Kepingan vas yang hancur tergeletak di tengah lantai, dengan kondisi yang mengenaskan.
Diantara pecahan itu, terdapat satu gadis yang menangis. Dia terduduk dengan kepalanya tertunduk dengan beruraian air mata, terlihat sangat menyedihkan. sementara kata-kata melengking yang terdengar seperti tak ada habisnya.
"Aku sudah bilang padamu untuk menjauh! Tidak puas kah kau merebut segalanya dariku?!"
Wanita yang terduduk dilantai, terus menangis. "Aku hanya bermaksud untuk makan siang denganmu.."
Mendengar kata-katanya, dan melihat wajah wanita itu yang menangis sangat menyedihkan, orang-orang yang melihatnya semakin merasakan simpati yang jelas tersirat di wajah mereka.
Sementara wajah berliana semakin merah karna marah. melihat gadis itu ingin bangkit dari lantai, dia mendorongnya dengan keras, membuat gadis itu mengerang sakit, karna pecahan vas itu mengenai paha kanannya, membuat luka disana.
"Aku tidak pernah menginginkan itu, bisakah kau meninggalkan aku sendirian! Tidak usah mengganggu ku, dan terlihat di mata ku terus menerus. semakin aku melihatmu itu akan semakin membuatku marah!"
Air mata di wajah alena semakin banyak, menahan rasa sakitnya, dia berusaha memantapkan dirinya untuk berdiri. Tetapi ternyata kakinya bukan hanya tergores, dia juga terkilir. Tetapi sebelum dia akan terjatuh kembali kelantai untuk yang ketiga kalinya, sepasang lengan memenggangnya.
"berliana jelita. Sudah cukup!" Suara lelaki itu penuh geraman tertahan. Dia sudah tidak tahan lagi dengan gadis ini. Sekembalinya dia dari kamar mandi, dia melihat pemandangan yang meluapkan emosinya.
Melihat hadirnya lelaki itu, wajah berliana berubah. Dia dengan cepat berbicara. " wisnu, ini bukan seperti yang kau lihat. aku bisa menjelaskan, aku tidak sengaja mendorongnya, dan mengenai vas... "
Wisnu memotongnya. "Aku tidak butuh penjelasanmu"
Dia dengan cekatan memegangi gadis yang lemah di tangannya yang terus meringis kesakitan.
Mendengar laporan, guru piket dengan cepat datang ketempat kejadian. Wajahnya sangat gelap saat melihat kepingan vas dilantai yang hancur, dan luka di paha salah satu gadis.
Dia menunjuk ke arah gadis yang tentunya sudah jelas membuat semua hal ini terjadi. "Kau ikut kekantorku" suaranya berat. Dia menoleh ke arah murid lelaki yang memegang gadis yang lain, melihat luka di pahanya, dia berkata dengan prihatin." cepat, bawa dia ke UKS untuk diobati"
Lelaki itu mengangguk, dan dengan cepat mengangkat gadis itu ke dalam gendongan puteri, sejak awal sampai akhir gadis itu hanya diam. Tidak mengeluh kesakitan, dia hanya sesekali akan merintih.
Berliana menggertakkan giginya saat melihat wisnu melakukan itu.
Guru menghentikan langkahnya, dan melihat kebelakang dengan amarah. "Kau tidak akan mengikutiku?"
Sudah jelas, jika murid-murid di sekolah ini bukan dari keluarga terpandang, atau memiliki banyak pengaruh, dia tidak akan segan-segan. Tetapi masalahnya murid disini tidak ada yang bisa diremehkan, jika terjadi kesalahan, dia akan dengan cepat kehilangan pekerjaan.
Berliana menoleh ke arah gadis dan lelaki itu lagi, sebelum dengan enggan mengikuti guru.
Saat mereka telah pergi, orang-orang dengan antusias membicarakan.
"Aku sudah bilangkan, pertengkaran mereka bukan hanya karna dia adalah saudara tirinya, itu juga karena wisnu" gadis itu mengatakannya dengan bangga. seperti kata-kata nya akhirnya memiliki bukti.
Lelaki di sebelahnya menggunakan wajah yang tidak menyenangkan untuk berpendapat. "Tentu saja wisnu akan memilih alena untuk disukai, siapa yang akan menyukai berliana dengan sifatnya yang seperti itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
RomancePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
