Changbin itu tidak pernah mau kalah. Apalagi demi mantan yang paling ia cinta. Sekali lagi, Changbin itu budak cinta. Demi mendapatkan apa yang diinginkannya tentu saja harus diiringi dengan usaha. Selama bertahun-tahun ia selalu berusaha, tapi seperti tidak memetik hasil apa-apa. Namun kejadian beberapa hari lalu dimana seseorang memberikan surat cinta untuk Felix memicu jiwa bersaingnya. Jika perempuan itu memberikan surat cinta, maka Changbin harus memberikan sesuatu yang lebih bermakna.
Changbin terlihat asik duduk di atas pohon yang terletak di pinggiran lapangan sekolah. Bersembunyi di balik dahan dengan buku gambar dan pensil di tangannya. Sesekali ia akan mendongak untuk menatap Felix yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Sangat manis karena rambutnya terus bergerak-gerak ketika berlarian.
"Manis sekali, jadi ingin memeluknya," gumam Changbin pelan kemudian tersenyum malu-malu ketika membayangkan dirinya memeluk Felix seperti dulu.
Rasanya Changbin sangat ingin mendekat dan merayu Felix lagi, tapi ia harus menahannya. Kalau dirinya sibuk menggoda nanti segala rencananya justru akan berantakan dan tidak sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Meski Changbin sering menggebu ketika mendekati Felix, tapi untuk kali ini ia merencanakannya dengan matang. Tentu saja karena adanya ancaman dari saingan.
"Aduh, Fel. Jangan manis-manis dong, aku kan jadi tidak tahan jauh-jauh darimu."
Changbin terus saja bermonolog menggumamkan rasa gemasnya pada Felix. Ini sudah hampir satu minggu dan ia sama sekali belum menggoda pemuda manis itu. Sesekali mereka akan berpapasan atau bertatapan, tapi Changbin memilih menghindarinya karena takut tidak bisa menuntaskan targetnya. Kan bahaya jika ketika Changbin lengah lalu lawannya bergerak lebih cepat. Hanya tinggal sehari dan Changbin bisa kembali mendekati Felix. Ia harus bersabar.
"FELIX AWAS!"
Terdengar suara teriakan dari arah lapangan membuat Changbin mengalihkan perhatiannya dari buku gambar di tangannya. Ia diam kemudian dalam sekali lompatan segera turun dari atas pohon dan berlari ke sisi lapangan dimana Felix terduduk di samping tiang bendera.
"Ini kenapa?" Tanyanya pada beberapa siswa yang mengerubungi Felix.
"Dia menabrak tiang bendera lalu oleng."
Changbin ingin tertawa tapi ditahannya karena tidak mau Felix merasa semakin malu ditertawakan. Pemuda manis itu menunduk, kelihatannya sih tidak begitu sakit, tapi Changbin tau jika Felix sedang sangat malu jika dilihat dari telinganya yang memerah. Pemuda itu jongkok di depan Felix lalu berbisik pelan di telinganya.
"Ayo naik," bisiknya yang kemudian berbalik memunggungi mantannya.
Felix yang memang sedang butuh bantuan untuk keluar dari situasi memalukan pun segera memposisikan diri di belakang Changbin dan pemuda itu dengan sigap menggendongnya pergi.
Changbin menggendong Felix ke arah taman sekolah yang sedang sepi. Ia menurunkan Felix di salah satu kursi kemudian ia berjongkok di hadapannya.
"Malu, ya?" Tanya Changbin dengan nada jahil.
Felix mendengus kemudian menatap Changbin dengan wajah yang ditekuk.
"Kenapa membantuku?"
"Kan membantu kesayangan."
Felix hanya diam, namun ada sesuatu yang bergemuruh hebat di dalam hatinya. Ia menahan nafas dan setelahnya kembali kesal setelah mengingat Changbin sudah menjauhinya.
"Jangan bicara padaku."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka."
"Tapi aku suka."
"Tidak peduli."
Changbin hanya mengangguk saja, sudah biasa diberi jawaban ketus begitu. Ingat, ini sudah hampir 3 tahun ia mengejar Felix. Tentu saja ia jadi sudah terlatih menghadapinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Words 2 [ChangLix]
FanficKumpulan oneshoot, twoshoot, manyshoot ChangLix Even though I look like I don't care, actually my heart is just for you. Three Words, I Love You Started : 2020, June 2nd Ended : 2020, September 9th ⚠️BXB AREA⚠️ Ini hanyalah fiksi, aku cuma meminja...
![Three Words 2 [ChangLix]](https://img.wattpad.com/cover/227735444-64-k413446.jpg)