118. LOVE or GOD ?

24 1 0
                                        

"Sekarang, gue nggak akan memaksa lo lagi buat jadi pacar gue, Flo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sekarang, gue nggak akan memaksa lo lagi buat jadi pacar gue, Flo. Tapi, lo harus ingat satu hal. Kalo perasaan gue akan tetap sama, gue mencintai lo sampai kapan pun."

"Makasih, ya, Flo. Udah ada dihidup gue, walaupun gue nggak bisa jadi seseorang yang istimewa di hidup lo. Tapi, gue bahagia setiap kali gue tau kalo lo masih ada di bumi. Maaf, kalo gue sering ganggu waktu lo. Kalo lo butuh apa-apa, jangan lupa kasih tau gue, ya," imbuhnya kemudian beranjak pergi.

Flora meremas bolpoin digenggamannya, tanpa sebab pun air mata menetes di kedua pipi. Ia enggan memandang kepergian Devano dari sana, dan tetap berdiam diri di tempat. Lalu, setelah Devano benar-benar pergi meninggalkan lapangan basket, ia langsung menyeka air mata dengan kasar dan pergi.

Kelas kembali dimulai, dengan suasana yang cukup sunyi dan hening. Beberapa guru telah memberikan ulangan mendadak, di setiap kelas 12 termasuk kelas Clara. Sehingga, tidak ada yang membuat gaduh selama ulangan itu berlangsung; kecuali, jika di antara mereka menyontek jawaban.

Flora terus mencorat-coret buku tulisnya, ia tidak memperhatikan seorang guru yang sedang menjelaskan materi sejarah. Bahkan, Bella yang duduk bersebalahan dengannya, sama sekali tidak dipedulikan. "Lo kenapa sih? Dari tadi, corat-coret buku sama ngelamun terus?" tanya Bella.

"Nggak mungkin banget, kalo dia menjauh dari gue," gumam Flora lantas tanpa sengaja jari itu menyentuh bibirnya, dan mulai mengingat kejadian saat Devano menciumnya di lapangan basket. Beruntung, tidak ada satu pun murid di sana.

"Ahs, sial," umpat Flora saat menangkap bolpoin itu di tangannya, ia uring-uringan sebab bolpoin tersebut berhasil didapatkan, tetapi dengan cara yang tidak masuk akal. Devano, benar-benar sudah mengontaminasi perasaan Flora saat ini.

Waktu pulang yang ditunggu-tunggu, akhirnya tiba. Clara yang sedang bahagia, sedangkan Flora tampak menderita; terjebak perasaanya sendiri. Langkah kecil itu menghampiri seseorang, yang tengah berdiri di dekat jendela kelas.

"Lo nungguin gue?" tanya Clara hanya mendapat anggukan darinya, yang memang sejak tadi berada di sana.

"Kenapa tadi lo nggak ke warkop Mpok Ijah? Waktu istirahat gue di sana loh," ujarnya.

"Gue rapat OSIS."

"Oh, iya, gue lupa kalo sekarang hari Senin. Tapi, kenapa tadi pagi nggak ada upacara, ya?" Clara bertanya seakan-akan ia menginginkan adanya upacara, padahal tidak sama sekali. Sebab, upacara satu-satunya kegiatan yang dibenci olehnya.

"Lo lupa, kalo di sekolah ini upacaranya itu dua Minggu sekali. Karena Minggu kemarin udah, jadi Minggu ini nggak," katanya masih saja datar, bahkan bekas senyuman tidak terlihat sama sekali di sudut bibir itu.

"Ah, Gavin! Kenapa muka lo selalu kelihatan serius sih?" Clara merengut, ia menghentakkan kaki di lantai.

"Gue nggak suka liat muka lo yang flat, datar, nggak ada ekspresi sama sekali. Udah kaya mayat hidup, tau nggak!" Clara berseru kesal.

DIFFERENT to be SPECIAL || TREASURE [ REVISI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang