[ SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !! ]
Clara Maurine Nasution, yang memiliki catatan buruk di mata seluruh guru, serta murid SMA Bhineka Bangsa. Justru, memilih untuk berpacaran dengan Haruto Rasendra Pratama, yang dikenal pembuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ah!!" jerit Clara tiba-tiba, dan langsung terbangun dari tidurnya. Setelah sebuah mimpi buruk, membuatnya kehilangan akal.
"Kenapa gue mimpi kejadian itu sih?! Padahal, gue udah coba lupain!" seru Clara kesal, sesaat bibir Haruto yang sudah merenggut ciuman pertama Clara, di dalam air kolam renang kala itu.
Suara tawa menyambar, bersamaan dengan seorang Flora yang masuk ke dalam kamar. "Mimpi apaan barusan? Sampai teriak-teriak kaya gitu. Ah, jangan-jangan mimpiin kak Haruto, ya," tebak Flora dengan tawa.
"Berisik lo!" murka Clara melempar bantal pada Flora.
"Tapi, tunggu. Kenapa di bawah bibir lo ada jerawat, Kak? Dan, kapan tumbuhnya?" tanya Flora mendekat membuat Clara langsung meraba bawah bibirnya, yang terasa sedikit berbentuk.
"Gue nggak tahu," sewot Clara.
"Pasti jerawat itu tumbuh, karena lo lagi jatuh cinta? Hati lo berbunga-bunga, sampai akhirnya ...." Kali ini Flora menghindar, saat Clara kembali melemparkan bantal kepadanya.
"Pergi dari kamar gue!" usir Clara kasar. Namun, Flora justru mengambil skincare dan bedak di atas meja riasnya.
"Gue ke sini mau pinjem ini, karena nanti gue ada ekskul photografer. Dan, model yang mau gue foto harus kelihatan cantik 'kan," ujar Flora membuat Clara bangkit dari tempat tidur, dan mengejar kepergiannya sampai ke kamar Flora.
"Jangan pakai punya gue bego, kalo buat orang lain lo bisa beli di toko."
"Jadi, kalo skincare sama bedaknya buat gue. Boleh?" tanya Flora, membuat Clara langsung mengambil paksa skincare dan bedak di tangan Flora. Lalu, Clara kembali ke kamarnya dan mengkunci pintu.
Clara terduduk di kursi meja rias. "Huh! Dasar, adik kurang ajar. Setiap hari buat gue naik darah terus, rasanya pingin gue cakar-cakar otaknya."
"Ah, ini kenapa jerawat gue kelihatan jelas banget." Clara terperangah, saat mendapati jerawat membekas tepat di bawah bibirnya.
"Apa gue tutup aja pake bedak? Tapi, masa gue dandan sih cuman buat ke sekolah doang. Gue 'kan nggak biasa pakai bedak, dan semacamnya. Ini aja kalo nggak karena mamah, udah gue buang alat-alat make up. Kenapa sih, mamah selalu menutut gue untuk tampil sempurna? Sedangkan, Flora dibiarkan begitu aja. Gue harus pintar, biar bisa jadi dokter. Terus, gue harus cantik, dan bisa merias wajah, biar nggak malu-maluin kalo berangkat ke sekolah. Tapi, lihat Flora? Dia tampil biasa aja, bahkan Flora nggak pernah dipaksa untuk ini dan itu. Mamah, sama papah memang nggak pernah adil."
Clara menekuk wajahnya, hingga kekesalannya berakhir dengan sebuah keputusan. Untuk mewarnai sedikit wajahnya pada hari ini, supaya jerawat di bawah bibirnya tidak begitu terlihat jelas. "Apa gue perlu pakai lipstik juga? Ah, terlalu berlebihan nanti." Clara enggan menyentuh pewarna bibir, yang berada di dekatnya itu. Ia lebih memilih untuk menutup jerawatnya, menggunakan skincare, bedak dan bloseoon.