Rasa yang sama?!

537 45 16
                                        

Hubungan persaudaraan Mea dengan kedua lelaki tirinya itu cukup renggang. Setelah beberapa hari sejak Kevan menolongnya, Kevan jarang berada di rumahnya lebih lama. Axel pulang larut malam menghabiskan waktunya diluar sana. Sedangkan Mea menutup dirinya dan menjaga jarak demi tak ingin membuat semuanya menjadi sulit ketika ia akan berurusan atau terlibat dalam masalah baru lagi bersama mereka.

Mea juga cukup dingin akhir-akhir ini, ia tidak begitu peduli. Yang hanya bisa membuatnya masih mau tersenyum adalah Rendra, cowok itu akan mengajaknya entah kemanapun asal itu menyenangkan dan seru atau akan menemui kucing kesayangan dari cewek itu sendiri. Jadi Mea sedikit terhibur jika ia ditemani oleh cowok itu.

Sebenarnya Mea tidak mau menjadi beban untuk orang lain, Mea terpaksa menjauhi Dewa juga karena ia tidak ingin membuat kekasihnya itu akan khawatir memikirkan tentang dirinya, sedangkan Rendra, lelaki itu sendiri yang mau menemaninya dikala Mea bersedih. Karena Rendra tahu Mea membutuhkan dirinya untuk tenang kembali setelah mengalami banyak berbagai tiap masalah mendatanginya.

Rendra berusaha akan membuat Mea tidak selalu merasa sendirian gimanapun pun posisi cewek itu berada. Segala upaya cara tingkah Rendra tak begitu membosankan untuk Mea.

Tanpa Rendra Mea tidak tahu akan seperti apa dirinya terlalu dalam bersedih mungkin Mea akan sedikit tidak waras dengan bertingkah tidak wajar karena sering terganggu oleh pikiran-pikiran kacaunya yang sudah-sudah terjadi padanya.

Saat ini Mea berada di kebun taman halaman belakang rumahnya, ia melihat Mamanya sedang menyirami tanaman kesukaannya disana. Mea ingin membantu ibunya itu apalagi saat tau kabar menggembirakan itu bahwa ia akan menjadi kakak perempuan dari calon adik dalam perut ibunya itu atas pernikahan Fressa dengan om Jovan yang telah menjadi ayah tirinya sejak tiga bulan yang lalu.

"Mah Mau Mea bantuin gak?" tawar Mea saat menghampiri ibunya yang baru menoleh menyadari akan keberadaan anak perempuannya itu.

"Gak usah Mea, mending kamu urus yang lain saja. Mama masih bisa sendiri." ucap Fressa seolah merasa sedikit terganggu dengan Mea.

"Tapi Mamah harus banyakin beristirahat Mah, Mea gak mau Mamah jadi sakit nanti." ucap Mea tulus menatap ibunya. Mea hanya ingin ia dekat kembali seperti dulu bagaimana Fressa menyayanginya sebelum wanita muda itu berubah tidak lagi mempedulikan dirinya sejak masih SMP dulu.

"Gak usah ngatur-ngatur Mamah Mea! Sana kamu pergi, Mamah gak suka lihat kamu semakin besar semakin gak jelas apa maunya!!" desis Fressa. Mea sempat terdiam sejenak mendengarnya, ia meringis miris begitu perkataan ibunya seperti tidak mengharapkannya sebagai anak kandungnya.

Mea punya kesalahan apa sih sampai ibunya menolak dirinya untuk membantu wanita itu? Dimana-mana orang tua akan bangga jika mereka diperhatikan oleh sang anak. Padahal Mea ingin membuat hati ibunya sendiri menjadi senang, tapi karena Fressa tidak menginginkannya, ya sudahlah Mea hanya bisa menurut saja dan pasrah jika respon Fressa seperti itu.

Mea rasa itu juga sedikit tidak adil baginya, bagaimana bisa Fressa seakan memusuhi dirinya padahal Mea benar-benar tidak salah, apa ibunya tidak suka akan pada dirinya? Hah! Mea mendesah panjang. Ia harap wanita muda itu benar tetap ibu kandungnya sendiri, meski terasa aneh saja jika tiap kalu sikap Fressa tunjukkan padanya terlihat berbeda-beda sesuka hati wanita itu.

Cukup lama terdiam, Mea pun tersadar, ia mulai hendak beranjak perlahan, namun saat mata Mea menangkap sesuatu yang mencurigakan dan tepatnya lebih dari berbahaya yang membuatnya sontak bergerak cepat dan tanpa sengaja mendorong tubuh ibunya agar menjauh menghindari akan hal itu.

"Akh!! Mea?! A-apa yang kamu lakukan?!" kaget Fressa saat terjatuh cukup keras kebawah hamparan rerumputan hijau itu. Wanita muda itu mendongak ke atas dengan posisi duduknya yang sedikit mengangkang sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba merasakan sakit luar biasa.

MEANDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang