Double up!!
***
Pagi hari berikutnya, layar ponsel Satya berderik pelan, menandakan masuknya sebuah file baru. Begitu dibuka, data lengkap berupa riwayat pembelian online dari marketplace milik Sasmita selama tiga bulan terakhir terpampang nyata. Di sana tercatat transaksi pembelian zat kimia tertentu jenis arsenik yang identik dengan sampel arsenik pada roti Mbak Dewi. Itu adalah racun yang sama yang merenggut nyawa Yuni.
Tanpa membuang waktu, Satya meneruskan data krusial itu kepada pihak kepolisian yang menangani kasus ini. Bergerak atas dasar rekaman pengakuan dan bukti digital yang valid, aparat penegak hukum langsung menerbitkan surat perintah resmi.
Di tempat terpisah, Chandra melangkah dengan kepala tegak menuju vila tempat Sasmita tinggal. Tidak ada lagi binar kekaguman atau rasa suka di matanya. Yang ada hanya sisa-sisa amarah dan kejengkelan yang mendalam.
Chandra melangkah masuk begitu saja dan mendapati Sasmita sedang berada di ruang tengah seorang diri. Sasmita langsung melirik dengan alis bertaut sinis.
"Mau apa kamu ke sini pagi-pagi?" ketus Sasmita tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah di tangan.
Chandra tidak langsung menjawab. Dengan gerakan tenang, dia menutup pintu utama dari dalam, mengambil kuncinya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Suara klik pintu yang terkunci membuat Sasmita mendongak.
"Aku mau kita ngabisin waktu seharian ini berdua, Sasmita," jawab Chandra dengan senyum datar yang terasa mengerikan.
Sasmita bangkit berdiri, menatap mantan manajernya itu dengan jijik. "Kamu gila, ya, Chandra? Aku udah balik sama Satya. Jaga sikapmu dan tahu batasan!"
Chandra terkekeh pelan, melangkah mendekat dengan tatapan yang membuat bulu kuduk merinding.
"Batasan? Batasan apa yang kamu maksud, Sasmita? Kita bahkan pernah berbagi selimut tanpa sehelai benang pun. Dan kamu.. kamu bahkan minta lebih waktu itu."
Wajah Sasmita memucat seketika. "Stop! Jangan ngawur! Kalau sampai Satya dengar omongan sampahmu ini, dia bakal ngehajar kamu."
Chandra tertawa dingin. Sebelum Sasmita sempat bergeser, pria itu bergerak cepat, menghimpit tubuh Sasmita rapat-rapat ke dinding ruang tamu. Tangan besarnya dengan kuat mencengkeram pergelangan tangan Sasmita, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.
"Satya gak akan peduli, Mita," desis Chandra, maniknya menyala tajam penuh kebencian. "Karna cowok yang kamu agung-agungkan itu justru udah tahu semua busukmu. Dia tau gimana kamu nyingkirin orang lain demi ambisimu."
Sasmita meronta, napasnya memburu karena bingung sekaligus kesal. "Apa maksudmu?! Lepasin aku!"
Alih-alih melepaskan, cengkeraman Chandra di pergelangan tangan Sasmita beralih. Tangan besarnya kini mencengkeram kasar rahang Sasmita, memaksa wanita itu mendongak dan menatap langsung ke matanya yang kosong tanpa ampun.
Sasmita mendesis kesakitan, jemarinya mencengkeram lengan Chandra, berusaha melepaskan tekanan kuat di rahangnya. Nafas wanita itu memburu, matanya membelalak tak percaya melihat sorot mata Chandra yang sama sekali bukan lagi milik pria penurut.
"Kamu.. kamu udah gila, Chandra," cicit Sasmita tertahan di balik cengkeraman tangan yang mengunci rahangnya.
"Gila?" Chandra mengulang kata itu dengan nada rendah yang dingin, sudut bibirnya terangkat sebelah tanpa ada sisa kehangatan. "Aku cuma sedang membuka matamu, Sasmita. Bahwa selama ini, kamu cuma pion bodoh yang merasa paling pintar."
Chandra mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang langsung merontokkan sisa-sisa pertahanan Sasmita.
"Pembelian arsenik lewat akun belanja online kamu tiga bulan terakhir, rekaman pengakuanmu di pantai, sampai obat yang kamu pakai buat meracuni kakaknya Yumna... semuanya udah di tangan Satya. Dan sekarang, data itu udah ada di meja penyidik kepolisian."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
FanficBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
