Mobil melaju melewati banyak resor indah, yang terasa begitu luas, sehingga Aira berfikir, berapa hektar kira-kira semua ini.
Saat tiba, matahari tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbenam, memancarkan sinar matahari keemasan ke bangunan utama yang megah dan elegan di kawasan itu.
Ibunya, Erika, dan juga bibi Ava, sedang bermain dengan burung-burung dipaviliun dekat air mancur,
mereka sibuk memberi makan burung dan juga mengobrol dengan gaduh, ditemani dengan beberapa pembantu yang tengah meletakkan beberapa camilan diatas meja, tidak jauh dari tempat sangkar burung itu berada.
Melihat interaksi yang selalu dilakukan keduanya, Aira menyadari, bahwa hubungan mereka berdua sangatlah tak terpisahkan.
Sulit untuk mempertahankan hubungan persahabatan, jika tidak saling menghargai.
Saat Aira melangkah keluar dari mobil bersama Rene, ibunya, dan juga bibi Ava menghentikan obrolan mereka dan menyambutnya,
Ava meletakkan makanan burung itu, lalu tersenyum pada anak perempuan cantik ini yang sekian lama tidak bertemu menjadi tambah cantik, dan sangat enak untuk dipandang, ''paman dan ayahmu sedang bertanding di ruang catur, sedangkan Ricky ada di tempat penangkaran hewannya. Masih ada waktu sebelum makan malam. Mengapa kau tidak pergi kesana untuk menghabiskan waktu bersama Ricky, Aira?"
Penangkaran hewan?
Kuda?
Tetapi Aira juga memikirkan satu hal lagi.
Kata kata santai yang diucapkan bibi Ava, seperti tidak mengantarkan batasan antara laki laki dan perempuan didalam satu ruangan. Aira menoleh untuk melihat ekspresi ibunya yang tampak setuju, dan berfikir, Keterbukaan ibunya dan juga bibi Ava tentang hubungan sangatlah bebas.
Apakah mereka tidak menyadari nanti jika Aira akan jatuh cinta pada kakak Ricky atau malah sebaliknya jika kedekatan mereka terus menerus terjadi dari waktu ke waktu, atau--
apakah keduanya memang bermaksud kearah sana?
Walaupun hubungan mereka berdua memang telah menjadi seperti itu.
Aira tidak yakin, apakah kedua orang tuanya, atau bibi Ava, ataupun paman Gani sudah menyadarinya atau belum.
''Rene, datang kesini nak, lihat, bukankah burung yang memiliki jambul ini sangat lucu?'' Ava berjongkok untuk mencubit pipi Rene yang membuatnya gemas, dan mengajak Rene pergi ke arah sangkar burung yang berkicau. Lalu menoleh kearah lelaki tegap disamping meja yang tengah berdiri diam, ''Putra, antarkan nona Aira pergi kesana, dengan hati-hati''
Kemudian, Aira mendapati dirinya didalam mobil wisata, pengemudi mobil yang bernama Putra itu membawanya melewati beberapa bangunan terpisah dari lapangan golf, mereka menuju di bangunan di tengah lapangan terbuka yang dikelilingi pagar besi yang tinggi.
Aira mengamati bangunan itu yang menyerupai rangka panjat, bersama dengan gazebo kecil. Sementara, di depan pintu gerbang pagar besi itu, berdiri dua orang yang berjaga.
Aira melangkah keluar dari bus wisata dan dikawal ke arah pagar. Saat dia masuk dan semakin mendekat, dia melihat sosok yang duduk mengenakan kaos abu-abu dan celana jins, menundukkan kepalanya untuk membelai seekor anjing labrador retriever bewarna krem yang besar.
Anjing labrador itu merasakan seseorang mendekat dan mengangkat kepalanya dari pangkuan orang itu.
Aira berhenti, terkejut saat menyadari bahwa itu sama sekali bukan anjing, tetapi seekor singa putih yang belum dewasa.
Setelah diamati lebih dekat, ternyata kedua orang penjaga pagar besi yang mengantarnya masuk terlihat seperti penjaga kebun binatang dan pelatih binatang.
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
RomancePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
