[ SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !! ]
Clara Maurine Nasution, yang memiliki catatan buruk di mata seluruh guru, serta murid SMA Bhineka Bangsa. Justru, memilih untuk berpacaran dengan Haruto Rasendra Pratama, yang dikenal pembuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tapi boong 😝😜
Jangan lupa Vote, Komen dan Share. Terima kasih <3
***
Reinald menangkup kedua bahu Clara, dengan bola mata yang sejak tadi berkaca-kaca. "Clara, kamu harus bisa mengikhlaskan dia, ya."
"Siapa yang Papah maksud? Siapa yang nggak bisa Papah selamatkan?! Siapa, Pah!" bentak Clara dengan membulatkan bola mata, yang sudah basah.
"Mba, kita sudah sekuat tenaga menyelamatkan kedua pasien. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Salah satu pasien, memilih untuk mengorbankan nyawanya, demi menyelamatkan nyawa pasien yang lain," tutur dokter di sebelah Reinald.
"Dok, tolong kalo ngomong itu yang jelas!" seru Keanu mendekat.
"Iya, Dok. Supaya kita semua nggak salah paham, dan cepat kasih tau gimana keadaan Haruto," sambar Devano.
"Om, operasi Haruto berjalan lancar 'kan? Terus, kapan kita semua boleh jenguk dia?" tanya Gilang antusias.
Reinald menjatuhkan tangannya dari kedua bahu Clara, merunduk seraya mengusap wajahnya kasar. "Operasi Haruto dan Gavin berjalan dengan lancar, tapi Gavin mengalami kebocoran jantung, sebelum dilakukan operasi."
Mereka diam, mengamati perkataan yang Reinald lontarkan. Kemudian, Reinald mendongak dengan air mata yang sudah mengalir, menatap lemah mereka semua. "Om minta maaf, karena nggak bisa menyelamatkan nyawa keduanya."
"Sebelum operasi, Haruto meminta Om supaya mendonorkan jantungnya, buat Gavin. Awalnya, Om nggak setuju. Tapi, Haruto memaksa, dan kondisi Haruto juga sudah sangat lemah karena kehilangan banyak darah. Jadi, Om terpaksa melakukan operasi itu, supaya Gavin bisa diselamatkan. Tapi ...."
"Tapi, Haruto nggak? Itu maksud Papah?" potong Clara cepat.
"Maafin, Papah sayang. Papah, nggak punya pilihan lain, selain menyelamatkan satu nyawa di antara mereka berdua."
Kedua ranjang itu didorong ke luar, oleh dua orang perawat di masing-masing ranjangnya. Reinald dan dokter yang berdiri di ambang pintu pun menepi, supaya ranjang itu bisa ke luar dari ruangan operasi.
"Pah, kenapa Papah nggak memilih buat menyelamatkan mereka berdua. Kenapa cuman satu nyawa yang Papah selamatkan?! Dan, kenapa ...." Tubuh Clara melemas, setelah satu ranjang itu berhenti tepat di hadapannya.
"K-ke-kenapa, harus Haruto yang pergi," lirih Clara sesaat ia membuka tudung dari kain putih, yang menutup sekujur tubuh itu.
Tubuh yang sudah sangat kaku, langsung mendapatkan dekapan erat dari Clara. Tangisan mereka pecah, melihat sosok Haruto yang dikenal sebagai ketua geng Jervanos, sudah tidak bernyawa di atas ranjang tersebut.
"Haruto ... hiks, kenapa lo tinggalin gue sendirian," keluh Ajun ikut mendekap tubuhnya.
"To, lo janji buat memimpin geng Jervanos selamanya 'kan? Tapi, kenapa sekarang lo ingkar janji."