Bandara (02)

548 32 0
                                        

****FAHMI POV****

Akhirnya...
Selama satu tahun 3 bulan menjalani masa pendidikan dan magang di Jakarta...
Aku bisa kembali ke tanah kelahiranku.

Itulah isi kepalaku saat memandangi keluar jendela kapal.
Terlihat sawah nan hijau di bawah sana....
Awan putih bagaikan kapas....
Sungai yang memanjang....
Semuanya nampak jelas walaupun malam.

Namun....
Aku merasa masih punya hutang.
"Abri..."
Aku memandangi foto polaroid yang dulu aku cetak saat mengikuti study tour di SMA.
Aku yang tengah mencium kening Abri, begitu indah masa itu.
Sayang harus berakhir...
Tapi...
Aku pasti akan menemukan Abri dan menjelaskan kesalahpahaman ini.

Abri...
Tunggulah aku.

.
.
.

****ABRI POV****

"Enak tidak?"
Tanya kak Isman.

"Enak, Baksonya beda dari tempat lain!"
Kataku sambil terus mengunyah.

"Hehe, pilihan saya memang tidak pernah salah, oh iya bri...."

"Tidak kak..."

"Yehh siapa yang mau nembak"

"Kan kak Isman kalau sudah bilang oh iya bri pasti ujung-ujungnya bilang mau serius sama aku"

"Hehe kali ini lain dek"

"Ya sudah apa...."

"Begini...., saya mau tanya.. Jika seandainya Fahmi kembali dan mencarimu...., kamu akan apa?"

"Eh! Soal jawabanku waktu kak Isman nembak dulu..."

"Nah kan mengalihkan lagi...., serius ini"

"Iya...."

"Jadi bagaimana?"

"Ya mau bagaimana?"

"Yahhh..., kamu senang kah?, atau antusias mungkin...."

"Senang sih..., dia balik..., tapi tidak sampai antusias juga, lagipula berharap sama yang tidak pasti itu ujung-ujungnya cuma bikin sakit"

"Iya benar.., eh! Nginap di rumah kakak mau?"

"Maaf kak, masih ada cucian di kontrakan"

"Hufff ya sudah..., baru mau cudlelan"

"Apa?"

"Hehe bukan apa-apa..."

.
.
.

Bandara...

****FAHMI POV****

Akhirnya sampai juga...
Setelah mengalami 3 kali penundaan jadwak terbang, tapi aku berhasil sampai di tanah kelahiranku, Sulawesi Selatan.

"Tapi.... Ga di jemput nih?"
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapapun sanak saudaraku yang datang menjemputku.
"Masa pulang naik taksi!, ahhh ini bukan spesial namanya.... Sepi Sial!"

"Mi!"
Seseorang dengan seragam polisi menghampiriku.
Aku berusaha mengenali orang ini....
"Wandi?"

"Hehe iya"
Aku langsung memeluk Wandi.

"Sialan kau!!!! Ku pikir kau juga magang di Jakarta! Pas sampai di sana aku mencarimu ternyata kau di tempat lain!!!!!"

"Haha maaf mi...., oh iya orang tuamu tidak bisa menjemputmu jadi ayahmu memintaku menjemputmu habis dari kantor"

"Ohh begitu..."

"Lanjut di mobil saja mi, sini kopermu biar aku bantu bawa"
Wandi mengangkat salah satu koperku dan mengajakku ke mobilnya.

Kamipun meninggalkan bandara dan segera pergi ke rumahku.
Rumah yang sudah sangat aku rindukan.

"Wan..."

"Hmm..."
Wandi tetap fokus menyetir mobil.

"Kau tahu sesuatu tentang Abri?"
Tanyaku penasaran.

"Abri?, aku dengar-dengar kalau dia sekarang jadi penjaga lapas"

"Penjaga lapas?!, dia tidak mendaftar TNI?"

Wandi menggelengkan kepalanya.
"Tidak mi, tapi..... Maaf ya mi, sebenarnya ada apa denganmu dan Abri dulu?"

"Hanya salahpaham saja wan, aku mau menjelaskan semuanya pada Abri sekarang"

"Kau masih mencintainya?"

"Sangat, aku tidak pernah bisa melupakan Abri, bahkan dengan kesibukan di asrama aku tidak bisa lepas dari bayangannya"

"Sabar saja, hanya saja tidak ada yang tahu di lapas mana Abri bertugas sekarang"

"Maksudnya?"

"Abri merahasiakannya dari yang lain kecuali keluarganya"

Apa mungkin Abri melakukan itu agar aku tidak bisa menemukannya?
Sampai melakukan itu...
Maaf bri.
Sepertinya aku terlalu dalam menusukmu dulu.

.
.
.
.

****ABRI POV****

Aku di antar pulang oleh kak Isman.
Ya memang tadi dia juga yang menjemputku hehe.

"Pegangan dong"
Pinta kak Isman.

"Sudah"

"Mana?"

"Ini, di stang belakang hehe"

"Yehh bukan di situ"

"Terus?, di pinggang kakak?"

"Hehe, itu tahu"

.
.

Kami sampai di rumah kontrakanku.
Kak Isman memarkirkan motornya di halaman depan lalu mematikan mesinnya.

"Masuk kak?"
Tawarku.

"Ganggu ga nih?, katanya tadi mau push rank?"

"Tidak kok"

"Ya sudah"
Kak Isman turun dari motornya dan ikut masuk kedalam rumah.

Saat masuk, kak Isman memandangi seisi rumah sambil tersenyum.
"Bersih"
Ucapnya.

"Hehe, kebetulan saja.... Biasanya kayak kapal pecah, ayo kak duduk dulu"

"Iya dek"
Kak Isman lalu duduk di sofa.
"Duduk sini juga"
Kak Isman memanggilku duduk di dekatnya.

"Bentar ya kak, aku bikin minum dulu"

"Ettt tidak usah!!!"

"Untukku..., hehe"

"Ohh, ya sudah kakak juga nitip teh kalau gitu"

"Siap..."
Akupun masuk ke dapur.

*****

Sabar....

Jangan lupa vote ;)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang