Diruang makan yang sangat besar ini, Ridwan gani menyeka sudut mulutnya dengan serbet, berbicara dengan lembut dan santai, ''Aku tidak akan terlalu formal karena semua orang di meja ini bagiku adalah keluarga. Aku senang kalian semua dapat meluangkan waktu untuk datang kesini. Tentu saja, sekarang bukan hanya tentang membicarakan soal ulang tahunku yang akan diadakan minggu depan. Ini juga tentang usulan yang ingin aku ajukan untuk kesekian kalinya. Melihat bahwa waktu nya pas, aku akan mengatakannya sekarang, dan langsung saja. Bagaimana kalau mempererat hubungan kita lagi dengan pertunangan antara Aira dan anakku, Ricky?''
Tak.
Aira dapat mendengar suara sendoknya yang jatuh ke piring yang telah dia kosongkan isinya.
Jantungnya belum stabil saat dia barusan melihat seekor singa dipenangkaran.
Sekarang, dibombardir dengan kalimat terakhir dari orang terpenting di dunia bisnis, yang memiliki begitu banyak uang didepannya, Aira,
hati nya, tidak bisa menerimanya lagi.
Tetapi,
Secara mengejutkan,
disini, yang tercegang hanyalah Aira.
Bahkan adiknya Rene, tidak bereaksi apapun, tidak tau apakah dia mengerti atau bahkan paham akan situasi yang terjadi.
Aira tidak bisa meluruskan jari-jarinya, saat dia dengan kaku mengangkat kepala, untuk menoleh pada orang disekitar.
Ayahnya, Aldi, mengambil serbet dari pelayan di sebelah dan menimpali, ''Aku akan kembali dengan jawabanku yang sebelumnya, gani, semua keputusan ada di tangan Aira. Aku sebagai orang tua, tidak ingin anakku terbelenggu dengan pemaksaan''
Dengan kalimat itu, Aira merasakan seperti semua udara dan mata menjadi satu arah kepadanya, terasa berat, dan mencekam.
''Ayah, tidak ada yang terburu-buru, kita berdua masih diawal semester kelas dua dan tiga'' Ricky mengikuti arus pembicaraan dan mengambil keputusan tengah. Dia menepuk lembut tangan Aira yang berada di atas meja, bergerak, menenangkannya. ''Aku rasa masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini pada Aira''
Dengan topik yang mengarah kepada mereka berdua, semua mata dengan sadar melihat pada kedua anak yang berkepentingan.
Gerakan yang dilakukan Ricky tidak luput dari pengelihatan orang-orang yang berada diruangan.
Terlebih lagi Erika yang gelisah, dia menghela nafas, sebelum bereaksi juga, ''berikan waktu bagi Aira untuk mempertimbangkan. Mungkin kita telah mendiskusikannya, tetapi Aira baru mengetahuinya hari ini. Bukankah terlalu memberatkan jika meminta jawabannya sekarang?"
''Aku sebenarnya ingin mengatakan untuk menunggu juga'' Ava ikut berseteru, tetapi setelah meminum seteguk minuman dengan lambat, Ava membuat wajah yang sedih, ''... tetapi, aku sangat takut jika tidak diamankan sekarang, Aira akan dibawa lari. Maka dari itu aku menyetujui untuk mengajukan pengikatan ini. Malah aku yang selalu menyarankan dan membujuk Gani dan Ricky setiap jam nya. Aira... bagaimana? Bukannya bibi ingin memaksamu, bibi hanya terlalu menyukaimu sehingga mampu melakukan cara yang licik untuk mendesakmu sekarang. Makan malam ini juga bermaksud untuk membicarkan hal ini, persiapan untuk ulang tahun? Tidak, itu semua hanyalah alasan yang telah bibi rencanakan. Kau tidak membenci bibi Ava mu ini kan Aira?''
Aira menggigit bibirnya saat melihat wajah sedih bibi Ava, terlebih lagi diakhir kata-katanya, mata bibi Ava berubah menjadi merah dan meneteskan air mata, ''bibi Ava--''
Erika memutus, saat dia hampir berdiri dari tempat duduknya, ''tidak Ava, jangan gunakan aktingmu untuk membujuk anakku, itu tidak bisa dilakukan, itu curang''
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
RomancePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
