Saat makan pun, aira masih terlihat bingung, dia tidak mengatakan bahwa dia tidak takut, tetapi kakak itu menafsirkannya seperti itu.
Ruangan ini sangat sunyi, dengan hanya dentang garpu dan pisau yang samar-samar.
ayah dan ibunya yang biasa bertanya tentang apapun, dan mengatakan topik tentang apapun, hanya diam dan menikmati hidangan yang di hidangkan, 5 pelayan berbaris di ujung ruangan membawa nampan mereka sambil menundukkan kepala.
Gambaran-gambaran ini sudah sangat sering dia lihat sekarang, dia sudah mulai terbiasa, tetapi juga tidak menafsirkan perasaannya menjadi begitu tidak ada nya perasaan mengaggap mereka seperti tidak ada, dan itu..
Sudahlah.
Difikir secara luas, pekerjaan bertani lebih berat dari ini.
Hidangan pedas sepertinya mendominasi di meja, mereka menyukai rasa pedas, aira tidak bisa membantu tetapi melihat kearah ibunya dan rene yang tidak terlalu menyukai kepedasan.
Raut wajah mereka terlihat baik baik saja, semua orang sangat tenang, hanya dia sendirilah yang gelisah.
Memakan hanya beberapa suapan, aira melihat bahwa ridwan gani yang duduk di kursi kepala, mengusap mulutnya dengan lap putih bersih yang disediakan di samping, dengan tindakan itu, bibi ava, kakak itu, bahkan ibu ayah, serta rene pun mengikuti.
Dengan tenang dia ikut mengambil lap putih persegi itu untuk membasuh mulutnya sendiri.
"Bagaimana aldi, proyek yang kau kerjakan itu, apakah tranportasi air lebih baik?" Ridwan gani memulai percakapan.
Lalu dimulailah obrolan tentang topik yang sudah aira mengerti.
Baru-baru ini ayahnya bekerja sama dengan PT galangan kapal, untuk pengangkutan pupuk dari kota ke kota, percobaan ayahnya ke bali untuk mengedepankan tranportasi itu cukup lancar, dibutuhkan hanya satu hari lebih cepat dari transportasi darat yang selama ini dilakukan oleh ayahnya untuk sampai ketempat tujuan, yaitu gudang pabrik yang telah dibangun oleh ayah di kota per kota.
Aira mendengarkan mereka berbicara, sambil hanya diam, melihat sekelilingnya yang juga memperhatikan dan tidak menyela.
Sebenarnya edgar juga mengemukakan berita tentang ini kepadanya disekolah, dia sedikit bingung dengan bagaimana cara edgar untuk mengumpulkan segala informasi tentang semua keluarga orang begitu cepat.
Saat fikirannya mulai melayang, mata lelaki paruh baya yang duduk di kursi kepala seperti mengarah padanya, membuat aira terkejut dan duduk tegak.
Mata itu sungguh..
Aira melihat ke arah kakak itu yang duduk tepat diseberangnya, yang seperti tersenyum geli padanya.
Apakah mata dikeluarga ini sangat tajam dan seperti tahu semua yang dia fikirkan?
Lalu dimulailah percakapan dimana ridwan gani akan bertanya pada anaknya, bagaimana pendapatnya tentang hal ini dan itu. aira melihat bagaimana kakak itu menjawab dengan tenang.
Seperti dia telah terbiasa.
Semakin lama dia melihat maka benaknya makin berkelebat, apakah penyelamatnya melakukan semua ini dengan bahagia atau tidak? Disetiap jiwa anak muda usia 20 tahun adalah dimana mereka semakin tau tentang dunia nyata, dan harus mengetahui apa tujuan mereka, sedangkan untuk usia dibawahnya adalah fase dimana remaja tidak berfikir tentang apapun, dan hanya ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan mereka.
Seperti dirinya, diusia 17 tahun dia bunuh diri, karna itu adalah fase pemberontak didalam yang dibangun dan meledak dengan bantuan usianya dan fikirannya yang sempit seiring pertumbuhannya. Lalu dia menjadi hantu selama 3 tahun, yang berarti saat itu dia bertambah umur menjadi 20 tahun. Walaupun seperti itu pun, dia masih belum tahu apa kemampuannya, dan apa hal yang ingin dia lakukan sebagai karir tetapnya dimasa depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
RomancePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
