Karna dia tidak tau harus mengatakan apa. Saat manusia sedang terpojok, hanya ada satu cara untuk nya, yaitu, sebuah penyangkalan. Berkedip polos dan berbicara dengan rasa untuk dikasihani, Alena mengatakan, ''aku tidak tau apa maksudmu Aira, apa maksudmu.. Kau tidak ingin berteman denganku?"
Suara Alena begitu lemah lembut tetapi sepertinya sengaja diperbesar untuk membuat seluruh orang disekitar mereka yang tadinya sibuk mengerjakan apa yang mereka kerjakan menjadi mengarah kearah sini.
Gadis ini benar-benar haus akan perhatian.
Melihat orang disekitarnya, Aira tersenyum, ''aku kenal orang sepertimu dulu. Didalam mimpi. Orang sepertimu, membuat kebaikan orang lain seperti sebuah tangga, hanya benda untuk bisa membuatmu naik keatas. Musuh yang kau buat dengan sengaja, untuk membuatmu tampil lebih bersinar. Yang dikatakan teman, tapi hanya orang, untuk kau manfaatkan''
Senyum Alena sudah menghilang dari wajahnya, dia berkedip dengan enggan, dan lebih membuat aksi lagi, ''aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, aku, aku hanya ingin berteman denganmu Aira. Kenapa kau tidak ingin menjadi temanku? Apakah karna aku hanya anak haram?''
Membuat identitasnya sebagai tameng. Alena mendekat beberapa langkah ke arah Aira, melihat kedekatan mereka, Aira menghela nafas bahwa dia akan membuat sebuah drama yang kekanak- kanakan sekali.
Tepat setelah Alena akan membuat sebuah trik terjatuh, layaknya Aira yang telah mendorongnya, sebuah bruk! Buku yang jatuh membuat triknya tidak jadi dia lakukan, dan hanya tercegang. Melihat Aira yang sudah jatuh dilantai dengan buku yang tadinya ada ditangannya.
Matanya bahkan terbelalak, dan mulai melihat sekelilingnya.
Malaikat yang baik ? Orang yang polos sampai menjadi bodoh apa?!
Gadis didepannya ini hanya iblis!
Tidak berbeda darinya!
Mawar yang menemani Aira untuk mengembalikan sebuah buku, telah selesai mencari cari buku yang dia butuhkan diperpustakaan, dan sedang dalam perjalanan ditempat Aira berdiri, tetapi melihat kerumunan yang agak ramai, di mulai mendapat firasat buruk.
Dia datang tergesa gesa memisahkan perkumpulan hanya untuk melihat Aira, sahabat beharga nya duduk dilantai, dengan buku yang jatuh disampingnya, menunduk diam.
Sontak dia langsung berteriak pada pelakunya, ''APA YANG KAU LAKUKAN?''
Sepanjang hidupnya, Mawar tidak pernah berani mengeluarkan suara sekencang ini, dia sudah belajar akan tata krama, dan sikap anggun saat usianya 5 tahun. Ibunya akan menyuruhnya makan perlahan, berbicara secukupnya, berteman dengan orang orang tinggi, dan lain sebagainya. Ini pertama kali dia berteriak dan merasakan hatinya membara karena amarah.
Membantu Aira berdiri, Mawar menggigit bibirnya untuk menahan amarah saat di melihat Alena yang berdiri didepannya.
Aira diam saja sejak tadi , Mawar tidak menanyai nya karena dia tau bahwa yang salah disini pasti bukan Aira, dan takut sahabatnya mungkin syok dengan kejadian barusan. Mawar tidak bisa bertengkar, hanya satu orang yang dia butuhkan untuk menangani gadis munafik seperti Alena.
Mengeluarkan handphonenya, Mawar berkata pada orang diujung sana. ''Alena mendorong Aira, jatuh kelantai, kami masih di perpustakaan sekarang''
Lalu menutupnya.
Dan tidak lama kemudian, sebuah teriakan yang membabi buta datang dari seorang ahli pertengkaran, dan bermulut pedas itu.
''KAU APAKAN AIRA HAH!''
Suara Risma bahkan lebih seperti memakai sebuah pengeras suara disini. Bergema, memenuhi ruangan.
Perang dunia ketiga pun terjadi, dimana Risma tanpa kata-kata menjambak rambut Alena, dengan penuh kekuatan.
Aira terbelalak, dan tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Dia tidak menyangka Mawar akan menelpon Risma.
Beranjak untuk menghentikan jambak menjambak itu, Aira dihadang oleh Mawar, Edgar, dan Remi yang anak baik, tetapi sekarang sepertinya menjadi jahat, dengan berkata secara bersamaan padanya, ''jangan Aira''
Mawar memegang bahunya dengan lembut meyakinkan, ''Aira ada kalanya sebuah kejahatan harus dibayar dengan kejahatan supaya orang lain tidak meremehkanmu''
Edgar berkata padanya dengan senyuman miring melihat pemandangan rambut Alena yang ditarik tarik, ''orang seperti itu, harus diberi pelajaran Aira. Siapa dia berani mengganggumu''
Remi yang merupakan anak teladan, dan sangat baik hati, mengatakan kata-kata kejam juga. Yang sangat jarang terjadi, ''sepertinya aku harus membawa si Alena itu ke klub karate, dan menyuruh kakak senior perempuanku memukulinya"
Memegangi tangannya yang tidak sengaja terbentur dilantai tadi, dan teman teman yang ada didepannya. Aira tidak tau bagaimana hal hal bisa menjadi seperti ini.
Seperti yang dia katakan sebelumnya, di kehidupan dimimpi itu dia memiliki teman yang bukan teman, dan gerak gerik, tata bicara, sikap lemah lembut, pelerai perkelahian, yang selalu berakhir dengan perkelahian yang lebih brutal, adalah orang yang dikatakan sebagai orang yang hanya baik padanya itu, tanpa tau dia dimanfaatkan di mimpi itu, Aira membuat orang munafik itu sebagai sahabat satu satunya.
Membelanjakan semua uang nya yang diberikan oleh ayah untuk sahabatnya itu, menuruti disuruh membeli ini dan membeli itu. Tanpa menyadari dia diperlakukan seperti sebuah alat, dan menjadi babu.
Orang yang dikatakan sahabatnya itu sepertinya hanya ingin membuat dia sebagai tempat sampah pengeluhan. Dimana jika dia sedang benci dengan seseorang dia akan mengeluh padanya, bahkan akan membagi rencana untuk menyakiti orang yang dibencinya tesebut.
Hal paling sering orang munafik yang memanfaatkannya itu lakukan adalah. Memfitnah.
Maka dari itu, sebelum Alena mampu untuk jatuh dilantai layaknya dia mendorongnya, Aira sudah menjatuhkan diri duluan. Karena takut terlalu lambat, dia tidak sengaja membenturkan tangannya sendiri.
Dia tidak berharap bahwa Mawar yang biasanya berkata pelan akan berteriak seperti itu. Lalu datangnya Risma, Edgar, dan Remi, yang bisa dilihat dari keringat mereka, bahwa mereka berlari terburu- buru untuk ke perpusatakaan. Menjadi seperti ini saja.
Apakah dia sekarang sama dengan orang munafik dimimpi itu yang sering melakukan pemfitnahan?
Tidak, dia bukan. Ini hanya pembelaan diri.
Seseorang yang tidak bisa membela dirinya sendiri disaat genting. Orang itu akan cepat hancur oleh dunia yang kejam Aira.
Orang-orang yang memamerkan atau menunjukan kepolosan, adalah orang-orang yang sama sekali tidak polos.
Itu lah yang kakak Ricky katakan beberapa hari yang lalu ditelephon.
KAMU SEDANG MEMBACA
AIRA (On Going)
RomancePada usia 17 tahun Aira bunuh diri Lalu dia terbangun lagi, kembali diawal untuk mengubah kebodohan- kebodohannya dimasa lalu. ••••• "AIRA VELIKA! KAU MULAI LAGII!" Tertidur diranjang rumah sakit dengan lemah, teman- t...
