Surat Cinta dari gadis itu?

10K 283 27
                                        

Guru yang mengajarkan materi di kelas sudah membagikan kelompok untuk muridnya dengan cara sesuai keinginannya menyebutkan secara acak setiap nama siswa masing-masing.
Sehingga mau tidak mau Mea harus berpisah tempat duduk yang awalnya sebangku dengan Sadewa pacaranya, kini harus dipisahkan sementara. Tempat duduknya tidak terlalu jauh, tapi tetap saja Mea enggan berjauhan dari lelaki itu.

Mengingat saat ini masih jam pelajaran sang guru killer yang harus serius mengikuti pelajarannya itu, Mea berusaha untuk hati-hati agar tak membuat gurunya marah sedikit pun, bisa gawat bermasalah nanti dengan nilainya jika sampai terjadi.

Ia ingin berbicara sesuatu penting pada Dewa, tapi tidak bisa ia tahan. Mea bukan tipe pemendam apa yang ingin dikatakan harus ia diutarakan dan itu berlaku hanya untuk orang-orang tertentu dan dekat dengan dirinya.

Mea punya sedikit masalah dengan pelajaran matematika, walau ia bisa mengerjakannya namun ada saja rumus yang tidak bisa ia pahami. Jika Dewa ada disampingnya pasti tidak akan sesulit ini ketika belajar. Ya, Mea sering mendiskusikan soal pelajaran susah dan itupun terbantu karena Dewa membantunya.

Mea mencoba berusaha memanggil nama cowok itu dengan gerakan mulut tanpa suara, tentu saja Dewa tidak dapat mendengarnya. Bodoh! Bisikan Mea kalah tidak ada apa-apanya dengan suara satan. Mea pun merutuki dirinya setelah sadar melakukan hal sia-sia itu.

Ketika itu Mea langsung teringat cara lain untuk mengirimkan Dewo dengan surat kecil dari kertas bukunya yang ia sobek. Lalu menuliskan sesuatu di dalam sana.

"Wo aku ga ngerti nih, nanti aku pinjam catatan lengkap kamu ya.." Yes! Akhirnya Dewo menyadari lemparan kertas darinya dan tak lupa Mea memasang senyuman yang indah, cowok itu ikut membalas senyum kekasihnya itu, setelah sempat lebih dulu mengambil surat yang menggumpal itu dan lalu cepat-cepat membaca sebelum guru killer marah mengetahui dirinya sedang melenceng dari pembahasan materinya.

"Iya yank, nanti aku kasih." balas Dewo pada surat itu. Dan membacanya dengan senyuman tak luntur dari bibirnya begitu Dewo mengasihkan gumpalan kertas itu lagi padanya.

"Ih kamu tau gak aku kesel banget sama pelajaran matematika, udah gurunya galak, ngejelasinnya singkat kayak gak punya waktu aja, eh sekali soalnya keluar malah berakar akar serabutan! Kesel aku tuh jadinya." Mea mengeluarkan unek-unek dalam tulisan itu, kalau Dewo ada disampingnya ia pasti tidak seperti ini kesusahan dalam memahami pelajaran yang ia benci sejak kelas 10 hanya karena dulu ada guru matematika lain yang pilih kasih memberi nilai padanya, padahal jawaban Mea benar tapi malah disalahkan begitu saja tak berperasaan. Bukannya memberikan kesempatan untuk memperbaiki, gurunya malah melempar nilai Mea ke murid lain hingga temannya malah kegirangan meledek dirinya begitu sadis. Meski guru di depannya bukan guru yang dulu karena sudah dipensiunkan. Tapi tetap saja mengingat pelajaran matematika itu membuatnya menyematkan dendam tak terlupakan.

Dewo tidak sempat mengambil surat itu apalagi membacanya ketika ia duduk di barisan kedua agak ke depan, diperhatikan oleh guru matematika saat ini. Tapi Dewo melemparkan surat kedua kepada Mea lebih dulu sebelum guru itu memicingkan matanya karena melihat Dewo tidak bisa diam ditempat duduknya hingga membuat guru matematika itu jadi mulai curiga. "Nanti aku salinin jawabannya ya buat kamu,," dari Dewo yang lebih dulu berhasil mendaratkan, hingga ia tidak bisa lagi menoleh ke belakang ketika guru matematika itu memicing mata tajamnya, setidaknya surat yang sempat Dewo lempar tadi tidak tertangkap dalam penglihatan guru itu. Dewo menarik napasnya sejenak kala itu.

Mea pun tersenyum sumringah lalu membalasnya dengan cepat dan melemparnya lagi ke arah Dewo dan lelaki itu lupa bahwa  seharusnya ia memberitahu Mea untuk tidak lagi membalas suratnya itu,  tapi ini juga bukan kesalahannya, Mea yang tidak menyadari situasi saat ini.

MEANDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang