100. Happy Ending

15 4 0
                                        

"Gavin!!" panggil seorang laki-laki, dari sekumpulan anak yang sedang bermain basket di tengah lapangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gavin!!" panggil seorang laki-laki, dari sekumpulan anak yang sedang bermain basket di tengah lapangan.

"Gue lanjut main basket lagi, ya," pamit Gavin berdiri. "Jangan lupa cokelatnya dihabisin," lanjutnya kemudian berlari mendekati para teman-temannya, untuk kembali bermain basket.

Clara pun berdiri, memandang Gavin yang sedang memasukkan bola basket ke dalam ring. "Gavin!" teriaknya membuat Gavin menoleh. "Makasih cokelatnya!" seru Clara dibalas anggukan darinya. Lalu, Clara meninggalkan lapangan, untuk menikmati kelima batang cokelat di dalam kelas.

"Cokelat dari siapa?" tanya Zoya yang baru saja memasuki kelas, bersama Ajun dan yang lainnya.

"Gavin," jawab Clara sambil tetap mengunyah cokelat itu.

Zoya mengangguk, kemudian duduk di bangkunya. "Gue boleh minta satu?" tanya Zoya yang akan mengambil sebatang cokelat, yang berserakan di atas meja. Namun, tangan Clara dengan sigap langsung menghalangi tangan Zoya.

"Ternyata gampang banget, ya, buat Clara bahagia lagi," ucap Ajun yang sudah duduk di bangkunya.

"Iya, cuman tinggal kasih sebatang cokelat, pasti udah senyum kegirangan," sambar Keanu yang duduk di atas meja Clara.

"Clara, gue minta tolong dong. Bujuk adik lo supaya mau simpan nomor telepon gue," ucap Devano tiba-tiba yang berada di bangku depan Clara.

"Nggak mau, kecuali kalo lo kasih gue sepuluh batang cokelat."

Devano berdecak, "Gue nggak mau bangkrut, ya, kaya Haruto. Yang setiap hari mau diporotin sama lo, buat kasih cokelat."

Mereka semua terdiam, perkataan Devano barusan telah mengheningkan suasana kelas; yang hanya berisikan mereka saja, tanpa ada murid lain di sana. Namun, dalam seketika keheningan itu hilang, setelah Gilang memasuki kelas dengan amarahnya.

"Bereengsek!" serunya menghampiri bangku Devano, kemudian menarik kerah seragamnya. Sehingga, Devano berdiri dari duduknya.

"Lang, lo kenapa?" tanya Devano pelan, tetapi Gilang justru menatapnya dengan tajam.

"Lo bilang mau main cantik, tapi apa?! Lo udah nembak Flora duluan, itu namanya pengkhianat!" serunya.

Devano tertawa, dengan sudut bibir yang dimiringkan. "Lo marah karena itu? Denger, ya, gue cuman mau menyatakan perasaan ke dia. Bukan berarti, gue memaksa dia buat jadi milik gue. Jadi, lo tenang aja ... gue tetap akan main cantik kok."

"Basi!! Omongan lo nggak bisa gue percaya," bantahnya, membuat Keanu turun dari atas meja. Kemudian memisahkan keduanya, akan tetapi Gilang justru mendorong Keanu dengan begitu keras, sehingga ia terjatuh bersamaan dengan Devano ke bangkunya.

"Kalian berdua itu temen pengkhianat! Gue nggak bisa percaya lagi, sama omongan yang keluar dari mulut kalian."

"Lang, kenapa lo ngomong kaya gitu sih? Mereka itu temen lo loh, harusnya ...." Perkataan Ajun terhenti.

DIFFERENT to be SPECIAL || TREASURE [ REVISI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang