117. Lauren's Secret

19K 781 24
                                        

Rasa kebas yang tiba – tiba menyerang lengan kekar Edward membuat pria itu mengernyit dalam tidurnya. Semakin lama, rasa kebas itu semakin terasa, mau tak mau, Edward memaksakan dirinya untuk membuka kedua kelopak matanya yang masih terasa sangat berat

Saat kedua netra coklat gelap itu sudah terbuka, si pemilik kedua netra itu langsung memeriksa penyebab rasa kebas di lengan kekarnya itu. Disana, Edward melihat wanitanya tengah tertidur sangat lelap berbantalkan lengan kekar milik Edward. Senyum tipis menghiasi wajah pria itu

Lauren meringkukkan tubuh polosnya tepat di samping tubuh kekar Edward yang tak dilindungi sehelai benangpun, seolah – olah wanita itu sedang mencari kehangatan dari tubuh Edward yang memang selalu mengeluarkan hawa panas.

Edward terkekeh saat ia melihat wajah lelah istrinya yang kelihatan sangat menggemaskan. Memikirkan fakta bahwa mereka sudah bergulat di atas ranjang selama 3 jam penuh membuat Edward merasa bahagia.

Dengan gerakan lembut Edward menaikkan selimut yang hanya menutupi tubuh bagian bawah Lauren. Setelah selimut itu melingkupi seluruh tubuh polos Lauren, Edward menarik tubuh Lauren ke dalam pelukannya dan merengkuhnya dengan erat.

Lauren nampaknya tak merasa terganggu dengan rengkuhan erat Edward tersebut, wanita itu malah bergumam kecil dalam tidurnya dan semakin merapatkan dirinya kepada tubuh polos suaminya itu

Cup.

Edward mendaratkan ciuman panjang penuh kasih ke atas puncak kepala Lauren, pria itu juga mengelus lembut puncak kepala Lauren

"Apa aku masih ada kesempatan untuk memilikimu lagi?" gumam Edward sendu

Kehangatan saat dirinya memeluk tubuh Lauren mungkin adalah kehangatan yang tak akan pernah didapatkannya lagi dari wanita manapun. Sungguh, Edward tak bisa membayangkan bagaimana dirinya bisa hidup tanpa kehangatan ini.

Andai waktu bisa diputar, Edward tak akan pernah menyalahkan Lauren atas takdir yang telah diterima oleh pria itu. Baik Lauren menjadi istrinya atau tidak, Edward memang harus mengubur cita – citanya sebagai seorang aktor, pria itu tetap harus meneruskan perusahaan keluarganya.

Hah.

Edward menghela nafasnya dengan kasar. Penyesalan memang selalu datang terakhir and it's suck!

Baru saja Edward hendak kembali menutup matanya dan mengistirahatkan dirinya, namun gesekan benda asing di dada bidang pria itu membuat pria itu mengernyit samar. Gesekan itu seperti berasal dari sebuah kain berbahan sutra.

Karena penasaran, Edward menarik dirinya dari rengkuhan erat itu. Saat sudah tercipta jarak Edward dan Lauren, netra coklat gelap Edward langsung menangkap kedua tangan Lauren yang masih dilindungi sarung tangan berbahan sutra.

Ah... Edward ingat, tadi malam, dirinya memang tak membuka sarung tangan itu. Edward terlalu larut dalam pusaran gairah, hingga pria itu tak memusingkan keberadaan kedua sarung tangan Lauren

Edward menatap kedua tangan Lauren yang dilapisi oleh sarung tangan berbahan sutra itu. Entah kenapa, rasa penasaran tiba – tiba mengisi diri pria itu. Sungguh, Edward sangat penasaran dengan alergi yang dialami oleh istrinya itu. Selama mereka tinggal bersama, Edward tak pernah melihat istrinya itu memakai sarung tangan di rumah.

Ada sesuatu yang janggal disini

"Maafkan aku Lauren" bisik Edward pelan sembari menatap wajah Lauren yang masih menikmati tidurnya

Dengan gerakan pelan, Edward menarik tangan kanan Lauren yang masih dilindungi sarung tangan. Sebuah kernyitan dalam sempat menghiasi dahi pria itu saat ia melihat sarung tangan yang dikenakan oleh Lauren menggunakan akses tali sebagai pengeratnya. Tali itu diikat dengan sedemikan rupa dan terlihat ruwet. Meskipun begitu, Edward tak mengurungkan niatnya, pria itu sudah kepalang penasaran.

In Your EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang