bab 42: sebuah foto

10.8K 917 22
                                        

"binas dharma.. aku belum pernah mendengarnya kurasa, dimana itu?" Masih melihat wanita yang dia kira sebagai pelayan diawal, yang Sekarang berlari seperti kucing ketakutan ke rombongannya disebelah meja itu, remi mencari jawaban dari temannya yang lebih tahu akan dunia daripada dirinya. "Edgar?"

mengembalikan sikap keanggunannya, dengan menyudahi saja amarah akan perbuatan keterlaluan wanita pendendam itu, edgar dengan dramatis, menumpu kakinya dengan anggun, dia ingin minum, tetapi mengingat kembali kenangan buruk minuman neraka beberapa menit yang lalu, dia urung.

Memasang wajah, dia berbicara.
"hanya sekolah biasa, tidak ada yang hebat"

"... lalu kenapa dia bisa berada disini?" Mawar bertanya ragu-ragu.

Caffe ini adalah pusat, sedangkan dikota-kota lain hanya ada cabang. Edgar mengenal pemiliknya, salah, edgar mengenal semua orang bersahaja di negara ini. dan dia ingat, diperjalanan mereka kesini, edgar menyombongkan bahwa dia telah memesan meja untuk mereka, dan berbasa-basi dengan pemilik caffe ini, yang entah apa yang mereka bicarakan.

Edgar mengangkat bahu. " tidak tau, mungkin salah satu temannya adalah orang kaya, dan mereka mentraktirnya kesini. Atau lainnya. kenapa itu penting? Lagipula caffe ini hanya beberapa bintang, aku tidak terlalu menyukai pemiliknya yang kaku itu, dia berbicara seperti penatua bijak, seakan dia tahu akan segalanya. Dia pikir aku hanyalah anak kecil yang bisa diiming-imingi. menelpon dia hanya membuang-buang waktu, dia berkhayal dia sebegitu pentingnya sehingga menjilatku untuk membujuk ayahku, supaya mereka bisa membicarakan bisnis. Tapi, itu benar- benar bukan masalahnya saat ini, kita harus melanjutkan permainan untuk memulai dendam yang tertunda"

Dia kemudian menoleh kearah risma yang memutar matanya, untuk kesekian kalinya, lalu menoleh pada remi. " mulai remi.. aku memiliki dendam yang harus dibalas."

Tetapi remi tidak memulai. Dia menoleh kerombongan itu lagi. Melihat orang yang berjalan kesini, remi berkata. " sepertinya tidak, mereka kembali"

Aira, edgar, mawar, risma menoleh pada apa yang dia maksud.

Satu orang berjalan kesini. Mendekat, dan mereka bisa melihat bahwa dia laki-laki, mempunyai perawakan yang bagus. Terdapat kesombongan digerak -geriknya, tidak cukup tampan, tetapi pakaian yang dikenakannya sangat-sangat berlebihan.

Dia memakai rantai emas dilehernya, cincin emas, lalu.. gelang jam emas.

Sepertinya dia sangat menyukai emas.

Aira tidak tahu apa perasaan aneh ini.
didesanya ada istri kepala desa yang memiliki gelang emas dan cincin emas beruntai-untai. Itu terlihat baik-baik saja menurutnya jika dipakai wanita, tetapi dia baru tahu jika lelaki yang memakainya, itu akan terlihat sangat.. aneh.

Sepertinya edgar benar..

Salah satu teman rombongan itu adalah orang kaya, dan inilah orangnya.

Orang ini mungkin sangat percaya diri akan kekayaannya.

"Apa dia fikir dia seorang mafia?" Risma berkata dengan jijik pada orang yang datang.

Aira melihat risma. Perempuan ini, selalu memiliki mulut bebas, yang kerap tidak bisa menahan omongannya.

Laki-laki itu berdiri didepan mereka, dan menyapa. " hallo, apakah minumannya dan makannanya enak? Jika baik, aku bisa meminta para karyawanku membuatkan menu spesial kami disini"

Lelaki itu tersenyum, dengan giginya yang putih.

Apakah dia menyiratkan bahwa caffee ini miliknya? Dari wajahnya, aira mengetahui bahwa umur mereka tidak jauh beda, apa maksudnya ini milik orang tuanya?

AIRA (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang