Happy reading!!
Maaf kalau ketemu typo's!
Mea yang sudah berada di atas dalam kamarnya akhirnya bisa bernafas dengan begitu lega, ini waktunya ia istirahat. Mea pun tepar diatas ranjangnya. Rambutnya yang masih dijerat dua bagian sisi kanan dan kirinya dan kacamata yang bertengger diatas pangkal hidungnya itu menutupi kesan cantik dirinya. Beberapa anak helai rambut mencuat keluar berantakan.
Sedikit peluh mengalir keluar dari pelipisnya. Mea menyapunya sebentar sembari melepaskan kacamatanya dan ia taruh di samping nakas mejanya. Tubuhnya yang telentang di atas tempat tidurnya itu membuatnya benar-benar lelah sambil menatap langit-langit plafon sebentar. Ia harus istirahat dengan cukup. Kali ini adalah kesempatannya, kapan lagi ia bisa menikmatinya terbebas dari dua mulut manja itu mumpul mereka sibuk dengan teman-temannya.
Mea pun terjatuh pingsan dengan kedua mata terpejam. Begitu cepat ia tertidur dengan tubuhnya yang lunglai. Hingga suara-suara di telinganya tidak lagi terdengar.
Sedangkan dibawah sana, mereka memanggil gadis itu. Namun sayang tidak ada sahutan darinya.
"Mea! Mea!" panggil suara dibawah sana. Axel merasa heran, biasanya gadis itu akan segera cepat ke sini. Ketika tengah berpikir, hal itu tak berlangsung lama. Saat yang muncul bukan Mea melainkan Inem yang datang kemari.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Inem.
"Gue manggilnya Mea, bukan lo!" ucap Rendra tidak santai saat melihatnya, ia mengerutkan keningnya tidak suka.
"Siapa lagi ini?" tanya Eboy. Ia memandang cewek itu dari atas sampai bawah sekilas.
"Inem." sahut Axel memberitahukan namanya.
"Inem lebih cakep ya daripada Mea. Demen nih gue." ujar Eboy. Mendengarnya cewek yang bernama Inem itu tersipu malu dan merasa sangat senang dan puas mendapat lontaran seperti itu. Ternyata tidak sia-sia ia berdandan cantik dibandingkan Mea yang tidak memakai apa-apa sama sekali.
"Hehe iya, kenalin gue Petra. Gue suka lihat Lo Inem." ucap Petra setuju sambil mengulurkan tangannya ke arah cewek itu dan membalasnya.
Mereka belum sadar kalau Inem adalah asisten rumah ini. Melihat penampilan Inem berbeda jauh sekali dengan Mea seperti sebelumnya tadi.
Teman-teman anak majikannya saja memuji dirinya yang lebih baik daripada Mea. Ah! Memang Mea nya saja yang sok kecentilan dengan dua anak majikannya itu, terlihat lebih akrab. Padahal Inem juga mau dekatan dengan Axel dan Kevan.
Rendra bergumam cukup kesal atas perkataan Eboy tadi mengenai tentang Mea. Tapi baguslah ada baiknya itu artinya saingannya tidak jadi bertambah. Mungkin hanya Savero yang akan ia singkirkan mengingat temannya itu lebih lama deluan menaruh hati pada Mea.
Kalau Axel dan Kevan 'kan sudah tentu jelas menjadi saudaranya gadis itu, tapi ia pun tidak atau belum tahu hal sebenarnya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Semoga Mea baik-baik saja bersama mereka berdua. Awas saja seperti omongan Eboy sebelumnya tadi, jika dia bisa saja lepas kendali seandainya punya saudari kayak Mea yang polosnya menggemaskan tadi beberapa saat lalu. Jika Axel dan Kevan melakukan sesuatu dibelakangnya pada gadis itu, ia tidak akan tinggal diam.
Inem melemparkan tatapannya ke arah Rendra yang terlihat sangat macho dan maskulin. Anak lelaki itu tipe seperti penggoda yang handal tapi tidak sembarang orang yang dia dekatin. Wajahnya juga cukup sangar meski dia memang tampan menawan.
Sedangkan Savero, Inem melihat cowok yang duduk disampingnya Rendra. Ia tidak tahu siapa Savero. Cowok itu terlihat biasa saja padanya hanya tersenyum singkat ke arahnya. Terlihat tidak perduli padanya sama seperti Kevan tapi anak majikannya itu lebih dingin. Huh! Mereka semua benar-benar tampan. Tapi lebih unggul ketampanan Axel sang pujaan hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEANDRA
Ficção AdolescenteDiiincar oleh para lelaki the geng Badboys berkelas untuk dijadikan pacar 'istimewa' oleh mereka yang begitu menginginkannya. Dia adalah Mea Alestara, seorang gadis penuh kesederhanaan yang mempunyai sisi menarik pada dirinya. Cantik dan tertutup. N...
