"Mawar, jika kau menambah waktu 1 jam lagi maka aku akan menyerah sekarang juga" remi sungguh sungguh dengan kata katanya.
" 1 jam menangis dikelas, dan sekarang 10 menit menangis di kantin, aku sangat kagum dengan caramu bertahan" edgar disamping remi juga menambahkan untuknya,
Sambil mendengarkan, mawar menanggapi dengan ketidak pedulian, dia mengambil beberapa lembar tisu lagi untuk menghapus air mata, dan hidungnya yang sudah merah.
Aira masih sangat setia dengan tugasnya, menepuk nepuk mawar di sela sela dia tersenyum dan memberi tanda dengan jari telunjuk, isyarat diam dengan halus pada mereka.
Risma memutar matanya melihat mawar yang meringkuk dipelukan aira dengan tak tertahankan, " apa kau tidak lapar mawar? Atau haus? Sudah beberapa liter yang kau buang percuma, dan kau masih tidak merasakan keduanya?"
Melihat tidak ada tanggapan darinya, risma meneruskan, " kalaupun begitu ini sudah sepuluh menit berlalu di kantin, dan kita hanya memiliki waktu istirahat 1 jam, 40 menit lagi untuk masuk kelas, meskipun kau tidak lapar, aira masih butuh makan"
Mendengar kata kata menusuk dan tidak menghibur sama sekali dari mulut teman satunya ini mawar telah terbiasa dan mempunyai kekebalan tersendiri.
dia memikirkan bahwa ada benarnya juga, dan untuk terakhir kalinya dia meraup beberapa lembar tisu untuk menyeka ingus dan air matanya sebelum herdehem menstabilkan suaranya, " ... benar"
Risma meliriknya dengan cemohan, sebelum membuat suara, " duduk saja, aku akan mengambilkannya"
Karena kata katanya keempatnya membuat tatapan keanehan mengarah padanya.
Risma," ...Apa?"
"kau akan mengambilkan makanan untuk kami?" Edgar bertanya dengan ketidak pastian, seperti dia salah pendengaran.
"Tentu saja tidak, aku mengambilkan makanan untuk aira dan.. mawar, kau dan kau" risma menunjuk pada edgar dan remi, " ambil sendiri makananmu"
Mawar menunjuk dirinya sendiri,
"aku juga?"
Pertanyaan itu memenuhi otak keempat yang lainnya, risma, seorang putri risma tidak mengherankan hanya mengistimewakan aira, dan mereka sudah terbiasa melihat dia memesan, mengantri, untuk makanan aira walaupun selalu ditolak oleh orang yang bersangkutan.
Mereka berempat melihat risma lagi.
Tetapi sekarang orang ini akan mengambilkan untuk satu orang lagi dan itu adalah mawar.
Remi, mawar, risma, edgar, bersekolah ditempat yang sama, bukan hanya mereka, rata rata semua orang disekolah dasar sampai sekolah menengah di sma kusuma bangsa adalah alumni yang sama, karena mereka hanya menginginkan yang terbaik, dan yang terbaik itu adalah pilihan masing-masing di kota pusat ini.
Jangankan perlakuan yang sepele, kata kata lembut pun nyaris tidak pernah mereka dapatkan dari mulut risma, apalagi mengambilkan makanan.
Masihkan gadis ini adalah risma?
Aira memperhatikan risma yang ditatap dengan intens dan melihat risma berubah menjadi malu sebelum tersenyum.
Sepertinya risma adalah seseorang yang bermulut tajam tetapi lembut didalam.
Dia hanya butuh sesuatu tarikan untuk melakukan hal-hal itu
Risma memelototi mawar, dan berkata dengan geraman, " kau. mau. atau. Tidak?"
... walaupun dia menunjukannya dengan sangat sadis.
Mulut mawar berkedut, dia dengan cepat berkata, " ambilkan, ambilkan"
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
Storie d'amorePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
