Play list | Lyn ft Hanhae Love.
"Yaya ilang!"
"Bodolah, mau tu anak pergi kemana!"
"Nyusain aja, nyusain!"
Pak Herman dan seluruh teman sekelas Yaya yang disuruh mencari kayu bakar tampak kesal karna perihal kehilangannya Yaya. Semua kelompok sudah dibagi pak Herman, setiap kelompok memiliki jumlah 7 orang. Yaya bagian kelompok, Vivi, Chiko, Ayu, Rean Tara, Cici, dan terakhirlah Yaya. Ini hari kedua mereka berlibur dibandung.
"Siapa tadi yang terakhir sama dia?" tanya pak Herman mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu. Hening, ga ada yang jawab diantar mereka.
"Siapa?!!" tanya pak Herman mulai kesal, beliau menatap satu persatu teman kelompok Yaya yang kembali tanpa melengkapi anggota kelompok. Benar benar kelompok terburuk dalam sejarah. Bisa bisanya mereka kembali tanpa Yaya.
"Yaya berpencar dari kami pak," Jawab Ayu yang berdiri disamping Vivi.
"Pokoknya...kalian semua wajib mencari Yay-"
"Ga mau pak.."
"Disana sepi, gelap, banyak binatang buas.."
"Siapa suruh dia berpisah, tanggung resikolah.."
"Kenapa kami ikut? kan kami ga satu kelompok sama dia.."
"DIAM!!!!" bentak pak Herman menatap mereka satu persatu.
"Bukan masalah kalian bukan teman kelompok Yaya, tolong, partisipasi dari kalian, teman kalian hilang, kalian juga harus ikut mencari, bagaimana kalau dia...dalam bahaya.."
"Tapi pa-"
"Siapa yang membantah, nilainya saya kasih merah!!" ancamnya dingin.
"Kembali ke kelompok masing masing...Vivi.." beliau memanggil Vivi yang tampak menghentakkan kakinya kesal.
"Tolong jaga kelompokmu! Jangan sampe ada yang hilang!"
"Baik pak!" jawab Vivi kesal, pak Herman ga liat raut wajahnya karena terlalu gelap.
***
Yaya yang ketinggalan jejak teman temannya, berteriak memanggil nama nama satu kelompoknya. Tadi dia hanya pamitan kebelet, terus salah jalur. Eh, malah ga ketemu temannya lagi. Padahal dia uda bilang sama Vivi buat nungguin dia.
"Ayu! Cici! Chiko!" panggilnya berteriak lantang. Dia ga nyangka mereka ninggalin dia ditempat sepi yang ditumbuhi rumput dan pohon besar ini. Apa lagi Chiko, sama Rean, teganya dua cowok itu ninggalin dia disini.
"Siapapun menjawablah, please!! Kenapa kalian ga mau jawab, Ayu! Rean!" teriaknya lebih keras lagi. Yaya menginjak asal apapun yang ada dihadapannya. Gelap, rumput, banyaknya pohon besar membuatnya semakin takut. Gimana kalau ada..harimau, ular atau apalah yang berbahaya memangsa dia.
"Tolongggg! Vivi jangan bercanda kayak gini, aku..." Yaya terjatuh mencium rumput liar dihadapannya yang berasal dari akar pohon besar yang membuatnya terjatuh.
"Awww!" dia meringis, lututnya lecet. Kena akar pohon yang melilit kakinya. Teriak terus ga usa liat jalan.
Dihutan ini gelap, ga ada cahaya sedikitpun. Jadi dia ga bisa melihat dengan baik. Entah dia selamat atau...
"Sakit..perihh.." Yaya mulai menangis, dia ga bisa berjalan karna kakinya keseleo.
"SIAPAPUN TOLONG!" teriaknya. Ga masalah musuh bebuyutannya sekalipun. Jojo. Ga masalah. Dia...ikhlas. Lagian dia uda ga ada urusan sama Jojo sejak terakhir kali mereka berbicara dibelakang tenda anak cowok. Sejak itu dia...yang disuruh Jojo menemui cowok itu kalau mual ga nurutin kemauan cowok itu, gila kali dia, nemui si Jojo pas lagi mual..helo! Bisa bisa makin dicurigai mereka yang ada. Emang si Jojo waktu itu mikir apa coba, kenapa bisa terlintas ide bodoh kayak gitu?
"Tolong! Pak Herman tolong!" teriaknya masih memegang lututnya.
"Ada orang disana?!" tiba tiba ada cahaya senter yang menerangi pohon didepannya. Suara itu semakin dekat, Yaya berteriak lagi, mumpung ada orang.
"Tolong, disini!" sahutnya lantang. Dia menggerakkan tangannya keatas, padahal orang tersebut ga dapat melihat lambaian tangannya itu, karna terlalu gelap.
"Ada orang!! tolong jawab dengan jelas!" teriak orang itu dengan bentakan.
"Disini! disini!" teriak Yaya. Senter itu menuju kearahnya. Mata Yaya langsung terkena cahaya silaunya senter, reflek dia memejamkan matanya, barulah dia membuka matanya setelah yang punya senter menyenter bagian tubuhnya yang lain. Lututnya yang lecet.
"Ya..ya.." suara itu memanggil namanya dengan susah payah. Yaya yang belum mengenal siapa orang tersebut mencoba menilai dari postur tubuh cowok itu.
"Itu..benar kau?" tanya cowok itu lagi dengan nada yang lumayan sinis. Yaya yang mulai ga asing dengan suara ini, mulai mengingat ingat...mungkinkah..
"Ternyata setelah sekian lama kau melarikan diri, senang bertemu denganmu!"
***
"Sial, kemana sih dia?!" dengus teman sekelas Yaya yang ikut nyari. Pak Herman meminta anak kelas lain membantu mereka dalam misi mencari muridnya. Kelas biologi dan SAINS membantu tapi dengan dengusan kesal.
"Semua ini karna lo Vi,"
"Kok nyalahin gue?" ga terima disalahin, Vivi memprotes temannya.
"Lo yang ninggalin---"
"Ga! Dia sendiri yang pergi misahin diri. Enak aja lo semua nyalain gue, lagian dia emang sososan banget, ya gini jadinya!" dengus Vivi kesal juga disalahin karna Yaya, teman satu kelompok Vivi menatap gusar kearah gadis itu.
Bian yang baru tau perihal ilangnya Yaya langsung mengamuk ia memarahi habis habisan cowok satu kelompok saudara tirinya itu. Bian ga abis pikir, ada cowok tolol yang ninggalin teman cewek sekelompok mereka. Benar benar cowok ga berguna sama sekali.
"Emang ga ada otaknya lo berdua ya?!" tanya Bian sinis, tangannya uda gatal pengen nonjok wajah dua cowok yang menatap ga songong kearahnya. Chiko sama Rean. Dari awal Bian emang ga suka ngeliat Chiko, sejak satu kelompok sama Yaya, dimana saudaranya itu dikeluarkan ga sepihak. Bian mencurigai Chiko sama Vivi.
"Ga usa ngegas ngapa?! lo pikir cuma dia yang harus kita jagain?! dari awal kita mau nyari kayu bakar, bukan jagain cewek bodoh kek dia-"
Trak!
Bian narik kerah kemeja Chiko yang ngatain Yaya bodoh. Tentu saja hal itu membuat Chiko naik darah. Dia balas narik kerah kemeja Bian.
"Ga usa jadiin ini jadi masalah Yan," Chiko melepas tarikannya dari kerah kemeja Bian.
"Lo mikir pake otak! cewek sendirian didalam hutan, lo pikir pake otak! pikir!!" Bian masih mengeratkan cengkeramannya kasar. Bian tampak emosi, anak anak yang melihat adegan itu hanya bungkam, ada yang hendak berlari buat ngaduin hal itu, tapi mereka mendapat lirikan tajam Rean anak peringkat dikelas setelah Jojo, dan Stella.
"Ga usa ngatain gue juga! emang siapa suruh anak bodoh itu pisah dari kita? ga adakan? mau dimakan beruang sekalipun gue ga pedu-"
Bug
Satu bogeman mentah mendarat dipelipis Chiko.
"Sialan."
Ga mau diam aja, Chiko balas bogeman mentah dari Bian. Terjadilah pertengkaran yang hanya dijadiin tontonan ditempat itu. Tapi tiba tiba saja Bian menghentikan ulahnya, mendapat kesempatan, Chiko menendang perut Bian. Bian yang mendapat tendangan secara tiba tiba, hanya pasrah aja jatuh ketanah.
Satu hal yang membuat Bian tersadar, ia segera menjauhkan diri dari Chiko yang uda babak belur sama kayak dia. Bian berjalan gusar melewati anak anak yang ngeliat pertengkaran mereka, tangannya menghapus darah dari sudut bibirnya.
"Kenapa dia...segitu ngototnya belain Yaya, yang tiba tiba hadir jadi saudara tirinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
TANGISAN YAYA [COMPLETED]
Fiksi RemajaMengandung banyak bahasa kasar! [ BELIM REVISI ] Yaya gadis kelahiran asli Bandung.18 tahun sudah pengalaman pahit selalu menemaninya. Tak pernah sekalipun ada seseorang yang benar benar tulus mencintainya. "Jalang!" "Anak bodoh!!" "Kau tak pantas...
![TANGISAN YAYA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/216002011-64-k405764.jpg)