bab 46: menjalani apa yang harus dijalani

9.8K 944 10
                                        

Saat semua nya telah terjadi maka, hal yang harus dia bisa adalah menerimanya, keanekaragaman perasaan akan kembali kepada sebuah kalimat diterima atau tidaknya itu semua.

esoknya tepat pukul 7 malam, rene datang kekamarnya untuk mengetuk pintu, "kakak.. "

Saat adiknya yang lucu akan memanggilnya untuk ke empat kalinya, aira datang membukakan pintu, dia melihat tampilan rene yang memakai jas lengkap dengan dasi kupu kupu biru didepan pintu kamarnya, dan berkata mengaggumi, " rene, kau terlihat sangat imut dan tampan, benarkah ini adik kakak?"

Rene tersenyum malu-malu, sebelum memeluk kakaknya, melihat rene dari atas, aira benar-benar kewalahan, adiknya selalu akan menempel padanya setiap kali mereka bertemu.

Aira membawa adiknya untuk turun kebawah untuk menemui ayah dan ibunya yang siap dan menunggu mereka.

***

Memasuki gerbang, mobil tetap melaju, Mereka memasuki lingkungan yang sangat luas, aira melihat hamparan lapangan yang tidak bisa dia lihat ujungnya, terdapat banyak bendera kecil-kecil di lapangan itu, aira merasa bahwa dia bisa menebaknya, " Apakah ini lapangan golf ayah?"

Aldi melihat lingkungan sekitarnya, lalu melihat anaknya, " ya aira, ridwan gani sangat menyukai bermain golf, sehingga dia membuat rumah saja, harus ditambahi dengan itu, dia membeli berhektar-hektar semua ini, hanya untuk golf pribadinya sendiri"

"Ah... begitu" aira mengangguk angguk, walaupun dia sendiri tidak bisa mengerti.

Mobil melaju sedikit lebih lama, aira melihat kebelakang, jarak antara gerbang dan rumah sangatlah jauh, orang tidak akan bisa berjalan kaki sendirian dari rumah ke gerbang nya sendiri, entah kenapa dia merasa bahwa ini semua sangatlah menyulitkan.

Melihat kedepan lagi, samar-samar aira dapat melihat rumah bercat putih di ujung sana.

Mobil berhenti, barulah aira melihat bagaimana rumah seorang nomor 1 terkaya dinegara ini.

Semua orang memang memiliki gaya yang sangat berbeda-beda, seperti halnya rumah ridwan gani.

nyatanya rumah ini sangat indah, perkarangannya terdapat bermacam macam bunga mawar lalu ada rumput terbentang yang dipangkas, bangunannya sendiri tidak bertingkat tetapi sangatbesar, aira berjalan dengan ibu, ayah, dan rene, memasuki pintu yang seperti gerbang besar sendiri, pintunya memang telah terbuka, seperti dikhususkan untuk tamu yang akan datang.

Setelah memasuki pintu besar itu, ada 10 pelayan yang berbaris untuk menyambut mereka, membungkuk, lalu terdengar suara yang pernah didengar aira di suatu tempat.

"Selamat malam bapak aldi, tuan dan nyonya telah menunggu kalian di ruang makan"

Aldi tidak berbasa basi dan langsung menyambutnya, "selamat malam barak, lama tidak bertemu"

Itu dibalas dengan senyuman oleh orang itu, " waktu berlalu sangat cepat, dan disini saya telah menjadi sangat tua untuk bertemu lagi"

Aldi tertawa dan menepuk bahunya,  "apa yang kau bicarakan, wajah muda seperti ini, apa yang bisa dikatakan tua, perbedaannya hanya rambut yang memutih yang bisa diwarnai kapan saja"

Barak..

Oh, dia ingat.

Bukankah ini pelayan yang datang di danau waktu itu, selain william sekertaris kakak ricky sendiri.

Sepertinya dia kepala pelayan disini?

Setelah ayah dan barak berbasa-basi sebentar, Mereka digiring ke ruang makan.

Disanalah dia pertama melihat sosok yang baru dia lihat beberapa hari yang lalu, dan suara yang dia dengar baru baru ini.

Semuanya yang paling menarik menurut aira adalah mata orang itu sendiri, tidak memandang bagaimana itu jarak yang jauh, dia seperti lagi dan lagi akan temggelam dalam kedalamannya.

AIRA (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang