Kemudian....
Untung saja...
Kantor mengerti keadaanku dan hanya memberikanku tugas dari rumah saja.
Mengurus 1 anak mungkin memang melelahkan.
Tapi Army... Dan sudah seminggu aku juga mengurus Aden.
Ibu dan Ayah serta mertuaku juga sudah tahu soal Aden, mereka hanya memberi saran untuk tetap fokus bekerja dan jangan sampai sakit.
"baik pak, jam 2 nanti filenya akan saya kirim, isinya itu selain nama warga binaan juga ada kasus yang mereka perbuat"
Kataku pada pak Jamal.
Aku harus tetap bekerja.
Aku sekarang mengurus dua anak...
Tiap aku berbalik dari hadapan komputer yang membuatku lelah...
Hatiku rasa tentram dengan melihat ke tempat tidur bayi itu.
Army anakku...
Tidak...
Army dan Aden anakku...
Mereka adalah penyemangatku dalam menjalani hari yang melelahkan ini.
.
.
Sore tiba...
Semua tugas dari kantor sudah aku selesaikan.
Aku segera bangkit dari kursi meja kerja ini dan menghampiri kedua bayi yang selalu tenang dari pagi.
Aku tersenyum memandangi mereka...
"cepat besar... Jagoan-jagoan ayah..."
Ucapku.
Aku lalu mengganti popok keduanya.
Memberi susu...
Dan tak lupa mengoleskan baby oil agar mereka tidak kedinginan.
Setelah itu....
Akhirnya aku bisa tenang.
Tok tok tok...
"kalau kau Fahmi langsung saja masuk!"
Sahutku pada orang yang barusan mengetuk pintu.
Dan benar saja, itu memang Fahmi.
Dia langsung masuk dan menghampiriku.
"bri?, capek ya?"
"tidak...., kau sudah makan?, ada makanan di atas me..."
"bri, ada sesuatu...."
Wajah Fahmi terlihat ingin mengatakan sesuatu padaku.
"apa?"
Tanyaku serius.
"itu.... Kau tidak perlu capek lagi sekarang, pihak panti akan menjemput Aden"
"oh... Hahaha tidak perlu mi, aku yang akan merawatnya"
"tidak, kau cukup merawat anakmu saja Army"
"tidak mi, aku bisa merawat Aden juga"
"jadi kau tidak akan melepaskan Aden?"
Raut wajahnya jadi makin serius...
"mi..., ada apa?"
Dia tidak menjawabku dan langsung memelukku dengan erat.
"mi! Ada apa ini?!"
"Wan!!!!"
Fahmi berteriak.
Wandi, Yuli dan seorang wanita lagi masuk ke rumahku.
"ambil bayinya sekarang"
"ap...apa?, LEPASKAN AKU MI!!!!!"
Aku berusaha melepaskan diri dari Fahmi, namun Fahmi langsung menjatuhkan dirinya berserta aku ke lantai dan mengunciku.
"mi! Mi kumohon jangan lakukan ini!"
Aku memelas pada Fahmi, tapi dia malah menutup matanya dan memalingkan wajahnya.
"mi.... WAN! WANDI!"
Aku lalu berteriak pada Wandi.
Dia sama saja, tidak mempedulikan aku.
Wanita yang tidak aku kenali itu sudah menggendong Aden dan hendak membawanya pergi!
Aku langsung menangis.
Aku tidak ingin di pisahkan dengan bayi itu!
Dia sudah menjadi bagian dariku.
"FAHMI BANGSAT LEPASKAN AKU!!!!!!!!!!!!"
Aku semakin meronta.
Sementara itu Wandi,Yuli dan wanita itu sudah keluar dari rumah membawa Aden.
Fahmi tiba-tiba melepaskanku dan aku langsung berlari keluar rumah mengejar mereka.
"WANDI!!!!! YULI!!!! JANGAN BAWA DIA!"
Teriakku.
Sayang sekali, mereka sudah naik ke mobil polisi.
Aku terus menangis dan berusaha mengetuk kaca jendela mobil itu.
"wan! Wan buka! Jangan bawa Aden pergi! Wan!!!!!"
Mobil itupun mulai berjalan.
Aku dengan sekuat tenaga mengejarnya.
"bri!"
Sialnya lagi Fahmi malah memelukku lagi dari belakang.
"LEPASKAN AKU! KAU!!!!!!!!, hiks.. Hiks.... Kau sialan! Bangsat! Kau benar-benar...."
Tangisku semakin menjadi jadi.
Maksudku orang tua mana yang ingin di pisahkan dari anaknya?
"kau jahat mi!.... Hiks... Aden... Haaaaaaaaaaaaaaa...."
Aku memukul mukul dada Fahmi.
"ma..maaf bri, ini yang terbaik"
"terbaik?"
Aku langsung menarik bajunya.
"ini yang terburuk!, kau... Kau sudah memisahkanku dengan anakku!"
"DIA BUKAN ANAKMU BRI!"
Teriak Fahmi.
Aku langsung terdiam...
Benar...
Aden...
Aden bukanlah anakku.
"kau benar... Hehe hehe dia bukan anakku, Dan kau juga bukan siapa-siapaku lagi!"
"bri?"
"kau ingat pertanyaanmu waktu itu?, jawabanku tidak!, aku tidak sudi kembali bersamamu!"
"bri jangan bilang begitu..."
"kau masih belum puas menghancurkanku?!, kalau begitu bawa Army juga lalu bunuh aku kalau perlu!"
"bri aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu, aku........"
"aku...hiks...hiks... Aku hanya ingin Army tidak kesepian...... hiks..... Army sudah tidak bisa lagi mendapatkan perhatian dari ibunya"
****FAHMI POV****
Bodoh...
Kenapa aku baru sadar?
Abri menginginkan Aden agar Army bisa memiliki saudara.
Tapi aku dengan bodohnya memisahkan mereka.
"bri, oke... Berhenti menangis, aku akan menjemput Aden untukmu"
*****
Kemarin tidak ada update soalnya otak author lagi ngeblank.
Jadi jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomanceHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
