"Gue nganterin Lo sampai sini dulu ya Mea... Lo akan baik-baik aja kok disana. Om Jovan pasti bakalan senang Lo tinggal sama dia dan Kevan." kata Rendra ketika sudah membawa Mea ke rumah besar keluarga baru ibunya itu. Mea menelan ludahnya sebentar.
"Ka-kamu nggak masuk dulu?" tanya Mea. "Sekalian aku mau obatin luka kamu..." Rendra hanya tersenyum mendengarnya dan hatinya juga menghangat melihat raut wajah Mea bagaimana mengkhawatirkannya.
"Nggak perlu Mea, gue langsung cepat balik aja, nanti di rumah gue bisa ngobatin sendiri. Soalnya nyokap gue udah nelpon daritadi kayaknya dia ngerasa khawatir sama gue." jawab Rendra. Mea menggigit bibirnya. Entah kenapa Mea ingin lelaki itu tetap disini bersamanya. Apa yang dirinya pikirkan? Mea bingung sendiri pada hatinya yang serasa tidak mau berjauhan dengan Rendra.
Mea milirik kucing yang sudah dia buat ada didalam karung masih berada di atas motor Rendra. "Tenang aja Mea, gue bakalan jagain kucing Lo sampai dia menemukan cinta pasangannya, terus pergi nyari rumah sendiri. Gue gak akan gangguin hubungan mereka berdua kok,," kekeh Rendra sempat bercanda. Mea langsung memukul pundak lelaki itu.
"Jangan sampe kucingku kabur dari rumahmu. Kalau dia hilang, kamu yang aku laporin ke perlindungan hewan! Biar kamu yang dikandangkan" kata Mea sedikit tajam menatap lelaki itu.
"Galak Mulu Lo! Ntar gue cium juga nih lo biar jinakkan dikit." ancam Rendra membuat Mea membuka lebar matanya sejenak.
"Gak bisa!" Mea tidak akan membiarkannya. Rendra berdecak kesal.
"Yaudah deh nih gue pergi dulu..." Rendra bersiap sudah memasang helmnya lalu menoleh lagi ke
arah gadis itu yang masih berdiri menatapnya sambil menahannya juga.
"Eh tunggu!" Mea memegangi lengan Rendra.
"Sekali lagi makasih ya..." Mea tersenyum tulus saat mengucapkan lalu memeluk sebentar tubuh lelaki itu yang mematung dibuatnya. Rendra berhenti bernafas sejenak. Ia terkejut saat merasakan pelukan hangat dari gadis yang disukainya itu.
"Ehm... Hati-hati di jalan." Mea sudah melepaskan pelukannya. Senyum di bibirnya tak luntur sendikit pun dimata Rendra yang tak lepas memandangnya, ia terpana sesaat. Apa ini benar-benar Mea? Atau hanya ilusinya? Yang Rendra tahu Mea itu judes dan jutek padanya. Baru kali ini Rendra merasa dipeluk oleh gadis yang membencinya bukan yang menyukainya.
"Oh, i-iya Mea... Kayaknya gue bakalan mimpi indah malam ini,," ujar Rendra setelah tersadar kembali mengulum senyumnya sambil terkekeh pelan, menahan rasa gugupnya. Jantungnya juga seakan meledak karena Mea yang memberikan dirinya sebuah pelukan. Singkat tapi sangat berarti, meninggalkan kesan indah bagi dirinya dan hatinya yang selalu menyimpan perasaannya pada Mea.
Lelaki itu pun mulai menjalankan motor besarnya pergi bersama kucingnya tadi. Rendra rasa ia tidak akan sanggup terusan berlama-lama disana. Mea juga berharap Rendra dapat dipercaya bisa merawat kucingnya itu. Mea ikut senang sendiri hari ini. Tadi ia sempat merutuki dirinya yang bisa-bisanya ia memeluk cowok itu atas diluar kehendaknya, apa dorongan perasaan aneh Mea lebih besar untuk melakukan hal itu? Padahal dirinya begitu membenci Rendra. Tapi kenapa juga hatinya seperti mudah dibolak-balikkan oleh perasaannya itu sendiri? Benci sekaligus suka?!
Sadar Mea, ada Dewa yang harus kamu ingat. Kekasih mu, bukan malah orang lain. Rendra hanya menolong mu bagaimana pun juga kamu tidak boleh tersentuh.
Setelah melihat kepergian Rendra yang meninggalkan di rumah megah ini. Mea menarik napasnya cukup panjang. Ia harus siap menghadapinya. Dengan langkah perlahan ia mulai memasukinya.
Jantung Mea mengalami kegugupannya yang takut akan melihat wajah dingin Kevan dan tatapan sinis lelaki itu, anaknya om Jovan, yang sekarang Jovan sendiri juga menjadi ayah tiri barunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEANDRA
Fiksi RemajaDiiincar oleh para lelaki the geng Badboys berkelas untuk dijadikan pacar 'istimewa' oleh mereka yang begitu menginginkannya. Dia adalah Mea Alestara, seorang gadis penuh kesederhanaan yang mempunyai sisi menarik pada dirinya. Cantik dan tertutup. N...
