Happy Reading!! Maafin kalau ketemu typo's!!
Sudah tiga hari berlalu, luka di paha Mea sudah terlihat mendingan tidak terasa sakit lagi. Dan selama itu pula Axel mencoba mengajak Kevan untuk tidak terlalu berada di rumah agar Kevan tidak menyadarinya bahwa kunci kamar gadis itu sudah tidak ada ditangannya lagi.
Cepat atau lambat nanti Kevan akan mencarinya. Maka dari itu Axel mengambil kunci kamar gadis itu setelah merebutnya kembali. "Sorry Mea, karena luka lo udah mulai membaik, gue terpaksa ngambil kunci kamar lo lagi! Kalau sampai Kevan tahu kuncinya ada di elo dia bakalan ngulanginya lebih dari itu." jelas Axel menekankan kalimatnya diakhir kata pada gadis itu.
Mau tidak mau terpaksa Mea mengiyakannya dengan dengan berat hati. Padahal jujur ia masih sangat takut dan khawatir. "Tapi gue akan kasih Lo kunci cadangan nanti, dan gue akan ngawasin Kevan, tenang aja Lo selama ada gue dia gak akan bisa berlebihan,," Mea sedikit mendongak membalas mata Axel sebentar.
"Kalau Kevan tahu beneran gimana? Apa kalian akan... berantem?" Mea menunduk kepalanya lagi entah mengapa perasaan sedikit merasa tidak enak.
"Lo gak usah mikirin itu,"
Sebenarnya ia ragu dengan ucapan lelaki itu, tapi bagaimana pun juga cuma Axel memang masih punya hati, setidaknya itulah yang Mea rasakan dari sikap peduli Axel itu. Kadang ia sangat heran dengan tingkah Axel yang suka berubah tak bisa ditebak.
"Gimana malam itu, Lo pakai celana gak?" tanya Axel mengingatkannya kembali membisikkan sesuatu yang membuat wajah Mea seketika mulai memanas.
"Gak tau!!" Mea langsung memalingkan mukanya ke arah lain dan memundurkan langkah dirinya dari Axel.
Inem yang melihat hal itu menjadi sangat kesal sendiri. Ia tidak bisa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang itu. Lalu Inem pun beranjak pergi dari sana.
Mereka berdua sudah pulang bersama, Kevan lebih menggunakan mobilnya sendiri. Sedangkan Mea ikut bersama di mobil lain milik Axel. Dibandingkan memilih, Mea tentu saja akan ikut Axel karena hanya cowok gondrong itu yang masih bisa ia percaya walau Axel sangat suka sekali mengeluarkan perintah yang membuat Mea jengkel setengah mati.
Kevan belum juga pulang, mungkin cowok itu lebih ingin menghabiskan waktunya diluaran sana bersama wanita lain baruny itu.
_______
"Mea!! Ambilin gue handuk!!" teriak Axel keras dari dalam kamarnya yang berada dilantai atas.
Mea sedang dibawah lagi sibuk mengurusi hal lain, "iya ada apa?!" sahut Mea tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Axel katakan?"
Axel terusan berkoar-koar memanggilnya. Mea mengerutkan keningnya sebentar. "Axel kenapa sih? Gak sabaran banget?!" gumam Mea sedikit kesal.
"Cepatan Mea jangan lupa bawain!!"
"Iya-iya sabar!!" Mea masih dibawah sana sekaligus bingung sendiri dengan permintaan Axel tadi yang memanggilnya, hah jangan lupa bawain sesuatu? Eh apa tadi kok aku gak dengar ya?! batin Mea ragu sendiri dengan pendengaran.
Tapi sudahlah biarin aja, Axel emang aneh. Pikir Mea.
Axel sudah menunggu didepan pintu kamarnya sambil menyembunyikan setengah tubuhnya dibelakang sana yang nongol hanyalah kepalanya. "Itu anak kenapa lama banget sih?!" gumam Axel tak sabaran.
Dirumah ini sekarang hanya ada Axel dan Mea. Inem sudah pulang bekerja dari rumahnya beberapa saat yang lalu sebelum hampir habis sore menjelang akan malam.
Mea pun baru tiba dihadapannya setelah menaiki tangga untuk mendatangi cowok gondrong itu.
"Me-mea?!" Axel membulatkan matanya terkejut saat gadis itu menyodorkan sebuah pisau di depan matanya. "Lo nga-ngapain bawa pisau sih njirt?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
MEANDRA
Fiksi RemajaDiiincar oleh para lelaki the geng Badboys berkelas untuk dijadikan pacar 'istimewa' oleh mereka yang begitu menginginkannya. Dia adalah Mea Alestara, seorang gadis penuh kesederhanaan yang mempunyai sisi menarik pada dirinya. Cantik dan tertutup. N...
