Happy Reading!! Sorry kalau ketemu typo's bertebaran.....
Mea benar-benar dirawat di salah satu rumah sakit khusus. Axel mondar mandir diluar ruangan sedangkan Kevan mengusap wajahnya dengan perasaan gusar. Ia masih tidak menyangka kalau Mea mengonsumsi obat berbahaya yang bisa berakibat fatal membawa kematian padanya.
"Lo yakin Xel Mea gak ada niatan buat ngecelakain gue?!" Kevan menggeram tertahan, ia masih shock saat mendengar kabar dari dokter yang memeriksanya menyatakan bahwa Mea telah meminum obat terlarang yang bisa saja merenggut nyawa jika tidak segera ditangani. Axel tidak menjawab langsung, jujur ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Ia juga baru tahu kalau Mea jatuh pingsan dengan kondisi sedikit mengenaskan, tubunnya lemah dan wajahnya terlalu pucat, serta tangannya juga terasa lebih dingin.
"Gue gak ngerti apa yang Mea lakuin sama Lo, dan gue benar-benar kaget kalau dia hampir koma,," ucap Axel menatap nanar ke arah jendela dari luar dalam sana, dimana Mea tengah terbaring tanpa sadar.
"Sialan lo Mea!!" Kevan memukul kaca dinding anti pecah itu yang berada di depan atas pintu kamar ruang inap itu dengan ganas kalau saja bukan terbuat dari bahan khusus bisa dipastikan hancur sampai remuk dengan pintunya yang juga bisa ikut terlepas. Ia melampiaskan semua perasaannya yang kacau karena terlalu marah sampai-sampai kaca anti pecah itu harus mulai retak dibuatnya atas dari kekuatan tangan kasar Kevan yang meninjunya.
"Gue harap Lo baik-baik aja Mea" gumam Axel. Kevan mendesah panjang. Ia juga mengacak rambutnya lalu berdiri dihadapan Axel dengan tatapan sulit terbaca.
Beberapa saat kemudian setelah itu tak lama Rendra datang dengan terburu langsung memasuki kamar Mea tanpa peduli suster masih ada saat menegurnya.
Fressa dan Jovan datang dengan terdesak mendengar kabar mendadak seperti itu mengenai kondisi Mea. Kevan hanya terdiam tanpa bersuara. Axel meneguk ludahnya kasar. Mereka pun ikut masuk kedalam kecuali Kevan yang hanya berdiri diluar memandangi dari jauh dengan tatapan datar.
"Mea, plis jangan tinggalin gue! Gue sayang banget sama Lo Mea, sebentar lagi kita mau nikah Mea." ujar Rendra dengan kesedihan. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan Mea pergi menjauh selamanya..
"Mea lagi mau istirahat Jing! Lo jangan ngeluh macam-macam bukannya sembuh malah tambah Budek dia!!" bisik Axel menekankan kalimatnya. Rendra berhenti memasang tangisan air mata palsunya yang jelas-jelas tidak ada. Ia pun langsung menuruti perkataan Axel dan memegangi tangan Mea dengan usapan hangat.
"Cepat sembuh Mea, gue gak mau Lo ninggalin gue. Biar gue aja yang akan pergi jika itu yang mau Lo biar tenang tanpa gue,," kata Rendra lagi tatapannya begitu sendu memandangi wajah layu Mea yang hanya membisu tanpa membuka matanya yang masih terpejam dengan damai.
"Tolong dok beri anak saya penanganan yang lebih baik. Saya harap anak nggak akan kenapa-kenapa." ujar Fressa menatap khawatir sebentar ke arah anak perempuannya. Jovan mengusap punggung belakang wanita muda itu agar Fressa tidak semakin cemas melihat keadaan Mea diatas ranjang dipasangi beberapa selang infus.
"Saya usahakan. Setidaknya pasien tadi sempat terselamatkan dengan tepat waktu. Semoga dia cepat sadar." jawab Dokter itu.
Kevan pun beranjak dari sana tidak mau berlama-lama disana menunggu kesadaran Mea kembali pulih. Ia memutuskan lebih baik pergi sembari untuk menenangkan pikirannya yang masih tidak percaya dengan apa yang menimpanya tadi hingga membuat Mea harus mengalaminya.
***
Tiga hari Mea belum juga sadar, Kevan dan Axel merasa tidak seolah tidak ada yang menyenangkan tanpa kehadiran Mea yang biasanya selalu mengisi hari-hari ditengah mereka jika saling kedua lelaki itu membutuhkan satu sama lain meski Mea harus menjadi budak kesayangan mereka yang penurut.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEANDRA
Fiksi RemajaDiiincar oleh para lelaki the geng Badboys berkelas untuk dijadikan pacar 'istimewa' oleh mereka yang begitu menginginkannya. Dia adalah Mea Alestara, seorang gadis penuh kesederhanaan yang mempunyai sisi menarik pada dirinya. Cantik dan tertutup. N...
