bab 51 : ciuman murni, yang mungkin tidak.

12.4K 1K 44
                                        

Keluar dari gedung kantin, aira menarik kakak itu ke kiri.

disepanjang jalan sekolah kusuma bangsa, terdapat satu atau dua murid yang lewat, mereka yang melihat kami berdua dengan posisi aira menarik tangan lelaki itu, membuat orang orang tersebut terhenti dari jalan, dan terkadang ada yang menjatuhkan barang di tangan mereka, atau minum dan mereka tersedak, atau makan dan saat mereka menganga, makanan itu akan dengan senang hati jatuh dari mulutnya.

Semua reaksi itu, membuat aira mempercepat langkahnya.

Saat dia sampai kesebuah lingkungan yang tidak ada siapapun orang berada disana, aira menghentikan langkahnya secara tiba tiba, berputar, dan langsung menjelaskan, "percayakah kakak jika aku mengatakan bahwa semua kebaikan yang membawaku ke suatu bahaya, atau pertolongan itu, semuanya, kadang aku lakukan secara terpaksa?"

Ricky melihat keseriusan dalam wajah gadis itu, lalu kata kata tergesa gesanya, dan untuk sekian lama bergeming,
"lalu saat ini, apakah itu terpaksa?"

Aira mengangguk dengan segera.

Ricky, " dan apa alasan yang membuatmu melakukan hal terpaksa itu?"

"aku.. aku.." aira tentu saja tidak bisa menjelaskan secara keseluruhan, karena berbagai kejadian yang takut aira katakan pada orang bersangkutan, terutama, yang paling penting adalah orang ini.

dia menenangkan dirinya sendiri dan berkata, " itu datang dari alam bawah sadarku sebagai manusia kakak, sejak kecil nenek telah mengatakan padaku jika membuat satu kebaikan maka ada karma baik yang akan didapatkan orang itu di masa depan, entah, aku hanya terbiasa melakukan hal hal itu"

"Jadi.. sebenarnya disini yang salah bukanlah aku, tapi sifatku itu, dapatkah kakak memakluminya untuk saat ini? Aku berjanji kebiasaan ini akan hilang untuk beberapa saat dimasa depan, aku hanya membutuhkan sedikit waktu" saat roh itu pergi dari tubuhku, aku akan berhenti, lagipula aku juga tidak ingin nyawa berhargaku waspada setiap saat kakak. Itulah kalimat tambahan, yang tidak mampu dikatakan aira.

Ricky mengangkat alisnya, dan bersandar di dinding yang berada tepat dibelakangnya, gadis ini membawanya ke tempat tersudut sekolah kusuma bangsa, ada pohon besar yang menaungi mereka berdua, membuat mereka sangat sulit diketahui ditempat ini.

Jika seseorang lewat dan melihat mereka, mereka mungkin berfikir bahwa mereka melakukan hal yang tidak-tidak ditempat remang-remang seperti ini.

"adakah sifat dan dirimu sendiri dapat dipisahkan aira? Mengapa kau seperti memisahkan mereka berdua, apakah sifatmu bukan dari dirimu sendiri?"

Aira ingin lebih beralasan lagi, tetapi saat dia akan mengatakan apa itu yang disebut alasan, sebelum kakak itu menyelanya.

"dan juga, aku tahu kebiasaanmu yang aku perhatikan saat pertama kali kita bertemu, dan sampai saat ini. Kau akan cenderung menenangkan diri, sebelum akan melakukan hal jahat. Dan barusan, saat kau berbicara, kau menenangkan dirimu selama beberapa detik sebelum berbicara lagi" ricky mencodongkan dirinya kedepan, memperpendek jarak mereka berdua, sebelum menyipitkan matanya, " dan saat itu aku tahu, bahwa kau sedang berbohong"

Aira menelan ludahnya, menggenggam ujung roknya, dia sendiri tercekat, dan terkejut dengan hal yang tidak dia sadari. "Be.. benarkah, aku melakukan itu? "

"ya, saat orang melakukan sebuah hal yang tidak jujur, mereka akan cenderung melakukan gerakan yang menandai hal itu, itu yang disebut kebiasaan aira." Ricky melihat mata gadis itu yang saat ini melebar, melihat bulu matanya, dia menjauhkan diri beberapa senti, sebelum mengusap pipi halus gadis itu ditanganya, dengan gerakan menenangkan dia berkata,  "aku tahu bahwa kau orang yang sangat baik, dan juga karna itulah aku jatuh cinta padamu, tapi aira, lihat, saat ini kau sudah memiliki hatiku"

AIRA (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang