91. Permohonan Caroline

11.6K 504 15
                                        

Dario memaksakan senyum di bibirnya. Setelah diberikan obat penenang tadi, Dario sedikit bisa mengontrol emosinya. Dia langsung menuju ke kamar rawat Caroline dan saat dia tiba disana, gadisnya baru saja terbangun. Dario mengecup kening Caroline dengan penuh sayang

"Xander..." Panggil Caroline

"Hm?" Dario menjawab sekenanya, bibirnya masih menempel di kening Caroline. Dia terlalu takut untuk menatap mata sang gadis

"Anak kita sudah meninggal ya?" Tanya Caroline dengan nada lirih dan tenang

Dario merasakan napasnya mulai tercekat di tenggorokannya. Matanya mulai merasa panas kembali

"Xander..."

Caroline memegang tangan Dario dan mengusapnya. Tidak dipungkiri, Caroline juga sudah menangis sekarang. Dia sedih, sangat sedih saat sesuatu yang hidup di dalam perutnya selama tiga setengah bulan terakhir kini tidak lagi ada disana. Dia merasa ada sesuatu yang hilang darinya

"Xander, aku mau kamu kasih dia nama" pinta Caroline. Caroline tahu Dario tengah menangis di atas puncak kepalanya. Dia bisa merasakannya

Caroline dan Dario terdiam dengan keadaan yang sama. Mereka menangis dalam diam. Sampai akhirnya Caroline sedikit bergeser dan memeluk pinggang Dario, menyembunyikan wajahnya di perut Dario. Tangannya menarik kemeja Dario dengan erat, tangisnya pecah begitu saja

"Maaf" akhirnya satu kata itu terdengar di telinga Caroline. Satu kata dengan nada yang begitu lirih dan sarat akan kesedihan juga penyesalan. Suara yang selalu tegas dan menenangkan itu pun kini terdengar serak dan parau

Caroline mengangguk. Dario mengulurkan tangannya, dia mendekap Caroline ke dalam pelukannya

"Maaf. Maaf Caroline, maaf" ujar Dario lagi

Caroline sedih tapi, setidaknya dia tahu kalau Dario sungguh menyayangi dirinya dan calon anak mereka. Terbukti dengan tumbangnya sosok tegas, gagah, arrogant dan sempurna dari seorang Dario. Yang terlihat olehnya kini hanyalah sosok seorang suami dan calon ayah yang tengah berkabung atas kehilangan mereka

Lama mereka terdiam dan menangis dalam posisi yang tidak berubah. Sampai mereka sedikit tenang dan bisa mengatur perasaan mereka, sampai saat dimana mereka menerima kenyataan pahit yang mereka alami. Akhirnya, Dario melepaskan pelukannya dan Caroline menariknya untuk duduk di tepi ranjangnya

"Beri dia nama, kita akan memakamkan dia dengan layak" ujar Caroline dengan senyum sendu di bibirnya. Tangannya menghapus sisa air mata di wajah Dario, dia juga memberikan kecupan singkat di pipi pria yang dia cintai ini

Dario mengangguk, tangannya terulur mengusap pipi Caroline, mencoba menghapus jejak air mata disana. Dengan perlahan Dario menghapus sisa air mata itu

"Lucas Alexandro Lucio Kostarft Dimitry" bisik Dario pada Caroline dan Caroline tersenyum

"Nama yang gagah seperti ayahnya. Lucas"

"Maaf Caroline, maaf aku terlambat" ujar Dario sambil menunduk

Caroline menangkup pipi Dario dan mengangkat wajah itu untuk menatapnya

"Bukan salahmu. Aku yang memaksamu pergi meski kamu ingin tetap di rumah. Tapi, ini sudah takdir Lucas. Mungkin Lucas belum menginginkan menjadi bagian dari keluarga kecil kita"

Dario mengangguk. "Mereka menyakitimu"

"Apa kamu akan menghukum mereka?"

Dario mengangguk lagi. Seketika senyum terbit di wajah Caroline

"Izinkan aku ikut" pinta Caroline membuat Dario terbelalak

"Sayang..."

"Please, aku hanya ingin menghukum otak dari pembunuhan putraku"

Mendengar kata 'putra' dan 'membunuh' membuat kemarahan Dario kembali naik dengan cepat. Usapan tangan Caroline di pipinya membuat dia tersadar dan segera meredam emosinya

"Bolehkan?" Tanya Caroline

Dario mengangguk. "Kalau kamu memang mau ikut, kamu harus sembuh dulu. Mereka bisa menunggu. Tapi kamu, kamu harus sehat seperti dulu"

Hati Caroline menghangat. Mendengar Dario begitu memperhatikan dirinya, membuat Caroline hatinya menghangat. Dario mencium pipi Caroline

"Dengar sayang, sweetheart. Aku akan membalas mereka lebih dari yang mereka lakukan pada kalian. Dan setelahnya aku akan meresmikanmu sebagai milikku"

Mendengar kata 'milikku' dari bibir Dario seolah menampar Caroline dengan keras. Tanpa dia sadari, dia menarik dirinya menjauh dari Dario. Sontak saja Dario mengernyit

"Ada apa sweetheart?"

"Jangan mendekat!"

"Sweetheart?"

"Jangan mendekat! Aku mohon jangan!"

Dario tidak mendengarkan ucapan Caroline, dia mendekati Caroline. Caroline terus menjauh, bahkan turun dari ranjangnya dan mencabut jarum infus di tangannya

"Sweetheart, apa yang kamu lakukan?" Tanya Dario kaget

Dario maju sementara Caroline mundur, terus begitu sampai punggung Caroline menyentuh dinding. Tentu saja Dario memanfaatkan itu untuk maju mendekati Caroline

"Jangan mendekat!!"

Dario menulikan telinganya dan terus mendekat. Caroline yang panik melemparkan vas bunga di sebelahnya ke arah Dario. Dario terdiam di tempatnya. Dia tidak mengelak dan menutup matanya saat Vas itu membentur kepalanya dan jatuh berserakan di lantai. Caroline terkejut. Dan entah kapan Dario berpindah, yang jelas kini dia mendekap erat badan Caroline

"Jangan mendekat! Aku mohon"

[KDS #2] Xander'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang