[ SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !! ]
Clara Maurine Nasution, yang memiliki catatan buruk di mata seluruh guru, serta murid SMA Bhineka Bangsa. Justru, memilih untuk berpacaran dengan Haruto Rasendra Pratama, yang dikenal pembuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Clara mengedarkan pandangan ke segala sudut ruangan, yang terpajang pigura besar di dinding berwarna putih itu. Tampak sekilas senyuman bahagia, terpancar dari wajah yang berada di pigura tersebut. Seperti sebuah keluarga yang hangat, dan lengkap. Clara tertuju pada Gavin, yang berdiri tegak di samping seorang gadis cantik di sana. Sementara itu, kedua orang tuanya berada di sisi mereka.
Sesaat, seorang gadis yang berada di samping Gavin pun datang, memasuki ruangan apartement itu. Dengan wajahnya yang penuh ceria, dan senyuman lebar. "SHALOM!" salamnya, dengan penekanan.
"Kak Gavin, ini siapa?" tanyanya lugu, memandang Clara canggung.
"Dia Clara, pacar Kakak." Gavin membuat gadis itu langsung mengulurkan tangannya, dengan senang hati Clara menerima tangan itu. "Hallo, Kak! Aku Gloria, panggilannya Glo. Adiknya Kak Gavin, salam kenal, ya!" serunya membuat Clara tersenyum.
"Hai, Glo!" balas Clara. Namun, perempuan tua yang masih duduk termangu di sofa, membuka suara dengan intonasi tinggi.
"Glo, masuk ke kamar! Cepat!" suruhnya, sehingga jabatan tangan itu pun terlepas.
Perempuan tua itu, menatap Clara penuh benci. "Pergi kamu dari rumah saya, dan tolong jangan mendekati Gavin lagi!"
"Pergi!!"
"Ra, sebaiknya lo tunggu di luar dulu, ya. Biar gue ngomong sama Oma," lirih Gavin membuat Clara mengangguk, lantas ke luar dari ruangan itu. Namun, Clara masih bisa mendengar percakapan di antara Gavin dan Oma-nya dari balik pintu.
Clara merunduk lemah, kemudian meraih kalung yang tergantung di lehernya. Mengusap liontin itu, dengan napas yang berkali-kali ia embusan. Rasa sesak pun kembali dirasakan olehnya, saat kalimat perjodohan terdengar begitu jelas dari dalam ruangan.
"Oma, sudah punya jodoh buat kamu, Gavin."
"Oma, Gavin ini udah besar. Gavin, berhak menentukan pasangan sendiri. Jadi, Oma nggak perlu menjodohkan Gavin, ya. Karena Gavin, udah mencintai Clara."
Hanya suara lembut itu yang terakhir Clara dengar, hingga beberapa saat Gavin membuka pintu dan keluar. "Gue anter lo pulang, ya," ujar Gavin menatap sendu, Clara yang terus saja merunduk.
Tangan Gavin menggandeng pergelangan tangan Clara, mereka berdua berjalan berdampingan memasuki lift. Kecanggungan lagi-lagi menimbulkan jarak, yang menuai keheningan di antaranya. Sesampainya di rumah Clara, masih tidak ada perbincangan.
Gavin menelan ludah, tampak jakun yang naik-turun. Lalu, membasahi bibirnya dan menoleh ke Clara. "Udah sampe, Ra."
"Vin, maafin gue, ya," ujar Clara memberanikan diri untuk memulai perbincangan itu.
Gavin diam, tetap memandang Clara. Lantas, Clara pun mendongak supaya dapat menangkap wajah Gavin. "Gara-gara gue ngajak lo pacaran, lo jadi dimarahin Oma lo. Dan, harusnya gue sadar. Kalo kita beda, kita nggak mungkin bisa bersama," ujar Clara berkaca-kaca.