
"Ck, masih marah juga rupanya, pantes tadi pagi berangkatnya cepat banget!!"
Uda biasa kali dianya pergi ke sekolah lebih awal, bahkan pak satpam sampe muji muji dia rajin datang lebih awal.
"Makan ini, jangan keras kepala-"
"Ga mau."
"YAYA!!!!!"
Suara bel masuk berdering keras, Yaya pura pura mencari kesibukan, mengabaikan Bian yang masih berdiri didepan meja nya.
Yaya melirik kearah pintu, dia ngeliat Jojo yang berjalan kearah bangku cowok itu dengan cuek. Bian juga melangkah kebelakang. Bekalnya masih ada diatas meja Yaya.
***
"Kelompok dua!!" Pak Herman menyebutkan kelompok mereka, kini giliran kelompok mereka. Yaya mempersiapkan dirinya, dari tadi dia uda sibuk mempersiapkan diri, waktu kelompok 1 mepresentase tugas mereka.
Saat itulah Yaya menggunakan waktunya untuk menghapal ulang bahan persentasenya.
Jojo, Chiko, dan Vivi maju kedepan. Yaya juga ikutan maju.
"Kalian kelompok dua?" tanya Pak Herman kepada mereka, anggota kelompok dua menggangguk pasti. Termasuk dia. Catet.
"Perkenalkan diri kalian masing masing terlebih dahulu, setelah itu masing masing anggota mempresentasikan tugasnya, mana bahan persentasenya?!" Vivi segera memberikan kertas kepada pak Herman. Salinan yang uda disiapkan Jojo.
"Kalian gunakan waktu kalian, selagi bapak periksa catatannya."
"Baik pak!!" Jawab Vivi mantap.
"Selamat pagi semuanya, saya Vivi Forleta Natalin, saya ketua kelompok dua, jadi disini kami mau mempresentasikan tentang kesehatan biologis dari hal kecil sampe hal yang lebih besarnya, pertama saya juga mau ngenalin nama kelompok dua lainnya, disamping saya ada..."
"Jojo Mahendra." Jawab Jojo tegas.
"Disamping Jojo Mahendra, ada..."
"Chiko Garan." Jawab Chiko sama tegasnya Kayak jojo.
"Jadi kami akan mulai presentase nya, mulai dari saya sebagai ke-"
"Ehh, aku ga disebutin?" tanya Yaya berbisik pelan. Yaya menatap harap kearah Vivi, duhh kok jadi gini coba? ada yang salah, kenapa tiba tiba kelompok ini jadi 3 orang, anggota yang lain juga diam aja.
"Hah?" Vivi melongo, begitu juga Yaya, ia mulai sedikit kesal, mungkin sebentar lagi dia akan menampar wajah Vivi yang pura pura ga tau apa apa. Maksudnya ini apa?? kenapa mereka seakan akan ingin mengeluarkan namanya tanpa sepihak. Sakit banget.
"Yaya kelompok mana kemarin?" tanya Pak Herman berdiri dari bangkunya, dengan kertas catatan Jojo masih ditangan beliau.
Ya kelompok inilah, ga ada yang lain, setiap jam 8 dia kan datang ke perpus buat kerja kelompok. Kelompok mana lagi coba?
"Kelompok dua pak, saya bareng mereka bertiga." Jawab Yaya dengan kaki yang uda mulai gemeteran, ini maksudnya apa coba?!!
"Tapi namamu ga ada tertulis disini?"
Hah masa sih?
Pak Herman memberikan catatan itu pada Yaya, langsung saja Yaya menerimanya tanpa nunggu lama. Matanya hampir copot membaca tulisan dikertas itu, benar, pak Herman emang ga bohong. Tadi dia berpikir pak Herman meninggalkan satu kata aja, ternyata...namanya emang ga ada disana. Vivi...bukan, yang nulis kertas ini bukan Vivi...m-munginkah, mungkinkah Jojo yang ga sudi menulis namanya. Karna hanya Jojo yang mengerjakan semuanya. Cowok itu yang meminta sendiri, mereka hanya disuruh menghapal. Tapi, sekarang, apa??!! hasilnya apa?? dia uda mati matian ngapalin semua kertas yang dikasih Jojo, dia uda belajar mati matian biar bahasanya ga baku, dia..uda pake waktu kerjanya untuk kerja kelompok...dia...dia...uda..dia uda pergi ke perpustakaan naik bus pake uang jajannya. Dia...berkorban juga disini...tapi kenapa mereka..entah siapalah dari mereka bertiga yang ga nulis namanya, kenapa sampe setega ini?!! siapa orang yang ga punya hati itu?!!
KAMU SEDANG MEMBACA
TANGISAN YAYA [COMPLETED]
Teen FictionMengandung banyak bahasa kasar! [ BELIM REVISI ] Yaya gadis kelahiran asli Bandung.18 tahun sudah pengalaman pahit selalu menemaninya. Tak pernah sekalipun ada seseorang yang benar benar tulus mencintainya. "Jalang!" "Anak bodoh!!" "Kau tak pantas...
![TANGISAN YAYA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/216002011-64-k405764.jpg)