Bagi Felix, berdekatan dengan mantan adalah suatu hal yang sangat tidak menyenangkan dan membuatnya tidak nyaman. Ia lelah jika harus terus-terusan akting tidak peduli padahal hatinya menjerit ingin kembali.
Sedangkan bagi Changbin, berdekatan dengan mantan adalah suatu hal yang sangat ia sukai. Melihat wajah manis sang mantan saja membuatnya senang. Pada awalnya ia menggunakan cara pendekatan pada umumnya, namun ketika Felix tak menanggapi ia banting setir dengan mengganggu pemuda manis itu. Meski tanggapannya ketus, setidaknya Felix masih mau bicara padanya hanya untuk memarahi.
Changbin itu budak cinta. Dari dulu. Bahkan ketika mereka masih bersama. Hanya saja Changbin tidak pandai mengartikan rasa, sehingga dia mengambil tindakan gegabah dengan memutuskan hubungan mereka. Sudah begitu dengan alasan yang sangat menggelikan pula. Changbin selalu ingin tertawa jika mengingat alasannya mengakhiri hubungan dulu.
Tapi sekarang tidak, Changbin tidak akan berhenti untuk kembali membuat Felix menjadi kekasihnya. Meski pemuda manis itu tak memiliki perasaan padanya, setidaknya ia sudah berjuang sampai titik darah penghabisan.
Mereka itu hanyalah dua laki-laki remaja yang sama-sama mempersulit diri sendiri dengan perasaan. Padahal keduanya memiliki rasa yang sama, tapi sepertinya keadaan masih senang mempermainkan mereka.
"Changbin."
Si pemuda tampan yang sedang duduk di motornya menoleh dan mendapati seorang perempuan berdiri di sampingnya. Changbin mengenalnya, itu siswi kelas tetangga. Tapi ia tidak tau namanya, tidak penting juga menurutnya.
"Ada apa?" Tanya Changbin menanggapi dengan baik-baik.
"Um.. Kau dekat dengan Lee Felix, kan? Aku melihat kalian berangkat bersama tadi pagi."
"Lalu?"
"Boleh aku menitipkan ini untuk diberikan padanya?"
Changbin menatap datar kertas berwarna pink yang dilipat sedemikian rupa. Ia tidak bodoh untuk mengetahui isi dari kertas itu. Sebuah surat cinta.
"Kenapa tidak diberikan sendiri saja?"
"Aku malu," ucap perempuan itu sembari menunduk malu. Changbin mengangguk lalu menerima kertas yang disodorkan perempuan itu.
"Nanti aku berikan padanya."
"Terima kasih banyak, maaf merepotkan."
Changbin menghela nafas ketika perempuan tadi sudah pergi. Ia menatap kertas di tangannya dalam diam. Hampir saja ia membuangnya, tapi tidak jadi setelah ia mengingat bahwa menyatakan perasaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Perempuan tadi saingannya, tapi Changbin tidak akan bermain curang. Biar Felix yang menentukan.
"Felix!"
Changbin mendongak ketika mendengar suara melengking memanggil nama kesayangannya. Senyumnya merekah ketika melihat Felix sedang berhenti untuk menunggu Jisung yang berlari menghampirinya. Ah, dua pemuda itu lucu seperti anak TK.
Kaki Changbin melangkah untuk mendekat, dan ketika sudah berada di dekat Felix ia tersenyum semakin lebar. Sedangkan reaksi Felix seperti yang sudah ia duga, akan berubah menjadi dingin dalam waktu seketika.
"Aku sedang tidak selera diganggu," ucap Felix sembari menarik tangan Jisung menjauh dari sana. Changbin tentu menahannya, dengan lembut karena ia tidak suka memaksa.
"Aku tidak akan mengganggu, hanya ingin menyampaikan titipan untukmu."
Felix berhenti dan menatap Changbin dengan pandangan bertanya. Tidak mau repot-repot bicara. Changbin peka, ia menyerahkan surat titipan perempuan tadi pada Felix yang langsung menerimanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Words 2 [ChangLix]
Fiksi PenggemarKumpulan oneshoot, twoshoot, manyshoot ChangLix Even though I look like I don't care, actually my heart is just for you. Three Words, I Love You Started : 2020, June 2nd Ended : 2020, September 9th ⚠️BXB AREA⚠️ Ini hanyalah fiksi, aku cuma meminja...
![Three Words 2 [ChangLix]](https://img.wattpad.com/cover/227735444-64-k413446.jpg)