Changbin mencoba menelpon Felix untuk memastikan pemuda manis itu sampai di rumah dengan selamat, namun sudah berapa kali ia menelpon tidak juga pemuda manis itu mengangkatnya. Bahkan sekarang ponselnya sudah tidak aktif membuat Changbin tidak fokus dengan rapat yang sedang dilakukan. Ini sudah pukul 8 malam, tapi Felix belum memberikan kabar apa-apa.
Ia tau pemuda manis itu marah, tapi ia bisa apa? Tadi dirinya ditelpon oleh temannya karena harus melakukan sesuatu yang penting dan itu adalah tugas bagian Changbin, jadi mau tidak mau ia harus segera kembali ke aula.
"Bin."
Teman di sampingnya menyenggol lengannya pelan membuatnya tersadar dan kembali fokus pada orang yang sedang bicara. Teman Changbin itu hanya menatap heran kemudian mengedikkan bahunya dan kembali fokus mendengarkan.
Sedangkan Felix saat ini sedang berdiam di kamarnya. Telungkup di ranjang dengan kepala yang disembunyikan di bawah bantal. Ia merasa malu karena tadi di bus sempat menangis dengan menggelikan, lalu ia teringat saat tadi seorang nenek menghampirinya dengan memberikan permen lolipop. Felix kan sudah besar.
Pemuda manis itu melempar bantalnya asal, kemudian berteriak sembari menjambak rambutnya karena masih sangat malu dengan kejadian di bus tadi. Sudah menangis, diberi lolipop pula. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.
Pemuda manis itu memilih menyalakan laptopnya kemudian bermain game dengan headphone yang terpasang di telinganya. Ia sangat asik bermain game sampai tidak sadar jika sedari tadi ada yang membunyikan bel apartemennya.
Felix selesai bermain game ketika waktu menunjukkan pukul 12 malam. Ia menyalakan ponselnya dan ia dibanjiri notifikasi panggilan dan juga pesan dari Changbin. Felix membukanya kemudian matanya terbelalak melihat pesan terakhir yang dikirim Changbin pada pukul 11 malam. Felix berlari keluar apartemen kemudian menemukan bungkusan berwarna putih di depan pintunya. Ia mengambilnya kemudian kembali masuk ke dalam untuk melihat isinya.
Ada cokelat, beberapa makanan ringan, dan juga bunga dengan tulisan yang tersemat disana. Ah, itu tulisan Changbin.
Jangan marah lagi, aku menyayangimu. Begitu isi tulisannya. Felix merasa terharu namun juga merasa bersalah karena ia tidak mendengar Changbin membunyikan bel tadi. Dengan segera pemuda manis itu kembali ke kamarnya kemudian menelpon Changbin yang langsung menerima teleponnya pada deringan pertama.
"Fel? Masih marah? Aku kesana ya? Sebentar lagi persiapannya selesai. Aku akan kesana dengan segera. Jangan tidur dulu, tunggu aku."
Felix menggigit bibir bawahnya kemudian berucap dengan pelan.
"Jangan, sudah malam. Besok saja kau kesini, kalau kau nekat kesini sekarang aku akan tetap marah padamu."
"Tapi, Fel.."
"Aku sudah tidak marah, maaf karena kekanakan. Kau pulang saja dan istirahat, pasti kau lelah. Kita bertemu besok saja, ya?"
"Aku kangen."
"Iya besok kita bertemu."
"Aku menyayangimu, sangat."
Felix terdiam sejenak kemudian pemuda manis itu menjawab ucapan Changbin.
"Aku juga menyayangimu."
"Aku mau beres-beres dan pulang, kau tidurlah jangan begadang."
"Hati-hati pulangnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Words 2 [ChangLix]
FanficKumpulan oneshoot, twoshoot, manyshoot ChangLix Even though I look like I don't care, actually my heart is just for you. Three Words, I Love You Started : 2020, June 2nd Ended : 2020, September 9th ⚠️BXB AREA⚠️ Ini hanyalah fiksi, aku cuma meminja...
![Three Words 2 [ChangLix]](https://img.wattpad.com/cover/227735444-64-k413446.jpg)