42

1.8K 91 2
                                        

"Bian!! tolong ambilin keranjang buah!!" Yaya meneriaki nama Bian dari dalam kamar mandi belakang. Maklum, kran di wastafel mati lagi, ga tau entah kenapa, mungkin penunggu rumah lagi bertingkah. Saat ini posisi Yaya sedang mencuci buah buahan, biar disimpan didalam kulkas.

"Bian!!" teriaknya lagi. Yaya mendengus kesal.

"Pergi kemana sih?!!" dengusnya, melap tangannya pada kaos yang ia kenakan berjalan kearah ruangtamu. Barangkali si Bian lagi nonton, atau belajar seperti biasanya.

Langkahnya terhenti dibelakang rak kaca tempat barang antik ibunya. Disana, di sofa, ada cowok bajingan yang selalu membuatnya ingin muntah setiap melihat wajahnya. Ngapain juga tuh setan bertamu kerumah ibunya. Yaya memutar balik lagi tubuhnya, tapi keburu ditanya Bian.

"Uda siap nyuci buahnya?!" tanya Bian, Yaya memutar lagi tubuhnya, ia memasang senyum masam kepada mereka berdua.

"Uda sih, aku mau kebelakang lagi."

"Ehh, tunggu!! ini, Jojo nyariin." Bian menunjuk Jojo dengan ujung bibirnya yang dimajuin. Ngapain cowok bajingan itu nyariin dia?! dan lagi dia itu ga mau ngomong sama orang yang main belakang. Dasar pengecut, bajingan, brengsek, benar benar sialan. Duh ni mulur kotor amat sihh!! makanya jauhkan dirinya dari bajingan seperti cowok yang menatap dingin kearahnya.

"Ngapain?" tanyanya tanpa basa basi, bodo amat yang namanya basa basi, kalau bisa sekarang juga Jojo angkat kaki dari rumah ini. SEKARANG!!

"Mau bahas yang kemarin." Jawab Bian, Yaya menarik sudut bibirnya kesal, matanya mengguling dengan cepat.

"Ga ada lagi yang perlu dibahas, lagian aku sibuk!! bilang sama dia!!"  Yaya berjalan sambil mengumpati Jojo dengan suara yang nyaris ga terdengar sama dua cowok yang duduk disofa. Bian menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Yaya barusan, padahal secara ga langsung Yaya uda bicara sama orangnya.

Bahas kemarin apa?!! ini hati uda sakit, ga ada yang perlu dibahas lagi. Nikmati aja nilai yang diberikan pak Herman tanpa dia. Nikmati!!! ga usa mikir nilai orang lain. Dasar bajingan semuanya.
Yaya melangkah ke dalam dapur, ngambil keranjang buah. Bian ga bisa diandalkan. Curhat aja noh ama si Jojo!! biar ketularan bajingannya.

***

"Aku uda nyalin-"

"YA TUHANKU!!" Yaya menjatuhkan selang air yang ada digenggamannya. Dia lagi nyiram bunga, ada aja makhluk entah dari mana tiba tiba datang, bikin kaget aja. Yaya segera ngambil selang yang dia jatuhkan, karna airnya uda pada bertumpahan kemana mana.

Yaya melap tangannya yang basah karena air merembes tadi mengenai tubuhnya. Yaya menatap dingin cowok yang menatapnya dengan tatapan setajam elang, bahkan lebih tajam dari elang. Setajam mulut netizen dehh kayaknya. Pokoknya tajam banget. Ada yang salah sama dia? kok natapnya gitu banget? enak aja!! yang salah itu si Jojo, yang main belakang!!! dasar pengecut!!

"K-kenapa datang kesini lagi?!" is kok malah dia yang gugup. Yaya pura pura menyiram bunga lagi, membelakangi Jojo. Jujur dia ga sanggup ditatap tajam seperti tadi. Bikin merinding tau.

"Bikin kaget aja!!! untung temannya Bian, coba tadi kalau hantu, uda aku pukul sampe mati!!!" untung dia baik. Yaya menyiram dengan kesal bunga bunga ibunya itu. Malah bunganya banyak lagi, ibunya kalau ga niat tanam bunga, mending ga usa sosoan buat taman bunga. Kan dia yang capek, malah dia siap ini masih harus belajar. Capek, pengen langsung tidur.

"Ini tugas kelompok-"

"Ga usa!!! lagian uda selesai, ga ada gunanya!! bawa aja sana. Kelompok apa?!! sejak kapan ada kelompok ketuanya dia sendiri, members nya dia sendiri!!" sindir Yaya dingin. Cakep kan dia, berani membantah anak konglomerat. Biasanya cuma diam, nurut.
Tapi inikan beda, dia ga merasa ada salah, dia ga merasa punya utang. Kalau dulu, salah bicara sedikit, dimaluin, digunjing. Ayahnya tukang utanglah, ibunya tukang utanglah. Emang keluarga tukang ngutang mulu ya!!! yang malu dia, yang ngutang mereka. Emang ga punya hati. Sekarang mumpung ibunya ga ada utang sama Jojo, lawan aja terus!!

"Ini pak Herman yang ngasih!" Jojo berujar amat sangat dingin.

Oh, baik banget. Kenapa ngasihnya sama Jojo, sejak kapan wajahnya mirip cowok aneh itu?

"Ga butuh. Bawa aja!!"

Bawa dan jangan tunjukkan wajahmu. Sebelum kesabarannya habis.

"Yauda kalau ga mau."

Hah? cuek banget sihh. Yaya menahan rasa kesalnya. Dia ga seharusnya ngemis minta dibujuk. Ga banget tau ga. Yaya melihat Jojo yang meninggalkannya dengan kertas catatan yang lumayan tebal, bawa aja pergi. Jangan balik lagi. Selama lamanya.

Yaya mematikan kran air, dia uda menyelesaikan kerjaannya. Sekarang tinggal mandi, terus belajar sampe dia ngalahin kesongongan si Jojo.

"Apa kata Jo-"

"ASTAGA!!!!" Pekik Yaya memegangi dadanya. Bikin kaget aja, kalau mau membunuh ga gitu caranya, tinggal ambil pisau dapur, terus asah setajam mungkin, tusuk pada bagian yang bisa membuat si korban mati. Ngomong apa sih?

Yaya kaget setengah mati, ga si Jojo, sekarang Bian. Mau mereka berdua apa coba?!!! mau dia mati karna kaget!! selamat kalau gitu, dia kaget banget!!! cuma belum mati. Jadi kasihan deh lo Jo!!!

"Apa kata Jojo?" tanya Bian dengan suara serak. Yaya mengerutkan keningnya dalam, kenapa tatapan mata Bian sama kayak si pengecut ya? ada yang aneh dari dirinya, contohnya wajahnya mirip boneka Annabelle?

"Ga ada." Jawab Yaya singkat. Dia semakin heran melihat sikap Bian yang belum juga mengalihkan tatapan matanya dari dirinya. Merasa ga enak, Yaya berjalan masuk kedalam, dengan langkah sedikit buru buru. Tapi telinganya masih mampu mendengar ucapan Bian yang membuatnya ingin menghilang sekarang juga.

"Bajumu tembus tuh!!"

Jadi Jojo uda ngeliatin dalamannya.

Sial.

TANGISAN YAYA [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang