[ SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !! ]
Clara Maurine Nasution, yang memiliki catatan buruk di mata seluruh guru, serta murid SMA Bhineka Bangsa. Justru, memilih untuk berpacaran dengan Haruto Rasendra Pratama, yang dikenal pembuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi hari, dengan suasana yang masih sama seperti kemarin. Tidak ada yang berubah, setelah memilih untuk pulang bersama, tetap tidak ada suara yang terdengar. Apalagi, permintaan maaf dari seorang Haruto terhadap Clara.
Namun, hari ini cukup berbeda. Tidak ada cokelat, tidak ada sikap manja, dan tidak ada tawa, terlebih lagi mereka mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sebelum bel masuk berbunyi, sebagian murid di kelas 11 IPA 2 mengerjakan tugas kimia, dengan khidmat selayaknya tengah melakukan upacara bendera.
Satu buku, yang sedang menjadi pusat perhatian tiga puluh murid di sana, telah direbut paksa oleh Clara. "Buatlah struktur rantai karbon dengan formula rumus molekul sebagai berikut ...."
Lantas, Clara terduduk di bangkunya. Sehingga, seluruh teman-teman kelasnya bersorak, dan langsung berkerumun di meja Clara dan Zoya. "Aduh, antri dong kalo mau nyontek. Ini 'kan bukunya Zoya, dan gue sahabatnya. Jadi gue yang harus pertama lihat, kalian semua harus antri sesuai nomor absen," kata Clara.
"Nggak bisa gitu dong, sebentar lagi bel masuk. Jadi, tugas kimia ini harus selesai lebih dulu," protes Gilang. Disetujui oleh mereka semua.
"Kalian semua itu 'kan punya handphone, jadi biar gue foto jawaban tugasnya. Terus gue kirim ke grup kelas, supaya kalian bisa mengerjakan tugas kimia ini di meja masing-masing," usul Clara cemerlang. Lantas, mengeluarkan handphone itu. Namun, belum sempat untuk memfoto hasil pekerjaan Zoya, bel masuk sudah lebih dulu berbunyi.
Pak Dudi selaku guru Kimia mulai memasuki ruang kelas IPA 2, sehingga para murid di sana mulai berhamburan menuju bangkunya. "Pagi, Pak!" sapa mereka serempak, sambil menyembunyikan buku tulis di laci meja.
"Pagi!" tegasnya meletakkan setumpuk buku di meja. "Silakan kumpulkan buku tulis kalian di depan," lanjutnya.
"Ah, Pak. Memangnya ada tugas, ya?" tanya Clara berpura-pura.
"Saya ini masih muda, belum pikun. Jadi saya ingat betul, kalo kemarin saya kasih kalian tugas kimia. Dan, saya juga masih ada catatannya di buku, cepat kumpulkan!" serunya membuat para murid bergidik.
Namun, tidak ada yang mengumpulkan selain Zoya. Sehingga, Pak Dudi hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Karena memang kelas IPA 2 dikenal dengan murid yang malas, terkecuali dengan Zoya. "Sekarang, kalian kerjakan uji kompetensi tiga di buku paket. Dan, Zoya kamu bisa baca-baca materi selanjutnya, tentang rumus senyawa. Kalo ada yang bingung, bisa langsung ditanyakan."
"Anjir, susah-susah banget soalnya," decak Clara menggaruk keningnya yang berkeringat.
"Mau gue bantu?" bisik Zoya sukarela, tanpa mendapat penolakan dari Clara. Diam-diam mereka berdua mengerjakan soal itu, tetapi hanya Zoya yang berpikir dan memecahkan rumusnya.
"Zoy, nomor empat apa? Yang nggak termasuk reaksi pembakaran tidak sempurna ditunjukan oleh angka?" tanya Ajun dari belakang, sehingga Zoya sedikit menoleh.