New Normal II

2.3K 361 160
                                        

Ketika Felix mengatakan otak Changbin adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa normal, maka ia mengatakan yang sesungguhnya. Terbukti dari pagi ini ketika Felix akan mandi untuk bersiap ke sekolah, matanya tak sengaja melihat Changbin bersama motor sportnya berada di depan rumah Felix dengan gagahnya.

Felix mengucek matanya untuk memastikan pengelihatannya salah. Namun sampai ia menempelkan wajah di jendela kamarnya pun yang ia lihat masih tetap sama. Di depan sana Seo Changbin sedang bermain ponsel sembari tertawa tidak jelas. Rasanya Felix ingin membolos sekolah saja agar tidak bertemu Changbin.

Felix berlari turun dan menemukan ayahnya sedang bersantai di meja makan sembari meminum kopi dan membaca koran. Pemuda manis itu mendekat, kemudian duduk di samping ayahnya dengan pandangan dibuat sesayu mungkin agar dikira sedang sakit.

"Ayah."

Ayah Felix menoleh kemudian menatap anaknya dari bawah ke atas dan terus begitu beberapa kali.

"Kenapa belum mandi?" Tanya ayah Felix penasaran.

"Hari ini tidak sekolah dulu ya? Aku agak tidak enak badan," ucap Felix harap-harap cemas. Ia benar-benar ingin menghindari Changbin.

"Kenapa? Kelihatannya sehat-sehat saja."

"Aku—"

"Ayo nak masuk dulu."

Ucapan Felix terpotong dengan suara bundanya dari pintu depan. Felix menoleh kemudian matanya melotot dengan dramatisnya ketika di belakang bunda ada Changbin yang masuk sembari tersenyum manis.

"Loh? Felix belum mandi?" Tanya bunda ketika melihat anak bungsunya masih mengenakan piyama bergambar anak ayam. Sedangkan Changbin terlihat menahan tawa melihat piyama yang dikenakan Felix.

"Kenapa ada dia?" Tanya Felix pura-pura tidak tau.

"Tadi bunda keluar untuk membuang sampah, lalu bertemu Changbin yang menunggu di luar. Katanya mau menjemputmu untuk berangkat sekolah bersama. Ternyata Changbin satu sekolah dengan Felix ya? Tapi kok tidak pernah main kesini lagi?"

Bunda memancing! Dulu memang Changbin sangat sering main kesana. Tentu saja, kan mengunjungi rumah kekasih. Tapi sekarang? Untuk apa? Berteman saja tidak. Felix mana mau berteman dengan mantan.

"Iya tante, sekarang aku sering sibuk dengan hobi," jawab Changbin sesopan mungkin.

"Begitu, ya? Beda ya dengan Felix yang kerjaannya di rumah saja makan tidur. Sering-sering lah main kesini agar rumah ramai. Dulu kan Felix juga paling suka jika Changbin main kesini."

Dulu bunda! Itu dulu! Sekarang mana bisa senang. Rasanya Felix ingin meminta bunda diam saja, tapi ia takut dikutuk jadi batu karena durhaka pada orangtua.

"Takut mengganggu Felix, tante."

Felix memicing tidak suka. Changbin itu selalu mengganggunya tiap detik, menit, jam, hari, dan bahkan bulan, tapi dia bilang takut mengganggu? Changbin benar-benar menyebalkan.

"Mengganggu apanya? Felix pasti senang kalau Changbin datang kesini."

Felix kesal sekali. Bukannya senang tapi stres!

"Aku mau mandi," ucap Felix bangun dari duduknya dengan wajah kusut.

"Katanya tidak enak badan?"

"Tidak jadi. Sudah sehat."







Berakhirlah Felix di boncengan motor yang ia sebut motor nungging milik Changbin. Felix sangat tidak nyaman membonceng motor semacam itu. Kalau tidak pegangan ia takut terbang, tapi kalau pegangan gengsi juga. Masa iya pegangan pada mantan? Dan dengan berat hati Felix berpegangan pada kerah jaket kulit milik Changbin. Masalah pemuda itu tercekik nantinya Felix tidak mau ambil pusing.

Three Words 2 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang