Seorang pemuda manis memasuki sebuah cafe dengan membawa tas gitar di punggungnya. Ia melongok dari pintu cafe kemudian senyum lebar mengembang di wajahnya ketika matanya melihat orang yang ia cari ada di dalam sana. Kakinya segera melangkah mendekati meja kasir untuk menyapa dengan semangat.
"Hai, Kak."
Seorang lelaki muda yang tengah sibuk merapikan uang di kasir mendongak ketika mendengar sebuah suara di depannya. Ia tersenyum kemudian bertanya dengan ramah.
"Tumben baru datang?"
Yang ditanya meringis lucu menampilkan barisan gigi putihnya, ia memajukan badan kecilnya kemudian berbisik pelan seolah sedang membicarakan rahasia.
"Kakak tampan menungguku, ya?"
Lelaki muda yang berdiri di kasir tadi hanya terkekeh dan menggeleng kecil.
"Mau pesan apa?" Tanyanya.
"Pesan cinta kakak, boleh?"
"Yang biasa, ya?"
Si pemuda manis mencebik ketika lagi-lagi ucapannya tak ditanggapi dan lelaki di depannya justru memasukkan sebuah pesanan ke monitor yang ada di hadapannya.
Namanya Lee Felix, seorang mahasiswa seni musik di sebuah universitas yang dekat dengan cafe tersebut. Ia adalah pelanggan setia cafe itu. Setiap pukul 5 sore setelah pulang dari kampus ia pasti akan menyempatkan diri mampir kesana. Niatnya sih bukan untuk minum atau sekedar nongkrong, tapi untuk bertemu dengan pemilik cafe yang masih muda dan tampan yang bernama Seo Changbin. Hanya itu informasi yang Felix ketahui, sekedar nama saja.
"Kakak hari ini pulang sampai cafe tutup lagi?" Tanya Felix setelah menyerahkan selembar uang 100 ribu untuk membayar pesanannya.
"Tidak tau. Kenapa?"
Changbin mencetak nota kemudian menyerahkannya bersamaan dengan kembalian Felix. Pemuda manis itu dengan semangat menerima kembalian, modus agar bisa memegang jari Changbin.
"Tanya saja," jawab Felix yang kemudian pergi dari sana karena ada pelanggan lain yang menunggu di belakangnya. Sebelum itu ia berbalik lalu berucap dengan menggebu, "aku tunggu ya, Kak."
Felix melangkahkan kakinya dengan semangat ke sudut cafe yang jadi tempat favoritnya menghabiskan waktu disana. Ia meletakkan gitarnya kemudian mendudukkan diri di salah satu kursi sembari memandangi Changbin yang sedang bekerja.
"Tampan," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Setelah beberapa saat pemuda manis itu memilih memainkan game sembari menunggu Changbin datang menghampirinya. Untuk apa?
"Pesanan atas nama cintaku."
Felix segera menghentikan gamenya kemudian mendongak menatap seseorang yang datang. Namun setelahnya senyumnya luntur dan berganti dengan wajah bingung.
"Kak Changbin mana?" Tanyanya pada seorang pelayan yang baru saja mengantarkan pesanannya.
"Mas Changbin sedang ke dapur, apa mau saya panggilkan?" Tanya pelayan itu dengan ramah. Felix menggeleng kencang sembari mengibaskan tangannya.
"Tidak usah, terima kasih."
"Baik. Selamat menikmati," ucap pelayan itu yang kemudian meninggalkan Felix yang cemberut di mejanya.
Felix kecewa. Padahal ia sudah semangat menunggu Changbin mengantarkan minumannya, tapi ternyata ia hanya bisa berharap saja. Masa iya setiap ia pesan ia harus meminta Changbin yang mengantar, kan Felix malu jika minta berkali-kali.
Soal nama 'cintaku' itu modus Felix saja agar setiap Changbin yang mengantar lelaki itu akan memanggilnya dengan sebutan manis itu. Jika sudah dipanggil begitu, pasti pipi Felix akan merona karena malu dan jantungnya berdegup dengan kencang. Maklum, efek kasmaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Words 2 [ChangLix]
Fiksi PenggemarKumpulan oneshoot, twoshoot, manyshoot ChangLix Even though I look like I don't care, actually my heart is just for you. Three Words, I Love You Started : 2020, June 2nd Ended : 2020, September 9th ⚠️BXB AREA⚠️ Ini hanyalah fiksi, aku cuma meminja...
![Three Words 2 [ChangLix]](https://img.wattpad.com/cover/227735444-64-k413446.jpg)