"Kau tau kak, semua orang punya cerita tentang hujan" Aira memandang langit dengan air yang turun dari balkon apartemen lelaki disampingnya, dia mendongak untuk melihat dan menutup matanya, merasakan angin yang berhembus, dan suara rintik rintiknya, "Nenekku meninggal saat hujan, pemakamannya juga terjadi saat hujan. Ibu yang menculikku, atau sebut saja dia dengan ibu tiri, juga meninggal gantung diri saat aku pulang sekolah. Itu pun saat hujan" aku juga bunuh diri saat hujan. Di bak mandi, dengan genangan air. Aira menambahkan dalam hati.
Aira menoleh untuk menatap kakak Ricky yang sangat terfokus padanya, matanya benar benar, seperti mendengarkan kata katanya dengan sepenuh hati, sehingga Aira terdorong untuk berbicara lagi, "Saat itu terjadi, aku akan selalu berada dibawah langit, agar orang lain tidak bisa mengetahui bawah aku sedang menangis. Memastikan bahwa mereka tidak dapat membedakan antara air mata, dan air hujan. Aku sangat mencintai air, sehingga aku rela bahkan jika kehidupanku berakhir, itu berakhir disana. Konyol bukan?"
Bukan menjawab, Ricky hanya terus memandang gadis didepannya ini, dan setelah melihatnya dengan seksama, dia mengambil nafas dalam dalam untuk menenangkan diri. Lalu Ricky menyuarakan dengan tenang, "Aku kadang merasa bahwa kau sangat... menjengkelkan Aira. Berapa umurmu saat ini? kenapa kau bisa menghadapi dan memikirkan kematian dengan seblak blakan itu. Kenapa kau sangat egois, kenapa kau tidak memikirkan orang lain yang menyayangimu saat kau memberikan hidupmu untuk menolong orang yang membutuhkan, dan kenapa kau bisa berbicara tentang kematian mu pada orang yang jelas jelas memiliki hati untukmu dengan begitu mudah"
"Sikapmu juga sering membuatku bertanya-tanya,
kau bisa sedih tanpa ada hal yang mengganggumu, seperti saat kau bersama teman temanmu, aku memperhatikanmu Aira. Dan kau tau apa yang lebih aneh lagi, kau sedih bukan saat membahas orang yang membencimu, atau orang yang kau benci, seperti Alena contohnya, tapi kau akan sedih malah saat sedang berbahagia dengan teman temanmu, bersenda gurau dengan mereka. Aku merasa hal ini adalah hal yang paling mengejutkanku. Kau tidak pernah tertawa lepas, kau hanya tersenyum pada mereka"
"Kau memandang mereka, seperti seseorang yang penuh kerinduan. Seolah olah semua ini tidaklah nyata. Jadi, aku sangat ingin mengetahui, apa yang kau fikirkan sepanjang hari. Bisakah kau memberitahuku, sebenarnya apa yang membuatmu sedih? Atau yang membuatmu selalu seperti orang yang menantang kematian untuk datang?"
Menghela nafas karena campuran kejutan dan juga kekaguman dengan pengelihatan kakak ini yang begitu tajam, Aira menarik pandangannya dari kakak itu dan membuat dirinya sendiri tertarik lagi pada rintikan air hujan, "Aku tidak menantang kematian kak, percaya atau tidak, aku takut akan hal itu. Aku tidak sedih, aku hanya berfikir bahwa waktu untuk mengamati kebahagiaan yang aku miliki lebih indah saat memandangnya lekat lekat, aku jarang tertawa, karna saat aku tersenyum itu merupakan gambaran dari diriku yang lebih bahagia daripada saat aku tertawa. Aku sangat menghargai kehidupan ini. Begitu indah, sehingga aku hanya ingin memasukkan semua kedalam otakku, merekamnya dengan seksama dari mataku, untuk kujadikan album memori di kenanganku sendiri. Agar aku percaya, bahwa semua ini, memang benar-benar nyata"
Menggelengkan kepala untuk kalimatnya, Ricky dibuat berfikir lagi dengan hal hal yang dikatakan oleh gadis disampingnya ini. Jika tidak nyata lalu apa? Apa mereka sekarang tinggal didalam mimpinya?
Menyudahi hal itu, dia bergerak untuk berdiri dan membuka pintu balkon diluar, Ricky mengulurkan tangannya, dan berbicara dengan lembut, "Baiklah, aku juga ingin dijadikan memori didalamnya. Mau memasukkanku kedalam sana?"
Aira tertegun, dan terdiam sebelum bisa tersenyum dengan mata dan mulutnya, dia menggapai tangan kakak itu, dan dituntun di bawah langit dengan pemandangan lampu kota saat malam hari yang semarak.
Merasakan air terjatuh tetes demi tetes diatas kepala nya, dan membasuh tubuhnya, Aira menoleh untuk menatap kakak Ricky dengan senyumannya, "kak, salah satu hal yang paling aku hargai adalah bertemu denganmu"
Ricky berkedip sesaat, sebelum tubuhnya bergerak untuk memutus jarak antara mereka, dan mendekat padanya untuk memeluk Aira, "Aku juga. Keputusan paling tepat yang aku ambil adalah memiliki inisiatif untuk mendekatimu didanau waktu itu"
Aira makin mendekat untuk memeluk dengan erat, mencari kehangatan dibawah hujan yang makin deras.
Berfikir dalam hati. Jika aku terlihat lelah suatu hari nanti, apakah kakak mau menarikku kedalam hujan lagi?
"Aku tau kau merasa bersalah akan Berliana, tetapi itu bukanlah tanggung jawabmu Aira. Aku juga yakin, Bahwa Berliana akan bahagia dengan kehancuran orang orang yang membuat hidupnya tidak adil" Ricky menenangkan gadis itu dan mengelus punggung Aira dengan perlahan.
Aira hanya menjawab dengan menggangguk perlahan, mendekatkan diri lebih lagi dalam rengkuhan kehangatan yang di berikan oleh pemuda di depannya ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
RomancePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
