"Ketika bintang berpijar, apa mereka juga merasa takut untuk jatuh?"
Changbin menoleh ke samping, tepatnya ke arah sahabatnya yang sedang memandang langit sembari berbaring di rerumputan. Pemuda itu meneguk minumannya dan berbicara dengan tenang.
"Tidak ada alasan untuk takut. Mereka hanya perlu bertahan dengan keindahannya."
"Tidak semudah itu," ucap Felix dengan lirih. Pemuda manis itu memejamkan matanya dan kembali bicara.
"Kau tau, bintang yang bersinar dengan indah itu bisa jatuh kapan saja. Kenapa mereka tidak takut?"
Changbin diam. Tangannya bergerak mengusap pelan kepala sahabatnya.
"Apa mereka kembali bertengkar?"
Felix membuka matanya dan seulas senyum pahit muncul di wajah manisnya yang terlihat lelah.
"Bukankah selalu begitu?"
"Menginaplah di rumahku malam ini," ucap Changbin masih setia mengusap kepala Felix.
"Aku sudah menginap hampir setiap hari disana. Aku merasa sungkan pada ibumu."
"Jangan bicara hal yang tidak perlu. Kau sudah dianggap anak oleh ibuku."
"Aku berharap memiliki ibu seperti ibumu."
Changbin hanya diam dan tidak menjawab. Memang ia harus bicara apa? Felix tidak dalam kondisi yang baik untuk ia beri nasihat yang sesungguhnya tidak perlu. Ia tidak mungkin mengatakan "ibumu juga luar biasa," pada seseorang yang harus menghadapi pertengkaran orangtuanya sejak lama.
Mungkin itu ketika mereka duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama, Felix tiba-tiba muncul di depan rumahnya dengan wajah yang dipenuhi air mata. Saat itu Felix menangis kencang di dalam pelukannya, hampir 2 jam dan Felix masih terus menangis sampai akhirnya pemuda manis itu tertidur di pelukan Changbin.
Ketika bangun, Felix menceritakan semuanya. Bagaimana keluarganya yang sebelumnya bahagia berubah menjadi bencana. Segalanya dimulai ketika Felix masih berusia 12 tahun, saat itu ibunya pulang dalam keadaan mabuk berat. Ayah Felix marah tanpa sebab dan ibunya turut serta mengumpat dengan keras. Felix tidak tau apa-apa, namun setelahnya ia tak lagi mendapat kasih sayang dari orangtuanya. Sebelumnya kedua orangtuanya masih memperhatikannya meskipun hanya sedikit karena kesibukan mereka, namun setelah pertengkaran saat itu orangtuanya menjadi lebih sibuk berdebat ketimbang mengasuh anaknya.
Ini sudah bertahun-tahun, kini Felix sudah duduk di tingkat akhir sekolah menengah atas. Orangtua Felix masih sering bertengkar dan pemuda manis itu akan segera pergi dari rumah ketika itu terjadi. Changbin selalu menemaninya, berada di sampingnya meskipun hanya menemani dalam diam. Felix sangat mengandalkan Changbin, mungkin jika ia hidup sendirian tanpa ada sahabatnya itu, ia bisa saja sudah terbaring tak bernyawa di suatu tempat karena mengakhiri hidupnya.
"Aku tidak suka ketika kau hanya diam," ucap Changbin pelan dan ikut serta membaringkan tubuhnya.
"Kau tidak menjawabku, jadi apa yang harus aku katakan?"
"Aku ingin mendengar yang kau rasakan," ucap Changbin yang kini menggenggam tangan Felix untuk memberikan kekuatan.
"Aku hanya ingin mereka segera bercerai, tapi mereka tidak melakukannya."
Changbin menoleh. Ini pertama kalinya Felix membahas tentang itu. Sebelumnya ia selalu bertanya-tanya kenapa orangtua Felix masih bertahan meskipun mereka selalu bertengkar. Ia pikir itu karena mereka memiliki seorang putra, tapi jika dilihat dari sikap mereka yang bahkan tidak merawat putranya, alasan itu tidak mungkin kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Words 2 [ChangLix]
FanfictionKumpulan oneshoot, twoshoot, manyshoot ChangLix Even though I look like I don't care, actually my heart is just for you. Three Words, I Love You Started : 2020, June 2nd Ended : 2020, September 9th ⚠️BXB AREA⚠️ Ini hanyalah fiksi, aku cuma meminja...
![Three Words 2 [ChangLix]](https://img.wattpad.com/cover/227735444-64-k413446.jpg)