[ SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !! ]
Clara Maurine Nasution, yang memiliki catatan buruk di mata seluruh guru, serta murid SMA Bhineka Bangsa. Justru, memilih untuk berpacaran dengan Haruto Rasendra Pratama, yang dikenal pembuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Danu menghela napas sejenak, lalu mulai menceritakan semua kejadian pada masa lalu. Tepatnya, saat ia dan Clara masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dahulu, sekelompok anak yang sudah terkenal; akan kekayaan, ketenaran, serta kepintarannya. Telah menarik Clara, pada lingkaran hitam yang mengerikan.
Clara yang dulunya polos, lugu dan tidak banyak bicara. Justru, harus merasakan perjalanan pahit selama tiga tahun, menjadi murid di sekolah tersebut. Sebenarnya, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal sosok Clara lebih dalam, terutama tentang kebiasaannya yang suka tidur.
Namun, butuh waktu lama bagi Haruto; mengenal sisi lain dari Clara Maurine Nasution. Cerita yang Danu beberkan, telah melayukan bunga-bunga di hati Haruto, saat memandang paras cantik di wajah Clara. Bukan benci, melainkan sesuatu yang Haruto sesali; mengapa baru sekarang?
"Kita bicara di luar," suruh Haruto datar, lalu ke luar rumah. Disusul dengan Danu, untuk melanjutkan perbincangan itu di sana.
Danu berdeham, menepuk bahu Haruto yang tampaknya akan rapuh; seusai mendengarkan cerita itu. Sebuah perjalanan, yang dirasa berat bagi seorang Clara, akan tetapi ia mampu melewatinya seorang diri. "Maaf, karena gue bukan orang pertama yang tau tentang hal ini. Justru, gue orang terakhir yang menyakiti Clara."
"Lo nggak salah, lo berhak melakukan itu. Dan, seandainya gue sama Clara nggak berpisah selama enam tahun. Pasti Clara nggak akan melewati masa-masa sulit itu sendirian," ujar Haruto.
"Gue gakpapa, Haru." Suara parau itu terdengar dari ambang pintu, membuat Danu dan Haruto lekas berbalik.
"Ra, lo udah bangun?" tanya Haruto mendekat.
Danu ikut mendekati Clara. "Ra, gue pamit pulang dulu, ya. Jangan lupa, besok masih ada les private sama gue. Bilangin sama adik lo juga, buat mempersiapkan materi yang mau keluar di ujian."
"Lo kapan balik ke London lagi?" tanya Clara dengan bola mata berkaca-kaca.
"Satu Minggu lagi, gue di sini cuman ditugasin sama bokap lo, buat jadi guru les pengganti." Clara mengangguk. Lalu, Danu pun berlalu pergi.
Angin berembus, membuat dedaunan kering di halaman rumah berganti posisi. Begitu juga dengan posisi Haruto, yang sudah mendekap Clara. Lagi dan lagi, pelukan erat itu, telah menghangatkan hati sekaligus tubuh Clara. Tangan besar yang lunak, membelai lembut rambut panjang Clara yang bergelombang.
"Harus Danu yang kasih tau semua itu ke gue? Kalo mantan lo nggak cerita, mau sampai kapan lo memendamnya sendiri?"
"Maaf."
Clara turut menyesalinya, hingga ingatan kelam itu kembali singgah; membuat Clara berpikir. Kenapa dulu gue sebodoh itu?
"Danu, benar-benar menceritakan semuanya ke lo?" tanya Clara dibalas anggukan.
Clara sempat menjadi korban pertama bullying, pada saat SMP. Ia satu-satunya perempuan, yang menjadi domba hitam para seniornya dulu. Bahkan, teman-teman sekelasnya pun mendukung perbuatan senior-senior itu, walaupun mereka tahu kenyataanya; jika Clara bukan perempuan murahan.