Memasuki dunia gemerlap

2.1K 102 2
                                        

Mea benci dengan Tante Novie temannya ibunya itu. Semenjak ada Tante Novie datang sebagai penolong disaat membutuhkan uang, ibunya--Fresa berubah dratis.
Mea benci wanita itu yang sudah mempengaruhi ibunya sampai Mea merasa tidak mengenali sosok Ibu lagi pada dirinya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, saat Mea masih SMP kelas 9, ibunya mulai jarang berada di rumah. Setiap Mea bertanya ibunya pergi mau kemana, tangan Fresa yang terangkat berbicara keras ke arah wajah pipinya dan mengatakan dirinya hanyalah 'anak kecil' yang tidak berhak untuk mengetahui urusannya.
Sakit! Itu yang Mea rasakan. Beberapa kali ia ditampar oleh sang ibunya sendiri.

"Kamu nggak perlu ikut campur! Mau saya pergi kemana kek, mau nginap dimana, yang jelas saya mencari uang juga buat biayain kamu Mea!!" Maki Fresa dengan bentakannya, ia kesal Mea mulai mencampuri urusannya ketika gadis itu sudah beranjak duduk di bangku SMA. Dan lagi-lagi Fresa juga memperlakukan Mea dengan sedikit lebih kasar.

"Tapi Bu, Mea nggak mau ibu pergi terus ninggalin Mea. Aku sayang sama ibu." Mea memeluk ibunya. Air matanya juga berderai membasahi pipinya yang masih terasa panas, nyeri akibat bekas telapak tangan dari wanita itu. Mea mengabaikan rasa sakitnya sementara, yang penting Mea bisa menahan Fresa tidak jadi untuk pergi dari rumah.

"Sudahlah! saya nggak punya banyak waktu di rumah ini. Saya sedang sibuk!!" Fresa melepaskan pelukannya kasar dan mendorong tubuh Mea menghempaskannya membuat gadis itu jadi terjatuh.

"Bu, tapi Nenek sakit. Jangan tinggalin kita berdua Bu. Kasihan Nenek siapa yang bantu jagain. Mea gak bisa sendirian." Mea menangisi sikap dan kelakukan ibunya itu. Penampilan Fresa juga terbuka, seperti anak muda. Mea menatap miris.

Mea menggelengkan kepala saat Fresa juga mengacuhkan dirinya. Masuk ke dalam kamar sebentar mengambil tasnya di sana. Lalu keluar kembali dengan wajah datarnya menatap sinis, ia tidak peduli dengan anaknya itu memohon seperti apapun, ia tidak akan tersentuh.

Mea malu. Ia sudah sering mendengar beberapa gosip dari tetangganya yang mengatakan tentang keburukan ibunya yang selalu datang sampai pagi dari pekerjaan malamnya.

"Ibu Mea mohon! Tetap disini aja Bu. Mea nggak mau ibu pergi. Mea kangen ibu berada di rumah seperti dulu." Mea duduk bersimpuh di kaki Fresa dan memeluk lututnya.

"Mea Saya bilang, saya sibuk nyari duit buat kamu sama Nenek kamu yang sakit-sakitan itu!!" desisnya mengingatkan dan mengulangi perkataannya lagi, sembari menarik napasnya penuh kekesalan. Mea tetap menggelengkan kepalanya enggan.

"Gak Bu! Mea gak butuh itu. Mea cuma mau ibu tetap disini."

"Mau makan pakai kita hah kalau gak nyari duit?! Kamu pikir kasih sayang dari bikin kamu kenyang?! Tidak Mea. Kamu terlalu bodoh! Nenek kamu juga bakalan mati kalau gak diobatin pakai uang!!" sentaknya menggeram, lalu menendang Mea di bawah sana, hingga terlepas, gadis itu merasakan pening di kepalanya karena kaki Fresa yang keterlaluan sedikit menyakitinya.
"Rasain tuh! Jadi anak jangan kurang ajar! Ganggu urusan orang tua!!"desis Fresa berlalu pergi begitu saja meninggalkan Mea yang hanya bisa menatap penuh nanar sepeninggal ibunya yang tidak sedikit pun kasihan padanya dan neneknya.

"Jangan menangis lagi Mea, ibumu pasti akan kembali. Percaya sama nenek." ujar wanita setengah abad itu merengkuh Mea ke dalam pelukan tubuhnya yang rapuh itu. Mea langsung melihat ke arah neneknya--Lany. Mea sedikit terkejut karena neneknya itu masih sakit, tapi malah mencoba menghibur dirinya.

"Iya Nek. Mea nggak sedih lagi kok." ucapnya membalas sambil tersenyum kecil lalu mengusap cepat air matanya."yaudah yuk Nek, Mea antar ke kamar lagi. Nenek harus istirahat." Mea pun berdiri sambil membantu Lany yang sedikit kesusahan untuk menopang tubuhnya yang lemah. Ia hanya ingin menenangkan hati cucunya--Mea setelah bertengkar dengan anaknya--Fresa ibu si gadis itu. Lany tidak tega. Ia juga merutuki Fresa atas perlakuannya.

MEANDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang