Bab 102 : Ayahnya yang terbaik

2.8K 363 52
                                        

Dituntut oleh pekerjaan, kakak Ricky biasanya pergi ke luar kota beberapa kali dalam satu bulan,

Hotel Roses sering kali ditampilkan ke dalam berita, untuk halnya promosi, penghargaan, dan keunikannya yang tersendiri.

Merangkum bahwa dalam hal keindahan dan pemandangan. Aira bahkan sering mendengar tepukan tangan dari ayahnya, Aldi, saat membicarakan pencapaian kakak Ricky diusianya yang sangat muda ini.

Kata ayahnya, kakak Ricky adalah anonim yang tidak seharusnya.

Otaknya terlalu sempurna, strategi, ide, tata bicara, sikap, dan sifat, karakter juga, dengan kata lain, ayahnya sangat menyukai kakak Ricky, karna diusia manusia yang seperti itu, ada beberapa tahapan dalam penerimaan situasi,

Secara lumrah, kebanyakan orang dikalangan mereka penuh dengan ambisi untuk hidup serba kelebihan, sadar dari alam bawah, mereka tidak mampu tanpa uang, kenikmatan, dan otoritas diatas semua orang,

Tetapi ada juga sekelompok orang yang karna terlalu tidak diasah, terlalu baik, mudah terombang-ambing dan dipengaruhi, tidak pernah memiliki tantangan dalam hidupnya, menjadi tidak berguna.

Butuh beberapa tahun diusia mereka yang telah matang, mereka baru bisa menerima takdir, memahami bagaimana lajunya hidup, kemudian belajar. Dan akhirnya, bisa Memeluk keadaan.

Sangat wajar bagi anak seumuran mereka untuk membuat masalah.

Ya, benar.

Setiap hari Edgar tidak akan berhenti membicarakan berita-berita dari berbagai kalangan.

Setiap menit sepertinya manusia membuat masalah, lalu Edgar adalah penerima nomor dua selain ayahnya, yang lebih dulu mendengar tentang masalah apa yang dibuat oleh manusia tersebut.

Narkoba, wanita, judi, semua hal-hal, beberapa orang di sekolah sma kusuma bangsa pun, tak jarang, terlibat.

Edgar akan menunjuk satu persatu murid yang bermasalah itu dan berbisik kepadannya, ''Aira, jangan dekat-dekat dengannya, dia terkenal karna ini.. karna itu''

Edgar akan dengan sigap memberitahukannya, walaupun, Aira sendiri tidak memiliki niat menuju kearah sana.

''Dulu ayah diseumuran kalian masih suka bermain. Berkecimpung dalam bisnis secara menyeluruh pun baru ayah inginkan saat satu tahun lulus kuliah. Setelah menikahi ibumu. Sepertinya itu yang mengajari ayah lebih bertanggung jawab akan kehidupan orang dan tidak muluk dengan diri sendiri. Kakekmu Aira, dia tidak pernah memaksakan kehendak, walaupun ayah adalah anak satu-satunya dikeluarga ini"

"Tetapi walaupun begitu, ayah memiliki kesadaran, ayah adalah anak satu-satunya, dan mimpi ayah dalam menginginkan kebebasan seperti sebuah hal yang sangat dipaksakan, Aira, kala itu, takdir ayah sudah menunggu untuk dipegang"

"Saat manusia tidak bisa melawan takdir, ada baiknya untuk menerimannya, karna, tidak baik untuk berseteru dengan jalan hidup itu sendiri Aira'' Aldi melepas kacamatanya, saat melihat berkas terakhir yang sudah dia tinjau, dia memejamkan mata saat lebih menikmati pijatan anak perempuan tercintanya ini.

Aira bergerak dari belakang telinga kearah leher bawah ayahnya, memutar, menekan, dengan terampil. Sudah lama juga dia menguasai keterampilan dalam mulutnya, Aira secara tidak sadar selalu bisa memaniskan kata-katanya, menambahkan sekantong gula dengan nada bicaranya sendiri, "tetapi bagiku ayah tetaplah yang terbaik, aku mendengar dari ibu juga, bahwa sejak ayah memegang perusahaan, ada banyak naik turunnya, pasti sangat sulit juga meyakinkan orang-orang yang sudah lama bekerja dengan kakek, walaupun ayah mungkin sudah lama diperkenalkan pada mereka oleh kakek, sifat orang berbeda-beda, dan mereka memiliki pendapat masing-masing, bukan ayah?"

AIRA (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang